Stop merekam dan mengambil foto! Lho, kenapa?

Mengambil gambar, merekam video, adalah kegiatan yang bagi saya menyenangkan. Apalagi jika dibuka di kemudian hari. Namun ternyata tidak selalu menyenangkan buat anggota keluarga lainnya.

842 views   |   5 shares
  • Beberapa waktu lalu, saya ikut serta dalam kegiatan bermain bersama anak dan beberapa orangtua lainnya. Sebetulnya, kegiatan ini seru sekali untuk mempererat hubungan antara anak dan orangtua, yang kini kerap terkikis karena kesibukan bekerja dan sebagainya. Saya sih menikmati sekali membuat prakarya, dan berlari-lari memainkan prakarya tersebut.

  • Namun apa yang terjadi saat saya melihat sekeliling? Kebanyakan dari ibu yang turut serta dalam acara ternyata tidak sedang sibuk bermain bersama anak. Mereka sibuk mengambil gambar. Apalagi ditambah dengan fitur-fitur live video dari berbagai media sosial yang kini sedang tren, lalu postingan foto saat anak memerlihatkan kelucuan serta keluguannya bermain.

  • Iya, lucu memang. Rasanya juga senang jika linimasa media sosial dipenuhi wajah-wajah menggemaskan itu, ketimbang cuitan rasa politik yang sarat akan isu perpecahan. Namun, menjadi amat disayangkan, jika karena sibuk mengambil gambar itu, momen yang harusnya menjadi saat-saat membentuk koneksi antara anak dengan orangtuanya hilang begitu saja.

  • Saya tidak sibuk dengan kamera atau telepon pintar saat itu, sebab sudah pernah mengalami. Beberapa bulan lalu, saya sempat berjalan-jalan dengan suami dan anak ke pulau Komodo dan berbagai pulau di sekitarnya. Kami tidak punya waktu lama, sebab memang ada keterbatasan waktu cuti. Namun waktu itu sengaja kami sempilkan di sela kesibukan, sebab putra kami berulang tahun. Dan jalan-jalan adalah cara kami merayakannya.

  • Pemandangan Flores, baik tampilan permukaan maupun di bawah laut amatlah menakjubkan. Sungguh. Begitu banyak hal yang bisa dinikmati dan disajikan Tuhan dengan cantiknya. Namun apa yang saya lakukan saat itu? Ya, mengabadikan momen.

  • Saya membawa kamera lengkap dengan lensa lebar, lensa panjang, juga perekam video. Sibuk sekali saya mencari sudut sini, sudut sana, untuk mendapatkan hasil foto-foto yang indah dan memukau. Sampai akhirnya saya sadar. Saya bahkan tidak sempat duduk di dek perahu sambil mengobrol dengan suami dan anak saya.

  • Saya bahkan makan siang ikan laut segar yang tidak bisa dinikmati di Jakarta itu, sambil terburu-buru, karena takut kehilangan momen. Saya bahkan tidak ingat untuk mengajak keluarga kecil milik saya satu-satunya itu berfoto bersama, karena terlalu sibuk mengamati pencahayaan yang pas untuk mendapatkan pantulan di lubang kait layar, demi sebuah foto.

  • Foto yang sebetulnya bisa kita dapatkan dalam jumlah banyak di internet, hasil jepretan fotografer yang lebih handal dari saya, dan memang pergi ke situ untuk bekerja; memotret. Bukan untuk mengajak anaknya merayakan ulang tahun. Bukan untuk bercanda tawa dan menikmati hembusan angin di pinggir kapal. Bukan untuk berjalan bersama mengelilingi pulau besar berisi hewan dari zaman dinosaurus, sambil bercengkrama.

  • Advertisement
  • Sedih sekali, sebab saya baru menyadarinya di hari kedua. Untung saja hari itu, kami masih punya momen menyelam, yang akhirnya membuat saya meninggalkan seluruh kamera, hingga ponsel di dalam tas, dan menikmati penyelaman bersama ikan manta dan keluarga saya dengan sepenuh hati dan jiwa. Iya, di situ saya sadar, kalau saya ingin hunting foto, sebaiknya saya pergi sendirian atau bersama dengan kawan-kawan yang memang punya tujuan sama.

  • Bukan dengan suami dan anak, yang harusnya saya sibuk tergelak bermain air, berenang dan membangun istana pasir bersama. Saya kehilangan momen itu di ingatan saya, karena yang ada di kepala hanya mendapatkan foto dan video indah untuk kemudian 'dipamerkan' di blog, media sosial maupun kepada orang lain.

  • Salah kaprah. Iya, seperti juga hilangnya gereget konser karena semua sibuk mengambil gambar dengan ponselnya. Seperti juga hilangnya momen menghitung mundur di tahun baru, sebab semua orang ingin memotret buyarnya warna warni kembang api di angkasa, padahal waktu itu bisa dipergunakan untuk berpelukan bersama orang tersayang sambil berdoa. Iya, seperti juga jawaban "Tidak tahu" saat orang menanyakan soal sejarah sebuah monumen yang kita sibuk mengambil foto diri atau foto keindahan lainnya, tanpa sempat membaca keterangan bersejarah yang harusnya membuat kita bertambah pengetahuan.

  • Hal itu yang kemudian saya rasakan saat melihat para ibu di acara bersama anak-anak itu malah sibuk berteriak "Adeeee liat ibu dong sini!" kemudian menatapi hasil fotonya dan merengut marah sambil komentar "Sebentar dong. Ibu lagi upload," saat si kecil meminta dirinya menikmati permainan bersama.

  • Ah, iya, media sosial menuntut kita agar tetap eksis. Media sosial, bahkan memberikan kita pemasukan tambahan saat bertugas untuk memberikan review dari sebuah acara. Media sosial, memiliki tekanannya sendiri agar kita semua terlihat sempurna. Padahal di balik gemasnya senyum si kecil saat itu, ada sebuah momen yang hilang, dan ada sebuah koneksi yang terputus.

  • Saya pernah mengalaminya, dan tidak ingin mengulangi lagi. Bagaimana dengan Anda?

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Stop merekam dan mengambil foto! Lho, kenapa?

Mengambil gambar, merekam video, adalah kegiatan yang bagi saya menyenangkan. Apalagi jika dibuka di kemudian hari. Namun ternyata tidak selalu menyenangkan buat anggota keluarga lainnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr