Cara Menanggapi Kegilaan Berbeda: Ibu Mertua

Bagaimana kita beradaptasi dengan kegilaan yang berbeda ini? Berikut adalah beberapa masalah yang telah saya hadapi dengan ibu mertua saya sendiri.

2,307 views   |   2 shares
  • Saya sedang berbicara dengan saudara laki-laki saya yang baru menikah dan kami sedang membahas tentang ibu mertua. Setelah bepergian jauh dengan ibu mertuanya, saudara saya menemukan bahwa ibu mertuanya bukanlah orang yang dia kira sebelumnya. Dia mengatakan sesuatu yang sangat mengena di benak saya mengenai ibu mertua pada umumnya. Dia berkata, “Dia hanyalah kegilaan berbeda dari yang biasanya saya alami.”

  • Saudara saya benar. Itu bukanlah karena ibu mertua kita sangat mengerikan sementara ibu kita sendiri adalah sempurna. Mereka berbeda. Jadi bagaimana kita beradaptasi dengan kegilaan yang berbeda ini? Berikut adalah beberapa masalah yang telah saya hadapi dengan ibu mertua saya sendiri.

  • Komunikasi

  • Nasihat basi, saya tahu, tapi ini benar. Keluarga saya adalah buku yang terbuka, mungkin terlalu terbuka. Keluarga mertua saya adalah buku yang tertutup, bahkan tersembunyi. Saya telah menulis beberapa surat kepada ibu mertua saya untuk menyampaikan perasaan, baik maupun buruk. Meskipun tidak ada yang berubah, dia selalu bersikap ramah dan saya belajar untuk tidak memendam perasaan negatif. Kami mungkin tidak akan pernah berubah, tapi tidaklah merugikan untuk menjelaskan siapa diri kita dan mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Sedikit pemahaman akan berdampak besar.

  • Bagaimana saya menyapa Anda?

  • Saya masih ingat ketika telepon berdering selama makan malam keluarga. Abang ipar saya yang mengangkat telepon. Orang yang menelepon mencari ibu saya. Abang ipar saya berdiri dengan canggung sambil memegang gagang telepon tanpa berkata apa pun. Karena ada sekitar 20 orang di dalam ruangan itu, tidak ada yang tahu telepon itu untuk siapa. Akhirnya abang ipar saya berkata, “Teleponnya untuk Anda, Ibu . . Connie ..Sister Rose . . Ny. Rose."

  • Kami pikir itu lucu sekali apalagi ketika ekspresi wajah ibu saya terlihat aneh. “Saya bukan ibumu.”

  • Ini sangat berbeda dengan ibu mertua saya yang ingin sekali saya menyapanya “Ibu”. Saya tidak nyaman dengan sapaan itu, bukan karena dia tidak menyenangkan atau saya tidak mengasihinya, melainkan karena saya sudah punya seorang ibu. Sapaan itu cukup sakral. Itu bukan sekadar nama. Itu adalah sesuatu yang harus diperoleh. Ibu saya berhak menerimanya, sama seperti ibu mertua saya dengan anak-anaknya sendiri. Banyak keluarga yang berusaha memperlakukan semua orang setara dan tidak ada “mertua”, namun itu tidak benar. Kalau tidak begitu, kita tidak akan menggunakan istilah “mertua”. Itu adalah fakta, bukan kritik. Namun menjadi seorang mertua bukan berarti Anda kurang berharga. Saya tentunya tidak berharap ibu mertua saya untuk merasakan hal yang sama tentang saya sebagaimana perasaannya terhadap putrinya sendiri. Itu tidak menyinggung perasaan saya. Kita masih bisa berhubungan baik tanpa harus memaksakannya.

  • Advertisement
  • Perubahan Mungkin Tidak Akan Terjadi

  • Berapa kali kita bertengkar mengenai hal yang sama dengan orang terkasih kita? Ini karena kita semua punya kesalahan dan biasanya pertengkaran ini berpusat pada kesalahan kita. Perubahan sangat sulit, tapi penerimaan lebih mudah. Selama bertahun-tahun ada hal-hal yang membuat saya frustrasi tentang ibu mertua saya dan saya yakin dia merasakan hal yang sama tentang saya. Saya belajar sesuatu. Semakin saya berusaha mengubah sesuatu, semakin saya merasa frustrasi. Saya mendapat pencerahan baru-baru ini. Itu adalah karena saya bersikap tidak adil kepada ibu mertua saya. Ibu saya adalah wanita yang sangat kuat dan mandiri. Saya menyadari bahwa saya mengharapkan ibu mertua saya untuk menghadapi masalah seperti ibu saya dan saya menjadi kesal ketika ibu mertua saya tidak sesuai dengan pengharapan saya. Saya bahkan tidak menyadari bahwa saya bersikap seperti itu. Saya memandang ibu mertua saya sebagai wanita yang lemah dan saya kehilangan rasa hormat saya kepadanya karena hal ini – sesuatu yang sangat tidak adil.

  • Ibu saya membesarkan saya untuk menjadi tangguh dan mandiri. Dia mendorong anak-anaknya dan pasangan mereka untuk bergantung pada satu sama lain, bukan pada orang tua masing-masing. Sebaliknya, ibu mertua saya malah ingin kami tinggal bersamanya, duduk bersamanya sepanjang hari dan berpelukan dan berciuman sesering mungkin. Yang membawa saya ke pokok permasalahan berikutnya.

  • Jarak Pribadi

  • Kali pertama keluarga suami saya mengadakan reuni, kami semua berpelukan saat bertemu dan berpisah. Saya pikir ada yang meninggal. Memangnya ada alasan lain untuk pelukan? Kami tinggal hanya beberapa kilometer dari satu sama lain dan kami sering bertemu. Akhirnya saya menjelaskan kepada mertua saya bahwa hanya karena saya bukan orang suka pelukan, itu tidak berarti saya tidak mengasihi mereka. Itu hanya karena saya tidak dibesarkan seperti itu. Dalam cara yang aneh saya menyadari bahwa saya menghindari memeluk dan mencium mertua saya karena saya tidak melakukannya dengan ibu saya sendiri, yang sangat dekat dengan saya. Itu terasa palsu bagi saya. Yang saya sadari adalah bahwa itu tidak terasa palsu bagi ibu mertua saya. Itu adalah cara dia memperlihatkan kasihnya dan itu baik. Namun saya juga tidak salah jika saya tidak ingin memulai sesuatu yang saya merasa tidak nyaman melakukannya. Kita cenderung berharap orang lain untuk bereaksi sesuai kehendak kita dan ketika mereka tidak melakukannya kita pikir ada yang salah dengan orang itu.

  • Advertisement
  • Jangan tersinggung karena hal-hal kecil

  • Simpanlah perasaan itu untuk hal-hal besar. Jika ibu mertua Anda mengundang putri-putrinya untuk makan siang atau belanja bersama dan tidak mengundang menantunya, sebelum Anda merasa tersinggung, tanyakan diri Anda sendiri apakah Anda akan mengundang ibu mertua Anda untuk makan siang bersama Anda dan kakak atau ibu Anda sendiri. Mungkin tidak. Hanya karena dia masih ingin melakukan beberapa hal dengan putrinya sendiri bukan berarti dia membenci Anda. Jika itu bukan masalah besar, jangan jadikan itu masalah besar. Dan jika ibu mertua Anda ingin membuat foto keluarga dan meminta fotografer untuk mengambil satu foto keluarga tanpa para menantu, itu tidak apa-apa. Itu bukan masalah. Namun jika hanya itu satu-satunya foto yang ingin dia ambil, itu baru masalah. Anak-anak Anda memilih untuk menikahi pasangan mereka. Itu bukanlah pilihan Anda, tetapi itu memang sudah sepatutnya. Jangan tidak mengikutsertakan mereka dari foto keluarga karena mereka sekarang adalah bagian dari keluarga Anda, suka atau tidak.

  • Jika Anda tidak bisa mengatakan hal baik

  • Ya, ibu mertua Anda punya kesalahan, tapi itu bukan berarti dia adalah seorang penjahat. Saya tahu saya punya kesalahan. Dia adalah seorang ibu dan mungkin selalu disalahkan baik oleh anak-anaknya sendiri, suaminya atau dirinya sendiri. Saya juga begitu. Saya ingin dimaklumi jadi mengapa saya tidak dapat memakluminya? Saya tahu bahwa suatu hari nanti saya akan menghadapi masalah-masalah ini dengan menantu perempuan saya sendiri dan pengetahuan itu membantu saya punya perspektif yang saya perlukan untuk bersikap lebih baik hati. Setidaknya, itu akan memudahkan saya melepas putra-putra saya ketika mereka menikah suatu hari nanti.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Natalia Sagita dari artikel asli "How to deal with a different crazy Mother-in-laws" karya Kate Lee.

Bantu kami menyebarkan

Kate Rose Lee is a Utah native, mother of three and author. You can read more of her writing as well as her books at www.momentsofchunder.blogspot.com Contact her at momentsofchunder@gmail.com

Cara Menanggapi Kegilaan Berbeda: Ibu Mertua

Bagaimana kita beradaptasi dengan kegilaan yang berbeda ini? Berikut adalah beberapa masalah yang telah saya hadapi dengan ibu mertua saya sendiri.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr