Ayah, Ibu, sudahkah Anda memberikan ruang pada anak untuk berjuang mengandalkan kemampuannya sendiri?

Kebanyakan orangtua tanpa sadar mengambil alih setiap masalah yang dihadapi anak sehingga membuat mereka sulit untuk mandiri

182 views   |   shares
  • Keinginan orangtua untuk selalu ada dan membantu setiap kesulitan anaknya, adalah hal wajar yang pasti dialami oleh banyak orang. Namun, apakah dengan begitu, anak akan tumbuh dengan baik? Hal ini pernah dituliskan panjang lebar oleh Prof. Rhenald Kasali, guru besar Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia.

  • Ia mengambil filsafat Colombus saat menemukan Amerika, "Kalau Anda tak pernah kesasar, maka kita tak akan pernah menemukan jalan baru." Tetapi bagaimana orang seperti Columbus bisa menjadi penjelajah dunia, menemukan dunia baru? Sama pertanyaannya, mengapa orang-orang Jepang, India, Yahudi, China dan Korea ada di seluruh dunia?

  • "Saya ingin katakan, sesungguhnya anak-anak Anda sama seperti saya. Kita semua sebenarnya rajawali, dan bukanlah burung dara yang sayapnya diikat (dikodi) serta tak pernah bisa terbang tinggi, diberi kandang yang sempit agar selalu dekat dengan tuannya." katanya.

  • Jutaan manusia Indonesia, menurutnya, setiap hari sangat takut "menjelajahi" dunia baru yang sama sekali belum dikenalnya. Banyak orang menghindari kegagalan, kesasar, atau segala hal baru yang akan menyulitkan hidupnya. Bahkan, menghindari sesuatu kalau ada tantangannya, karena takut terlihat kurang pandai karena orang lain bisa melakukannya sedang kita mungkin tidak. "Kita maunya anak-anak kita menjadi juara kelas, lulus cepat dan dapat pekerjaan yang baik, dimudahkan jalannya." ujarnya.

  • Padahal justu yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda adalah belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

  • Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

  • Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya. Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, dan lain sebagainya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

  • Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.

  • Advertisement
  • Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui. Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: Hidup seperti ini sungguh menantang.

  • Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

  • Seorang pengelola sentra petualangan bernama White Hall di Amerika, Doug Jones mengatakan bahwa selalu ada tendensi bagi orangtua untuk meremehkan kemampuan anaknya saat melakukan aktivitas yang menantang. Ketakutan pada tantangan baru justru disebabkan oleh orangtuanya, padahal anak selalu berminat untuk melakukan hal baru.

  • Dr. Michael Boulton dari University of Keele adalah psikolog yang khusus mempelajari soal permainan anak-anak. Menurutnya, setiap anak harus mengambil risiko, baik fisik maupun sosial. Meski faktanya sekarang ini lebih banyak anak muda yang melewatkan kesempatan karena tak mengerti cara mengatasi risiko. "Memanjat pohon adalah contoh terbaik, sebab sudah jelas anak akan berhadapan dengan konsekuensi berbahaya, namun sekaligus seorang anak dapat belajar untuk memercayai penilaian akan kemampuannya sendiri." ujar dia.

  • Merasa takut, menurutnya, adalah hal yang wajar seperti manusia pada umumnya. Namun memiliki keberanian untuk terus maju melawan ketakutan atau menakar kemampuan mengatasinya, adalah kepribadian penuh percaya diri yang diharapkan.

  • Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anak Anda. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ayah, Ibu, sudahkah Anda memberikan ruang pada anak untuk berjuang mengandalkan kemampuannya sendiri?

Kebanyakan orangtua tanpa sadar mengambil alih setiap masalah yang dihadapi anak sehingga membuat mereka sulit untuk mandiri
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr