Memarahi atau memerintah anak untuk berhenti menangis? Efektifkah?

Kebanyakan orangtua seringkali melakukan ini meski tahu sesungguhnya sia-sia. Apa sih?

439 views   |   5 shares
  • Mengurus anak, di usia berapa pun, bukan pekerjaan mudah. Jika ia mulai besar dan senang mengeksplorasi, maka orangtua akan menghadapi tantangan pegal-pegal mendampinginya. Sementara, saat anak masih bayi dan belum bisa bicara, tantangan terbesar yang harus dihadapi orangtua adalah; menerjemahkan tangisan. Setuju?

  • Di saat seperti inilah, biasanya setiap orangtua berharap anak lahir lengkap dengan buku petunjuk penggunaan, bukan? Karena kita selalu kesulitan mencari tahu, apa arti tangisannya, dan harus melakukan apa saat ia menangis. Karena itu, banyak orangtua yang akhirnya menyerah dan meminta anak untuk diam lalu berhenti menangis. Tak jarang yang akhirnya naik pitam.

  • Menurut psikolog anak, Devi Sani M.Psi, Psikolog, dari Klinik Rainbow Castle, menangis adalah bahasa bayi. Jadi hal penting yang harus diingat oleh orangtua adalah; setiap anak yang sehat pasti menangis. Ini adalah cara bayi mengekpresikan perasaannya dan ia harus diperbolehkan untuk menangis. Jadi, daripada menghentikan tangisan anak dengan mengalihkan perhatian, lebih baik kita mencari tahu mengapa ia menangis.

  • Menangis bayi, ujarnya, berbeda dengan menangis orang dewasa. Bagi bayi, menangis lebih untuk ekspresi diri atau untuk menghabiskan tenaganya. Oleh karena itu, dari pada mencoba mendiamkan bayi saat menangis, lebih baik mengatakan: "kenapa? Iya mama dengar kamu nangis" atau "Dede mau apa? Mau makan?"

  • Tahukah Anda? Sebagai orang dewasa memang biasanya sangat risi mendengar anak menangis, dan pada akhirnya bereaksi berlebihan kalau mendengar anak menangis, ya kan? Mengapa sih sebetulnya? Karena terkadang tangisan anak membuat kita ingat akan pengalaman yang menyakitkan.

  • Tetapi, jika kita belajar menikmati tangisan bayi dan mendengarkannya, seiring berjalannya waktu, kita akan membangun toleransi akan tangisan bayi dan paham kenapa bayi menangis. Jika kita menyuruhnya diam maka sama saja kita mengatakan pada bayi: "Jangan ngomong, saya gak tertarik sama apa yang kamu bicarakan" atau "Jangan ceritain ke saya apa yang kamu rasain". Duh sedih ya?

  • Berdasarkan penelitian, menangis merupakan cara kita untuk menyembuhkan diri. Dengan menangis, tubuh berubah setelah menangis. Tubuh menjadi berkurang ketegangan dan lebih rileks, istilahnya "A good cry".

  • Namun, mendengarkan bayi menangis bukan berarti membiarkannya menangis sendirian, lho. Anggapan bahwa bayi memang perlu menangis supaya jantung dan paru-parunya lebih kuat, juga tidak bisa dibenarkan. Menurut William Sears, M.D., membiarkan bayi menangis sendirian, selain berakibat buruk pada bayi, juga membuat orangtua melawan intuisi dasar yang ia miliki untuk segera merespons tangis. Jika dibiarkan, lama-kelamaan orangtua bisa menjadi tidak peka terhadap 'bahasa' yang diberikan oleh bayinya.

  • Advertisement
  • Menurut Sears, ketika bayi menangis, secara biologis tangisan itu akan memengaruhi tubuh orangtua dan menimbulkan emosi yang sangat kuat untuk segera bertindak. Secara naluriah, orangtua akan bergegas mencari tahu apa yang terjadi, atau apa yang dibutuhkan bayinya. Sesuatu yang alamiah ini sebaiknya tidak diabaikan, karena itu sama artinya dengan mengabaikan kebutuhan anak. Jangan heran jika suatu saat nanti kita justru akan terpaksa menghadapi 'pemberontakan' anak akibat perasaan tidak dipedulikan.

  • Lalu bagaimana? "Sebaiknya, dengarkanlah suara hati Anda," saran Dr. Sears. Bila Anda merasa perlu bergegas menanggapi tangisan bayi karena ia memang membutuhkan sesuatu yang mendesak, lakukan segera! Sebaliknya, Anda boleh menunda sebentar 'panggilan' si kecil jika Anda tahu sebenarnya ia baik-baik saja.

  • Sementara, menurut Devi, cara efektif bereaksi terhadap tangisan:

    • Menghadapi dengan lembut dan tenang

    • Perlahan dan katakan "Dede nangis, kenapa?"

    • Cek kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi atau belum (popok, makan, minum, baju yang enak, suhu udara, dll)

    • Kalau sudah semua, bisa mulai menggendong bayi perlahan

    • Bicara dengan nada lembut tanpa mengayun terlalu kencang

  • Nah, banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk membuat bayi lebih tenang dan teralih dari tangisannya bukan? Jadi, berhentilah memerintahkan anak untuk segera berhenti menangis, karena pasti sia-sia.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Memarahi atau memerintah anak untuk berhenti menangis? Efektifkah?

Kebanyakan orangtua seringkali melakukan ini meski tahu sesungguhnya sia-sia. Apa sih?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr