Alasan mengapa ibu tak perlu tertekan jika tak memiliki banyak waktu dengan anak

Kalau sudah begini, perasaan bersalah terhadap si kecil pasti menghampiri setiap ibu

260 views   |   shares
  • Menjadi ibu bekerja, sebetulnya kini bukan lagi hal aneh yang terjadi di masyarakat. Namun peer pressure dari lingkungan sekitar, kerap menjadi hambatan dan menimbulkan rasa bersalah di hati para ibu. Apalagi ditambah tekanan bahwa menjadi ibu haruslah siap sibuk mengantar anak ke berbagai kursus, menemani anak 24 jam, dan memikirkan masa depan anak.

    Hal ini dibahas dalam sebuah konferensi di University of Kent dengan tema Fokus Ekstrim di tahap awal perkembangan masa kanak-kanak. Para akademisi berdiskusi mengenai orangtua dari bayi dan balita, terutama ibu, yang kini kerap menjadi "korban" dari berbagai tekanan untuk menjadi orangtua sempurna. Padahal akan berujung pada kecemasan dan rasa bersalah tak beralasan.

    Perdebatan diawali dari pernyataan dari John Bruer, penulis buku The Myth of the First Three Years. Ia mengatakan bahwa teori neuroscience mengenai pentingnya koneksi antar orangtua dan anak di tahap perkembangan awal kehidupan terlalu berlebihan dan kebijakan sosial yang terfokus pada ikatan orangtua-anak adalah tindakan pemborosan sumber daya.

    Pernyataan yang kemudian dianggap sebagai perlawanan terhadap teori pengasuhan oleh berbagai psikoterapis seperti Oliver James, penulis buku They F** You Up dan Sue Gerhardt, penulis buku Why Love Matters. Selama bertahun-tahun, kubu ini telah memberikan pengertian persuasive bahwa berbagai penelitian menunjukkan dukungan dari sosok orangtua yang dekat dengan anak, terutama mereka yang berada di fase awal 0-3 tahun, sangat penting dalam tumbuh kembang psikologis dan emosionalnya.

    Gerhardt bahkan telah memperingatkan bahwa daycare dengan kualitas buruk memiliki efek yang berpotensi merusak anak. "Bayi, terutama yang berusia di bawah 9 bulan, butuh bersama dengan satu orang untuk membentuk attachment," katanya. "Awal usia 2-3 tahun adalah jendela yang sangat krusial saat berbagai macam sistem untuk membentuk emosi, masuk dan diletakkan kedalam tempat-tempatnya. Tanpa kemampuan emosi dasar ini, anak tak akan bisa tumbuh dengan keadaan emosional yang kompeten."

    Nah, bagi kubu anti-pengasuhan, timbulnya rasa bersalah dalam pengasuhan, karena terlalu banyak tekanan untuk selalu bersama anak ini menjadi gangguan. Teori pengasuhan tersebut didebat dengan argumen bahwa anak bisa fleksibel dan terus mengembangkan diri sepanjang hidupnya. Ellie Lee, sosiologis dari University of Kent menjelaskan; "Hal itu menyebabkan dunia ibu-ibu yang seharusnya menyenangkan dan meningkatkan gairah hidup, menjadi dunia yag menyedihkan."

    Glenda Wall, Profesor sosiologi dari Wilfrid Laurier University di Ontario, mempresentasikan tulisan yang dibuat setelah mewawancarai para ibu dari kelas menengah, di Kanada. Menurutnya; terfokus pada tujuan untuk memaksimalkan perkembangan otak anak memiliki dampak terhadap terlalu banyaknya tugas seorang ibu. Kini, menjadi seorang ibu tak hanya bertanggung jawab pada kesehatan fisik, jiwa, kebahagiaan dan keamanan anak semata. Namun ditambah tanggung jawab pada potensi otak dan kecerdasan anak di masa depan.

    Studi kasus yang dilakukannya ini menemukan berbagai komentar seperti "Berat badan saya bertambah 27 kg dalam 4 tahun. Tapi saya merasa amat bersalah jika harus meninggalkan anak demi berolahraga." Dan saat seorang ibu ditanya mengenai waktu santai berduaan dengan pasangannya, ia menjawab: "Kami telah bersama selama 10 tahun sebelum anak kami lahir. Kini hidup kami dipersembahkan untuknya. Waktu santai dan hiburan saya hanyalah anak saya."

    Karena itu, Wall menyimpulkan bahwa para ibu yang dipelajari kasusnya adalah mereka yang mengorbankan kariernya serta memotong waktu kerja demi mendapatkan waktu khusus yang dihabiskan bersama anak-anaknya. Dan mereka melakukan itu karena ingin melakukan "yang terbaik".

    Sosiologis, Frank Furedi bahkan mengatakan bahwa "Pengasuhan anak tidak sulit. Fisika nuklir yang sulit". Ia juga mengatakan, "Jika Anda sebagai ayah dan ibu terlalu khusyuk dengan berbagai persoalan dalam tumbuh kembang, biasanya akan mudah untuk terjebak dalam obsesi tertentu. Lihat saja, kini hampir semua kegiatan anak-anak dilakukan atas inisiatif atau agenda orang dewasa yang bahkan tak ada hubungannya dengan kehidupan si anak."

    Kini, orangtua dari kalangan menengah, amat berhasrat mendapatkan hasil sempurna dari anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan sarat kompetisi; untuk masuk sekolah terbaik, menemui orang-orang terhebat, dan mendapatkan pekerjaan terbaik. Mereka bahkan mengerahkan seluruh waktu, sumber daya, bahkan mengeluarkan banyak uang untuk memberli berbagai produk yang mengklaim terbaik bagi otak anak.

    Keributan apa pun yang diperdebatkan mereka yang mendukung teori pengasuhan maupun yang melawannya, ada jalan tengah yang bisa kita pelajari bersama. Seperti yang dikatakan Psikolog dari Universitas Birmingham, Stuart Derbyshire. "Hal utama yang wajib dilakukan orangtua adalah berhenti merasa bahwa mereka wajib melakukan segalanya. Kita dapat merangkul berbagai pendekatan untuk mengasuh anak, kemudian menerima bahwa pengasuhan bukanlah mengenai 'menjadi segalanya' dan 'mengakhiri segalanya' saat membesarkan seorang anak."

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Alasan mengapa ibu tak perlu tertekan jika tak memiliki banyak waktu dengan anak

Kalau sudah begini, perasaan bersalah terhadap si kecil pasti menghampiri setiap ibu
Advertisement
Bergabung dengan jutaan lainnya di seluruh duniamenuju fondasi keluarga yang lebih kuat
-------------------------- atau --------------------------
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr