Yuk, didik si kecil agar bermental kuat

Ini alasan mengapa mental yang kuat itu penting untuk masa depan anak

590 views   |   6 shares
  • Menjadi orangtua tak hanya sibuk memerhatikan kesehatan fisik atau kemampuan kognitif semata. Sebab, kemampuan mengendalikan emosi dan kekuatan mental pun amat penting untuk diperhatikan, karena akan dibawanya hingga dewasa.

  • Menurut Agstried Elisabeth Piether, M.Psi., Psikolog, dari Rumah Dandelion, dalam ilmu psikologi, kemampuan manusia untuk melambung kembali setelah mengalami kesulitan yang membuatnya jatuh secara psikologis disebut resiliensi atau daya lambung. Jadi, ketika ia ditekan dalam situasi menantang ia justru melenting tinggi memperlihatkan potensinya.

  • Daya lambung anak, menurut Agstried, berbeda-beda. Ada yang begitu jatuh karena kesulitan langsung menyerah, ada pula yang semakin besar tantangan yang ia hadapi semakin mampu ia mengembangkan diri dalam mengatasi tantangan tersebut. Namun, resiliensi ini sebetulnya merupakan kemampuan utama yang perlu dimiliki.

  • Menurut Bonnie Bernard, senior Program Associate di WestEd's Health & Human Development Program, Oakland, anak-anak dengan resiliensi yang baik akan memiliki atribut seperti ini:

    1. Kompeten secara sosial. Anak-anak dengan resiliensi baik mampu merespon situasi sosial dengan lebih santai dan fleksibel. Selain itu, anak-anak dengan resiliensi yang baik terkenal memiliki selera humor yang tinggi, karena mereka dapat menertawakan situasi hidup mereka sendiri.

    2. Terampil dalam memecahkan masalah. Anak-anak dengan resiliensi baik akan mampu berpikir dalam situasi yang menantang dan mampu menemukan solusi dalam situasi mendesak.

    3. Anak-anak yang resilien memahami betul diri mereka. Mereka dapat bertindak secara mandiri dan mereka memiliki kendali atas situasi atau lingkungan mereka.

    4. Bersudut pandang masa depan dan bertujuan. Anak-anak yang resilien memiliki kemampuan untuk merencanakan dan menetapkan aturan. Mereka cenderung melihat dunia lebih optimis dalam memandang dunia.

  • Pada tahun 2004, peneliti dari westED mempelajari hubungan amtara resiliensi dan kemajuan akademis. Dan dari hasil penelitian mereka didapati bahwa anak-anak yang resilien memiliki performa lebih baik secara akademik.

  • Anak dengan resiliensi baik ini, menurut Dr. Laura Markham, psikolog, biasanya dimulai dengan menjadi anak yang berkemauan keras saat balita; Anak-anak berkemauan keras ini sering menjadi pemimpin selama orangtua menahan dorongan untuk "mematahkan semangat mereka". Beberapa orangtua menyebut anak-anak ini sebagai "sulit" atau "keras kepala", tetapi kita juga bisa melihat anak-anak berkemauan keras sebagai individu berintegritas yang tidak mudah terpengaruh.

  • Advertisement
  • Namun sebetulnya, semua anak bisa memiliki resiliensi yang bagus, jika ia punya pengalaman gagal namun (dengan dukungan lingkungannya) ia bisa bangkit lagi. Menurut Devi Sani M.Psi, Psikolog, dari Rainbow Castle, contoh sederhana namun punya makna dalam adalah saat anak berlajar naik sepeda dan jatuh. Orang tua punya dua pilihan; pertama, tak lagi mengizinkan ia main sepeda (menghindarinya dari kegagalan) atau kedua, saat ia jatuh, tetap berikan dukungan proporsional "Adek jatuh ya?" dan tetap menyemangati naik sepeda.

  • Inilah sebabnya, menurut Agstried, lingkungan memiliki peran utama dalam meningkatkan resiliensi pada anak. Ada 3 syarat agar lingkungan mendukung pertumbuhan resiliensi anak:

    1. Lingkungan yang menawarkan kepedulian dan dukungan

    2. Lingkungan yang memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap perilaku, sikap, dan etos kerja (tidak berorientasi hasil, melainkan proses)

    3. Lingkungan yang mendorong keaktifan dan partisipasi anak dalam pengambilan keputusan

  • Jadi, Devi menambahkan, jika anak mendapatkan dukungan untuk bangkit lagi, ia akan mengatasi kegagalannya bukan malah menghindari kegagalan. Lalu dukungan seperti apa yang dibutuhkan?

  • 1. Orang tua yang peduli dan memahami sudut pandangnya

  • Jadi, saat anak tidak juara, kita tak perlu meminta dia untuk bercerita perasaan gagalnya, cukup berempati saja dengan kekecewaannya "Pasti kesal ya gambarnya tak terpilih".

  • 2. Memberi anak ruang untuk menyelesaikan masalah sendiri

  • Tenangkan diri sendiri agar terhindar dari cepat-cepat mau "menyelamatkan anak". Termasuk cepat-cepat mengambilkan yang diminta, membukakan bungkus makanan padahal ia bisa, membukakan kotak mainan dan sebagainya.

  • 3. Pernah merasa dirinya bisa dan mampu

  • Hal ini berawal dari rasa percaya orang tua bahwa anaknya mampu. Motivasi untuk bisa datangnya dari nurani anak, bukan sekadar karena mereka mau menyenangkan kita. Pastikan anak punya kesempatan untuk lebih tahu apa minatnya. Ini membutuhkan proses.

  • Selain itu, mengetahui bahwa ada orang lain di dunia ini yang menyayangi dan peduli, merupakan kunci utama anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien atau tahan banting. Penting juga untuk diingat bahwa spiritualitas merupakan komponen resiliensi. Mengingat bahwa ada "sosok Maha Kuasa" akan membantu anak-anak lebih mudah melalui masa-masa sulit.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yuk, didik si kecil agar bermental kuat

Ini alasan mengapa mental yang kuat itu penting untuk masa depan anak
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr