Cara sederhana yang mungkin seringkali terlewatkan untuk terhindar dari penyakit

Bukan dengan mengonsumsi obat, bukan dengan terus-terusan berolahraga. Lalu?

313 views   |   4 shares
  • Musim hujan mulai datang, biasanya kita yang daya tahan tubuhnya kurang, akan mengalami sakit. Pada umumnya, memang 'hanya' common cold. Virus yang tidak perlu obat, namun memerlukan makanan bergizi, dan istirahat cukup. Tetapi sebetulnya tetap saja mengganggu aktivitas, bukan? Siapa sih yang ingin sakit? Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

  • Nah, mengenai hal ini, seorang dokter terkenal di Osaka, Yutaka Okamoto, M.D., telah menuliskan dengan lengkap dalam bukunya yang telah disadur ke Bahasa Indonesia; 90 persen penyakit bisa sembuh. Ia memaparkan bahwa kondisi tubuh manusia dapat digolongkan menjadi tiga macam:

    • Kondisi 1: Kondisi tubuh stabil, disebut "sehat"

    • Kondisi 2: Kondisi tubuh tidak stabil, disebut "setengah sakit"

    • Kondisi 3: Kondisi tubuh tidak stabil, tidak menjadi stabil kembali, dan menjadi semakin buruk disebut "sakit"

  • Sebetulnya, menurut dia, pemeriksaan secara menyeluruh tidak perlu dilakukan, bahkan tidak harus mengetahui jenis penyakit yang diderita pasien. Pengobatan, seharusnya dilakukan dalam kondisi "setengah sakit", sehingga penyakit tidak sempat berkembang. Penanganan secara dini dapat mencegah penyakit pada diri seseorang sebelum ia benar-benar jatuh sakit.

  • Dokter yang cermat, tambahnya, dapat mengenali penyakit pada tahap "setengah sakit" sehingga ia dapat segera mengambil tindakan. Karena itu, meningkatkan kemampuan penyembuhan diri jauh lebih penting ketimbang melakukan pengobatan setelah penyakitnya muncul.

  • Kemampuan tubuh manusia menyembuhkan diri sebetulnya amat luar biasa. Kekuatan inilah yang memelihara kondisi tubuh, mencegah penyakit dan memulihkan tubuh dalam kondisi sakit. Kekuatan ini menjadikan tubuh manusia mampu mengatur dirinya sendiri.

  • Meski tingkat kekuatan ini berbeda-beda pada setiap orang dan perbedaan tersebut dapat dipengaruhi usia, namun kekuatan tersebut masih dapat ditingkatkan hingga seseorang mencapai usia 120 tahun. Dengan kata lain, manusia memiliki peluang untuk hidup sehat hingga 120 tahun. Luar biasa ya?

  • Sementara, jika kita membiarkan sinyal tubuh "setengah sakit" hingga menjadi "sakit", maka tentunya kestabilan tubuh menurun, tidak kembali pulih dan menjadi lebih buruk. Jika dibiarkan, kondisi tersebut mungkin akan berkembang menjadi keadaan yang mengancam nyawa. Untuk mencegahnya, kita harus meningkatkan kemampuan penyembuhan diri.

  • Contohnya; ketika merasa "masuk angin", Anda dapat meningkatkan kemampuan penyembuhan diri dengan berhenti bekerja, menghangatkan tubuh, minum lebih banyak, mengonsumsi makanan bergizi dan beristirahat. Pengobatan tidak melulu memerlukan bantuan dokter, kecuali pada penderita penyakit-penyakit yang memerlukan penanganan darurat, misalnya penderita stroke atau jantung coroner. Tanpa bantuan dokter, mereka dapat meninggal dunia.

  • Advertisement
  • Namun hal terpenting untuk diingat adalah dokter hanya mampu membantu, ia tak mampu menyembuhkan. Penyembuhan hanya dapat dilakukan oleh (tubuh) penderita itu sendiri. Karena itu, kita harus sering melatih kemampuan mengenal sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh tubuh. Cara termudahnya untuk melatih kepekaan kita akan hal tersebut adalah dengan memelihara tingkat sensor stres.

  • Apakah Anda melakukan hal-hal yang Anda inginkan? Apakah Anda merasa jenuh? Apakah Anda benar-benar tidak mampu bersabar? Apakah Anda merasa senang setiap hari? Adakah persoalan yang selalu mengganjal di pikiran Anda? Apakah Anda selalu merasa lelah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memengaruhi tingkat kemampuan penyembuhan diri Anda.

  • Tingkat stres menjadi persoalan pada orang-orang yang memikul tanggung jawab besar atau pada orang-orang yang terlalu sabar, terlalu segan dan terlalu memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya. Stres dapat menjadi gangguan kesehatan yang bersifat kronis jika kita tak mampu menghindarinya, lalu hanya menerimanya dengan pasrah.

  • Jadi, mari mulai mengubah pola pikir "harus" menjadi "ingin". Sikap terlalu "ngoyo" membuat kita lambat laun mengabaikan sinyal tubuh demi mengejar sesuatu. Bahkan menurut dr. Yutaka, pola pikir yang pasti ditemukan pada penderita kanker adalah; mendahulukan perasaan "harus". Mereka sering berkata "saya harus", "jika tidak, maka..." atau "seharusnya".

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Cara sederhana yang mungkin seringkali terlewatkan untuk terhindar dari penyakit

Bukan dengan mengonsumsi obat, bukan dengan terus-terusan berolahraga. Lalu?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr