Mengapa antibiotik harus dikonsumsi hingga habis?

Hal-hal yang perlu Anda tahu sebelum mengonsumsi antibiotik

556 views   |   1 shares
  • Tahukah Anda? Menurut World Health Organization (WHO), ancaman punahnya antibiotik yang tak mampu melawan bakteri resisten sejak 1998, menjadi permasalahan global dengan dampak signifikan terhadap kualitas kesehatan masyarakat.

  • Di Indonesia, hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan 86,1 persen rumah tangga di Indonesia, menyimpan antibiotik di rumah tanpa resep dokter. Padahal antibiotik seharusnya digunakan dengan hati-hati, tidak digunakan tanpa indikasi tepat serta dibeli dengan resep dokter.

  • Namun demikian, studi WHO pun menemukan, 50 persen resep di Puskesmas dan rumah sakit di Indonesia mengandung antibiotik. Sedangkan survei nasional tahun 2009 menemukan antibiotik diresepkan untuk penyakit-penyakit yang disebabkan virus diare akut dan selesma (flu).

  • Hal ini yang kemudian menjadi masalah, sebab, selain beberapa infeksi bakteri yang terjadi pada anak di kasus rawat jalan (bukan rawat inap): Infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia bakteri, strep throat, impetigo, disentri basiler dan amuba, dan demam tifoid. Selainnya kebanyakan adalah penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang tidak butuh antibiotik.

  • Ditambah kerap kali kita mendapatkan resep antibiotik, untuk penyakit akibat infeksi virus yang harus dikonsumsi sampai habis. Ini disebut penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan aman, sehingga menyebabkan bakteri bermutasi dan menjadi resisten (kebal) sehingga tak lagi mampu dilawan dengan antibiotik. Hal ini diungkapkan dr. Purnamawati S. Sujiarto sebagai penasihat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dan Communication Adviser ReAct (Action on Antibiotic Resistance).

  • Studi yang dilakukan YOP pada 2010 menunjukkan, anak-anak penderita infeksi virus (yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa obat-obatan) seperti demam, diberikan antibiotik 86,4%, diare 74,1%. "Praktik peresepan obat seperti ini berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak tersebut." kata dia.

  • Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis tidak tepat, frekuensi pemberian keliru, waktu pemberian terlalu singkat atau terlalu lama, selain mengurangi efikasinta sebagai pembunuh mikroba juga menimbulkan masalah resistensi yang dapat menyebabkan pasien menderita sakit lebih berat, lebih lama, terpapar risiko toksisitas, risiko kematian dan pengobatan lebih mahal.

  • Mengenai hal ini, Dokter spesialis anak, Dr. Arifianto mengatakan bahwa kita harus sangat detail membedakan penyakit karena bakteri atau virus. Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, kata dia, tentu antibiotik yang diberikan harus dihabiskan sesuai waktu yang dianjurkan. Mengapa? Dikhawatirkan jika dihentikan sebelum waktunya, maka bakteri-bakteri jahat penyebab penyakit sesungguhnya belum dihabisi semuanya, meskipun gejalanya sudah hilang (merasa sudah sembuh).

  • Advertisement
  • Dikhawatirkan sebagian bakteri penyebab penyakit yang tersisa ini, akan memperkuat dirinya, bermutasi secara genetik dan menghasilkan keturunan-keturunan yang lebih kuat (kebal) dan tidak mempan dengan antibiotik sebelumnya. Jika di kemudian hari orang ini sakit dan membutuhkan antibiotik tersebut, maka penyakitnya sukar disembuhkan karena penyebabnya sulit diatasi.

  • Ini yang namanya resistensi antibiotik. "Salah satu penyakit yang sering dijumpai dengan kasus ini adalah tuberkulosis (TB) paru yang kebal Antibiotik. Seharusnya obat anti TB diminum selama 6 bulan, tapi baru 2 bulan sudah merasa enakan, obat malah dihentikan dan berisiko menciptakan kuman kebal antibiotik (multi drug resistant TB)." ujarnya.

  • Tetapi jika ternyata penyebabnya adalah infeksi virus, maka antibiotik dapat dihentikan kapanpun. Tidak perlu khawatir terjadi resistensi, karena tidak ada bakteri jahat yang bisa dibuat resisten (kebal). Malah bisa membunuh bakteri-bakteri baik di tubuh dan menyebabkan efek tidak diinginkan.

  • Nah, bagaimana membedakan infeksi virus dengan infeksi bakteri?

  • Cara paling ideal membedakan keduanya, menurut Dr. Arifianto, tentu dengan melihat langsung mikroorganisme penyebabnya dengan mikroskop, yaitu virus atau bakteri. Tapi ini perkara yang tidak mudah, tidak bisa dikerjakan di semua tempat, mahal, dan banyak kendala lainnya. Tapi pada sebagian kecil kasus, "menangkap" dan mengidentifikasi kuman harus dilakukan. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan kultur (biakan) dari darah (atau urin, dan cairan tubuh lainnya), pemeriksaan langsung (dahak untuk mencari kuman TB), atau biopsi jaringan tubuh.

  • Pada sebagian besar kasus, mengetahui apakah infeksinya virus atau bakteri ialah dengan mengetahui apa diagnosisnya? Seringkali dengan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik saja, diagnosis sudah dapat diketahui. Jika belum, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi dilakukan. Makanya penting sekali keluar dari ruang dokter, seseorang tahu apa diagnosisnya.

  • "Bagaimana caranya? Ya tanya ke dokternya." kata dia. Diagnosis haruslah dalam bahasa medis. Tidak boleh ada diagnosis "tidak jelas" seperti "radang tenggorokan", "flek paru", "tampek", dan sejenisnya. Apabila ada ketidaksesuaian antara diagnosis dengan terapi, maka tanyakan ke dokter yang memeriksa. "Jangan bertanya ke dokter online." paparnya.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mengapa antibiotik harus dikonsumsi hingga habis?

Hal-hal yang perlu Anda tahu sebelum mengonsumsi antibiotik
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr