Yang perlu Anda tahu soal si kecil yang gemar mengisap jempol

Kebiasaan mengisap jempol pada anak, adalah hal yang sebetulnya biasa dialami anak-anak. Namun ternyata kebiasaan ini tidak selalu baik, karena banyak hal negatif yang mengiringinya.

682 views   |   6 shares
  • Setiap anak memiliki kebiasaannya sendiri, salah satunya adalah mengisap jempol. Menurut dr. William Sears yang terkenal dengan teori Attachment Parenting, sekaligus penulis The Baby Book ini, jempol biasanya memang menemukan jalannya secara alami, sampai ke mulut bayi, kemudian tinggal di sana selama bertahun-tahun. Kebanyakan para bayi memang terlahir sebagai pengisap jempol. Lihat saja di foto USG, katanya, biasanya posisi bayi sedang mengisap jempol.

  • Pada banyak bayi, kebutuhan mengisap tak cukup dengan botol susu atau menyusui langsung, mereka butuh mengisap sesuatu yang lain untuk mencari kenyamanan. Inilah keuntungan lain dari menyusui bayi secara langsung, sebab seringkali bayi masih mengisap meski kebutuhan menyusunya telah usai. Tentunya lebih aman dan nyaman juga bagi bayi. Karena itu, anak yang masih terus menempel dengan jempol, merupakan pertanda bahwa ia membutuhkannya untuk merasa tenang.

  • Namun, kebiasaan ini bisa membawa sejumlah risiko kesehatan, baik fisik maupun psikologis, terutama setelah anak berusia di atas dua tahun. Menurut dr. Sears, mengisap jempol saat usia anak sudah tiga atau empat tahun, akan membuat orangtua harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar orthodontis, karena gigi akan tumbuh dengan lebih maju. Apalagi jika ia memang memiliki keturunan gigi yang maju.

  • Konstruksi gigi yang mulai lengkap dapat melukai dan menyebabkan iritasi pada kulit jari. Di samping itu, kondisi jari dan kuku yang tidak bersih bisa menyebabkan tubuh terkontaminasi kuman dan bakteri lewat mulut, bahkan menyebabkan infeksi. Dampak kebiasaan mengisap jempol pada anak di atas 5 tahun juga berpengaruh pada perkembangan kemampuan bicara anak. Posisi lidah dan mulut biasa dipenuhi ibu jari, sehingga anak sulit melafalkan bunyi-bunyi tertentu.

  • "Beberapa anak mengalami kendala dalam berbicara, yaitu masalah dalam mengucapkan huruf S dan bunyi-bunyi lain yang membutuhkan gerakan lidah." kata Forrest Umberger, PhD., profesor pendidikan dan gangguan komunikasi khusus dari Universitas Negeri Valdosta di Georgia, Amerika Serikat.

  • Dari aspek psikologis, kebiasaan mengisap jempol yang kebablasan membuat anak bisa menjadi bahan celaan. Anak dipandang teman-temannya seperti bayi, persis seperti ngompol. Kebiasaan yang sebetulnya bisa hilang dengan sendirinya ini tidak bisa diterima secara sosial, oleh lingkungan sekitar.

  • Menghentikan kebiasaan yang telah dimulai sejak anak di dalam kandungan memang pekerjaan sulit dan butuh dukungan banyak pihak. Perlu diingat, menghukum atau mempermalukan anak tidak akan menghentikan kebiasaan ini. Yang ada malah akan menurunkan kepercayaan diri dan menambah kegelisahan anak.

  • Advertisement
  • "Kenyataannya, kebanyakan anak di atas 6 tahun sangat ingin menghentikan kebiasaan itu, namun mereka sangat membutuhkan bantuan orang lain." ujar Goldstein. Cara untuk menghentikan atau mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan mengisap jempol, alihkan perhatian anak. Amati kapan anak sering mengisap jempol. Jika misalnya ketika menonton televisi, alihkan dengan kegiatan pengganti seperti memberikan bola karet atau boneka untuk membuat tangan mereka sibuk.

  • Jika anak melakukannya saat mereka lelah, pastikan waktu tidur siang lebih panjang. Atau, jika anak terlihat frustrasi, ajak anak mencurahkan perasaan lewat kata-kata. Kuncinya, ketahuilah kapan dan situasi apa saja yang membuat anak mengisap jempol, lalu berikan kegiatan alternatif dan redakan emosi anak sehingga mereka melupakan keinginan mengisap jempol.

  • Sementara menurut dr. Sears, sebuah studi yang meneliti anak usia 1-7 tahun, membuktikan bahwa mereka yang mengisap jempol kebanyakan adalah anak-anak yang minum susu dari botol, ketimbang menyusu langsung ke payudara. Selain itu, 96 persen anak pengisap jempol, adalah mereka yang dibiarkan tidur sendiri sejak bayi. Inilah yang disebutnya, bayi pengisap butuh kelekatan dengan orangtua. Jadi susui ia, berikan seluruh perhatian, dan segala kebutuhannya akan kasih sayang saat bayi.

  • Cara lainnya selain membuat jempol sibuk beraktivitas, Anda juga harus memastikan bahwa kehidupan di sekitar si anak berjalan dengan tenang dan damai. Menangani anak tidak perlu terburu-buru, sediakan waktu santai dalam suasana sepi, musik tenang, dan orangtua yang tidak menularkan kepanikan.

  • Jika ia sudah cukup besar, ajak ia berkaca dan melihat pertumbuhan giginya. Tunjukkan gambar gigi kelinci, dan katakan saja padanya bahwa hal itu yang akan terjadi jika ia terus mengisap jempolnya. Tentu saja ceritakan dengan santai, dan tenang, ya. Apabila ia sudah sepakat untuk berhenti, Anda bisa juga menawarkan untuk membantu. Dengan meletakkan plester lucu di jempol misalnya.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yang perlu Anda tahu soal si kecil yang gemar mengisap jempol

Kebiasaan mengisap jempol pada anak, adalah hal yang sebetulnya biasa dialami anak-anak. Namun ternyata kebiasaan ini tidak selalu baik, karena banyak hal negatif yang mengiringinya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr