Cerdas mengonsumsi obat-obatan dengan strategi 'swamedikasi'. Apa itu?

Melakukan pengobatan mandiri dalam keluarga, ternyata tidak bisa sembarangan. Salah-salah, obat malah menjadi racun yang berbahaya!

177 views   |   shares
  • Kala Anda atau anggota keluarga sedang tidak fit atau mengalami sakit ringan, tindakan pertama yang lumrah dilakukan adalah melakukan pengobatan mandiri. Pengobatan mandiri atau dikenal dengan istilah swamedikasi, adalah upaya penanganan gejala dan/atau penyebab penyakit ringan, sebelum Anda memeriksakannya ke tenaga kesehatan profesional. Beberapa penyakit ringan populer yang biasa diatasi dengan swamedikasi, antara lain batuk, pilek, demam, sakit kepala (pusing), diare, sembelit, perut kembung, maag, gatal-gatal, infeksi jamur pada kulit, dan lain-lain.

  • Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, upaya swamedikasi semakin luas dilakukan. Sayangnya, arus informasi yang begitu luas, seringkali tidak diimbangi dengan filter yang sesuai. Akibatnya, banyak upaya swamedikasi dilakukan secara sembarangan, tidak bertanggung jawab, dan pada akhirnya menghasilkan rasio risiko yang lebih besar ketimbang manfaat.|

  • Untuk mendapatkan manfaat optimal dari swamedikasi Anda dan keluarga, ikuti 6 langkah ini dengan baik.

  • 1. Ketahui golongan obat

  • Untuk swamedikasi, obat-obatan yang dapat digunakan adalah obat bebas dan obat bebas terbatas. Sedangkan, khusus obat keras, narkotika, dan psikotropika, Anda perlu datang ke tenaga kesehatan profesional untuk mendapatkannya melalui pemeriksaan dan peresepan obat. Hindari menggunakan obat keras, seperti antibiotika dan obat penyakit dalam, tanpa petunjuk dokter. Obat keras memiliki efek samping yang lebih berbahaya dan penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter karena faktor risiko tersebut. Anda dapat mengetahui golongan obat dari logo yang tertera pada kemasan obat.

  • 2. Kenali gejala dan kondisi tubuh

  • Gejala-gejala penyakit ringan menjadi pertanda jenis dan waktu pengobatan yang tepat. Anda dapat menentukan dari tingkat keparahan gejala, kapan Anda dapat mulai mengonsumsi obat atau mencoba dulu pendekatan tanpa obat. Misalnya, untuk demam, Anda memutuskan untuk memberikan obat demam saat suhu mencapai 39 derajat Celsius untuk memberikan kesempatan kepada tubuh melakukan perlawanan dahulu terhadap bakteri atau virus penyebab sakit. Contoh lain, saat batuk, Anda perlu mengetahui apakah jenis batuk tersebut berdahak atau kering, guna mendapatkan pengobatan yang tepat sasaran. Selain gejala, Anda juga perlu mengetahui kondisi tubuh Anda di luar penyakit yang sedang Anda coba obati. Kondisi-kondisi khusus memerlukan penanganan khusus pula, dengan mempertimbangkan efek samping dan interaksi obat yang akan terjadi di dalam tubuh Anda. Kondisi-kondisi ini antara lain kehamilan, ibu menyusui, penyakit bawaan, alergi, otoimun, penyakit degeneratif (diabetes, hiperkolesterolemia, hipertensi, dan sebagainya). Kaitkan kondisi ini dengan efek samping dan kontraindikasi yang dapat Anda temukan informasinya pada brosur atau kemasan obat.

  • Advertisement
  • 3. Dapatkan obat di tempat yang sesuai

  • Obat bebas dan obat bebas terbatas yang diperbolehkan dalam swamedikasi bisa Anda dapatkan di beberapa tempat seperti apotek, toko obat, pasar swalayan atau ritel modern lainnya, hingga tersedia secara daring di dunia maya. Catatan penting untuk Anda adalah memerhatikan tempat penjualan, apakah legal, aman, sesuai aturan, dan menjual obat berkualitas baik. Sangat disarankan Anda membeli obat langsung di apotek. Di sini, Anda dapat berkonsultasi dengan apoteker yang ada dan mendapatkan informasi obat yang lebih akurat, ketimbang Anda hanya berbekal hasil berselancar di dunia maya sendiri.

  • 4. Cermati obat yang Anda pilih

  • Biasakan untuk mengenal obat yang Anda pilih. Caranya, bacalah secara seksama label dan brosur informasi obat. Keterangan-keterangan yang patut Anda cermati adalah :

    • Zat aktif obat tersebut, Anda dapat mencari informasi mengenai kegunaan masing-masing zat aktif dan efeknya pada tubuh Anda

    • Komposisi bahan penyusun obat (termasuk bahan tambahan, dimana rawan memberikan reaksi alergi)

    • Indikasi dan tujuan penggunaan obat

    • Efek samping, kontraindikasi (kondisi dimana obat tidak boleh atau dilarang digunakan), dan perhatian

    • Dosis dan petunjuk pemakaian

    • Cara penyimpanan dan tanggal kadaluarsa

  • Banyak orang yang menyepelekan kebiasaan untuk membaca dan memahami informasi obat yang ada di dalam kemasan. Memang, bahasa yang digunakan mungkin ada yang asing bagi Anda. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk Anda bertanya kepada apoteker untuk mendapatkan penjelasan mengenai obat yang Anda konsumsi ini.

  • 5. Gunakan obat secara tepat

  • Obat dan racun berbeda tipis, hanya dibedakan dari ketepatan cara penggunaan. Obat akan berbahaya saat Anda menggunakannya tidak sesuai aturan, baik jumlah maupun caranya. Dengan berbagai jenis sediaan, Anda perlu mengetahui bagaimana cara pemakaian obat yang tepat, mulai dari rute pemakaian (minum, oles, tetes, dan sebagainya), waktu pemakaian (frekuensi, pagi/siang/malam, kondisi pencernaan apakah sebelum atau sesudah makan), dan jeda waktu antar dosis. Selain penggunaan, cara penyimpanan obat juga sangat vital dalam swamedikasi keluarga. Sediakan tempat khusus penyimpanan sesuai petunjuk (tempat sejuk, di dalam lemari es). Sebuah wadah tertutup rapat menjadi pilihan yang tepat dan jauhkan dari jangkauan anak-anak. Periksa selalu tanggal kadaluarsa obat dan segera buang obat yang sudah mendekati masa kadaluarsa.

  • Advertisement
  • Beberapa trik yang dapat Anda lakukan :

    • Melakukan penjadwalan minum obat, bisa dengan memanfaatkan alarm di ponsel Anda

    • Memisahkan obat-obatan keluarga berdasarkan jenis dan penggunanya, misalnya bentuk sediaan, untuk anak atau dewasa, obat non resep dan obat resep.

    • Melabeli obat dengan tanggal pembukaan kemasan pertama kali

    • Menuliskan daftar obat yang ada dan indikasi penggunaan

  • 6. Rekamlah jejak swamedikasi Anda

  • Pengawasan dan pengendalian adalah langkah yang kerap terlupakan. Obat pada dasarnya adalah bahan kimia yang (suka atau tidak suka) memilliki efek samping bagi tubuh Anda. Anda perlu mengetahui jelas obat-obat yang telah Anda konsumsi dan efeknya bagi Anda. Adakah yang memberikan efek negatif bagi kesehatan? Alergi obat biasanya ditemukan dari pengalaman, selain histori keluarga. Di sinilah Anda dapat mengetahui umpan balik dari upaya swamedikasi Anda. Apakah swamedikasi Anda berjalan efektif atau Anda perlu segera menyerahkan masalah kesehatan Anda kepada dokter terpercaya.

  • Strategi swamedikasi yang tepat dan bertanggung jawab akan mendatangkan banyak manfaat bagi para keluarga dan masyarakat luas. Jadilah pasien yang cerdas dan cermat, dengan bijaksana menggunakan obat sesuai aturannya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Cerdas mengonsumsi obat-obatan dengan strategi 'swamedikasi'. Apa itu?

Melakukan pengobatan mandiri dalam keluarga, ternyata tidak bisa sembarangan. Salah-salah, obat malah menjadi racun yang berbahaya!
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr