Ayah, sebesar inilah peran Anda untuk anak-anak Anda

Ayah memikul kewajiban untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya. Namun bukan menjadi alasan, ayah terlampau sibuk bekerja sehingga enggan meluangkan waktu untuk keluarga dan memerhatikan kebutuhan psikologis anak-anaknya.

434 views   |   25 shares
  • Belakangan sering sekali mendengar atau membaca berbagai pesan mengenai pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak, ya sebab stigma menjadi ayah seringkali hanya dikaitkan dengan tugasnya bekerja dan menafkahi keluarga, tanpa harus tahu apa pun yang terjadi di rumah. Padahal, idealnya ayah juga berperan aktif dalam pengasuhan anak, lho.

  • Banyak sekali penelitian mengenai hal ini. Misalnya, seperti yang tercantum dalam laman Father Involvement Research Alliance (FIRA), bayi yang ayahnya aktif terlibat dalam pengasuhan (terlihat dari banyaknya interaksi, termasuk kualitas bermain dan aktivitas caregiving) lebih kompeten secara kognitif pada usia 6 bulan. Fungsi kognitif ini berlanjut lebih tinggi pada usia 1 tahun, kemampuan pemecahan masalah lebih baik pada usia balita, dan memiliki IQ yang lebih tinggi pada usia 3 tahun.

  • Seperti tertulis didalam artikel The Role of the Father in Child Development, tulisan Michael E. Lamb, Profesor psikologi dari The University of Cambridge, anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah akan mengalami hambatan dalam perkembangan identitas gender dan pemahaman terkait peran sebagai laki-laki, performa akademis di sekolah, penyesuaian diri serta kesulitan mengontrol kemarahan.

  • Sementara parental nurturance dari seorang ayah kepada anak perempuannya, seperti tertulis dalam The Discipline Book: How to have a better-behaved child from birth to age ten, tulisan dokter anak ternama William Sears, merupakan fondasi awal bagi mereka untuk memahami bagaimana hubungan ideal yang seharusnya dibentuk dengan lawan jenisnya.

  • Ketika ayah tampil sebagai sosok yang pasif, tidak sensitif dan tidak terlibat dalam pengasuhan, maka anak perempuan akan mengembangkan hubungan yang sulit dengan laki-laki. Bahkan tidak nyaman berinteraksi dengan anak laki-laki juga ketika dewasa akan sulit menjalin hubungan harmonis dengan pasangannya.

  • E. Lamb pun menulis, penelitian oleh Carlson menyimpulkan bahwa para remaja memiliki keinginan agar sosok ayah dapat melakukan hal-hal berikut ini: Hadir di acara penting dan meluangkan waktunya berduaan dengan anak, menjalin kedekatan emosional dengan ayah, responsif ketika anak sedang mengungkapkan pendapat kepada ayah dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan sudut pandang anak. Jadi, meski terkesan cuek, ternyata harapan remaja pun sangat besar akan hadirnya sosok ayah.

  • Eh, tidak hanya dengan anak-anak, ternyata. Ayah yang memiliki hubungan baik dengan ibu dari anak-anaknya cenderung lebih terlibat dan senang menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, serta memiliki anak yang lebih sehat secara psikologis dan emosional. Peran ayah juga amat penting dalam keberhasilan menyusui ibu, lho.

  • Advertisement
  • Jadi memang ayah yang memperlakukan ibu dengan hormat dan menyelesaikan konflik dengan cara sesuai, cenderung memiliki anak laki-laki yang mengerti cara memperlakukan perempuan dengan baik, termasuk tidak melakukan perilaku agresi terhadap wanita.

  • Ya, karena itulah, ayah yang terlibat lebih jauh dalam pengasuhan sebenarnya sedang memberikan contoh pada anak-anak bahwa; baik pria maupun wanita dapat melakukan pengasuhan. Keterlibatan ayah ini juga membuat anak lebih mudah jika harus berpisah dengan ibunya. Hanya ayah, lho, yang dapat membantu anak tidak mengalami ketergantungan berlebihan pada ibu, khususnya saat adik baru hadir dalam keluarga.

  • Namun, untuk mendukung peran ayah ini, ibu pun harus banyak memberikan kesempatan ya. Sebab tidak sedikit ibu yang sulit percaya pada suaminya, untuk memercayakan pengasuhan anak kepada ayahnya. Ini juga akan membantu ayah merasa percaya diri. Selain itu, berdasarkan penellitian, seperti ditulis dalam artikel The Role of Father oleh Michael E.Lamb dan Catherine S. Tamis-Lemonda, laki-laki memang sering mengeluhkan akan kurangnya skill yang mereka miliki dalam pengasuhan. Sehingga seakan terlihat acuh atau ceroboh.

  • Tetapi istilah 'bisa karena biasa' sangat tepat bila diterapkan dalam praktek pengasuhan anak sehari-hari. Teruslah terlibat bersama anak, hingga nantinya terbiasa melakukan pengasuhan. Lho iya dong, kan berarti instingnya sedang diasah. Semakin sering ayah terlibat, semakin besar pula sensitivitas ayah akan kebutuhan dan keadaan anak. Makin sensitif akan kebutuhan anak, makin mahir dalam mengatasi setiap perilaku dan perkembangan anak, sehingga makin sedikit konflik dengan anak. Anak pun semakin mudah mendengarkan ayahnya.

  • Berat? Ya pasti. Inilah gunanya berpartner dengan istri dalam pengasuhan anak. Yang penting, koneksi antara ayah dan anak terus dibentuk setiap harinya. Jangan melulu ibu, namun jangan juga ayah melupakan tugas utamanya untuk menafkahi keluarga ya. Pengaturan waktu dan merasa bertanggung jawab, adalah kunci penting untuk menjalani peran besar ini.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ayah, sebesar inilah peran Anda untuk anak-anak Anda

Ayah memikul kewajiban untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya. Namun bukan menjadi alasan, ayah terlampau sibuk bekerja sehingga enggan meluangkan waktu untuk keluarga dan memerhatikan kebutuhan psikologis anak-anaknya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr