6 kualifikasi penting yang harus dimiliki calon pengasuh untuk buah hati Anda

Memilih pengasuh sepertinya hampir sama sulitnya dengan memilih jodoh, bagi ibu-ibu. Setuju? Pertimbangan dari berbagai aspek harus dinilai, sebab, yang dititipkan adalah buah hati sendiri.

145 views   |   1 shares
  • Galau dan serba khawatir, biasanya dialami oleh orangtua yang baru saja habis masa cutinya dan harus menitipkan anak pada pengasuh atau daycare. Biasanya sih, karena belum terbentuk rasa percaya pada orang yang akan dititipkan.

  • Kekhawatiran ini wajar, dan justru harus dialami orangtua. Karena dengan dasar khawatir ini, orangtua akan melakukan segalanya, mengerahkan tenaga dan waktu untuk melakukan proses seleksi. Kita, orangtua, wajib memastikan bahwa anak-anak diasuh oleh orang yang menyayangi dan mendidiknya secara fisik juga emosional.

  • Menurut Tammy Gold, Parenting coach dari AS; kita juga wajib memahami benar seluk beluk perkembangan anak, untuk memastikan bahwa setiap hari, saat kita bekerja, anak-anak bisa mendapatkan berbagai pengalaman dan pembelajaran yang sesuai tahapan usia dan karakternya. Anak-anak harus menikmati hari-harinya, dan berbahagia. Tak hanya pertumbuhan kognitif, dan emosi, namun juga kesehatan dan kecukupan gizi.

  • Nah, untuk itu, Devi Sani M.Psi, Psikolog anak dari Klinik Rainbow Castle pernah menjabarkan ciri-ciri pengasuh yang baik untuk anak. Ya, tak hanya pengasuh di rumah, namun juga pengasuh di daycare:

  • 1. Seseorang yang respect

  • , artinya:

    • Ia menerima apa adanya, mencintai, dan menikmati keberadaan anak yang diasuhnya.

    • Ia bisa memperlakukan anak seperti memperlakukan tamu kehormatan, bukan hanya sebagai anak kecil yang harus diberi makan.

    • Ia mampu membiarkan anak menjadi dirinya sendiri tanpa membanding-bandingkan dengan anak lain.

  • 2. Seseorang yang memberi kebebasan bereksplorasi

  • , artinya:

    • Ingatlah bahwa anak punya kepentingan yang berbeda dengan orang dewasa. Maka pengasuh yang baik tak perlu terlalu sibuk meminta anak melakukan ini itu. Biarkan saja saatnya mereka harus menjelajah.

    • Namun tetap harus ada aturan. Terutama anak tak boleh menyakiti satu sama lain.

    • Dan tetap harus ada pengawasan dari orang dewasa.

  • 3. Seseorang yang menjadikan bayi partisipan aktif

  • , artinya:

    • Ia menganggap bayi sebagai sosok yang bisa diajak bekerja sama. Jadi ia tak akan memperlakukan bayi seperti makhluk yang tak mengerti apa-apa. Ia akan berkomunikasi, bicara, dan bercerita pada bayi yang mungkin hanya akan memandanginya.

    • Maka, sebagai caregivers, tujuan utama adalah untuk meminta bayi agar berpartisipasi aktif. Contohnya: Saat memakaikan popok kita bisa bicara dengan bayi sambil meminta kerjasamanya, walaupun ia belum mengerti.

  • Advertisement
  • 4. Seseorang yang terus melakukan observasi

  • , artinya:

    • Ia kerap mengobservasi bayi saat bermain. Artinya, tidak selalu ngotot meminta bayi memainkan yang diberikan. Ia mampu memerhatikan bayi bermain sendiri, dengan seksama sehingga membuatnya lebih mengenal si bayi.

    • Termasuk di dalamnya: Apa kesukaannya, apa yang ia tidak suka.

  • 5. Seseorang yang konsisten

  • , artinya:

    • Peraturan tetaplah peraturan.

    • Hal ini menjadi penting, sebab; peraturan membuat anak merasa aman, anak jadi tahu perilaku apa yang diharapkan. Rutinitas yang teratur membantu anak jadi disiplin.

  • 6. Seseorang yang mengenal dirinya sendiri

    • Ia bisa memerhatikan kebahagiaan diri sendiri, artinya: Tahu kapan merasa stres dan cara mengatasinya.

    • Ia pun menyadari bahwa dirinya tak bisa menggantikan peran orang tua.

  • Ciri-ciri ini, tambah Devi, tentunya dapat diajarkan dan disupervisi setiap saat oleh orangtua. Jika si pengasuh memang memiliki kompetensi, maka lambat laun ia akan mampu menyesuaikan dan melakukan yang terbaik.

  • Mengenai hal ini, Tammy pun pernah menuliskan artikel di laman time. Menurutnya, menjadi pengasuh adalah salah satu tugas paling penting di dunia. Sayangnya, sedikit sekali orangtua yang memberikan training dan penjelasan spesifik mengenai anaknya. Sebab, tak peduli jika ia pernah mengasuh anak selama 20 tahun lamanya, ingatlah, ia belum pernah mengasuh anak Anda.

  • Inilah mengapa, kata Tammy, orangtua penting sekali untuk berkomunikasi dengan pengasuh dalam setiap langkah yang dibuat, setiap saat. Sebab, setiap anak unik dan berbeda. Cara menyikapi masalah yang terjadi pun harus spesifik. Maka, spesifik-an juga yang akan dibahas dengan pengasuh:

    1. Apa yang Anda butuhkan dari pengasuh

    2. Apa yang Anda butuhkan untuk anak-anak

    3. Apa yang Anda butuhkan untuk diri sendiri

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

6 kualifikasi penting yang harus dimiliki calon pengasuh untuk buah hati Anda

Memilih pengasuh sepertinya hampir sama sulitnya dengan memilih jodoh, bagi ibu-ibu. Setuju? Pertimbangan dari berbagai aspek harus dinilai, sebab, yang dititipkan adalah buah hati sendiri.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr