Mendidik anak tentang bahaya tindakan korupsi lewat hal-hal sederhana

Bisa mulai dengan mengajarkan Anda tentang jangan berbohong

168 views   |   shares
  • Korupsi adalah bentuk kejahatan luar biasa, yang hingga kini masih sering dianggap hal biasa. Hal ini terlihat dari angka korupsi yang terus meningkat dari 38 perkara di 2015 menjadi 67 perkara di 2016 (data Kompas). Namun hukuman yang diberikan tidak sebanding.

  • Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat rata-rata hukuman penjara bagi koruptor itu hanya dua tahun 11 bulan. Itu tahun 2013, dan ada kecenderungan menurun menjadi dua tahun delapan bulan (2014). Tahun 2015 turun lagi menjadi dua tahun dua bulan. Ini yang membuat masyarakat jadi biasa, dan menganggap korupsi sebagai hal biasa, dan bahkan dilakukan oleh banyak lapisan masyarakat dengan tenang tanpa merasa bersalah lagi.

  • Tak ada budaya malu saat melakukannya terlihat dari sejumlah terpidana korupsi yang tetap tak mengaku bersalah, meski telah divonis. Mengenai hal ini, profesor psikologi dan perilaku ekonomi, Dan Ariely pernah melakukan berbagai penelitian dan diceritakan dalam sebuah film documenter berjudul (dis) honesty; the Truth about Lies.

  • Menurutnya, akar masalah dari segala tindak kecurangan adalah kebohongan. Bohong, ungkap Dan, adalah perilaku alami manusia dan tak selalu menimbulkan perasaan bersalah. Singkatnya, setelah penelitian tersebut, ia dapat menyimpulkan bahwa kebohongan, terutama dalam kegiatan ekonomi, adalah mengenai kepentingan. "Apa yang akan saya dapatkan dari kebohongan ini?" ya, tentunya mengenai keuntungan dan juga perhitungan kerugian.

  • Kemudian diperkuat dengan mantra seperti; "Semua orang juga melakukannya" atau "Saya melakukan ini untuk alasan yang baik" atau "Saya berhak mendapatkannya" hingga "Saya tak menyakiti siapa pun". Karena itu juga maka, Ariely menyatakan bahwa kebohongan adalah perbuatan yang menular. Karena saling meniru dan memberi contoh antar sesama manusia. Saling meyakini bahwa taka ada yang salah dengan perbuatannya.

  • Dari mana contoh pertama yang dipelajari seseorang soal kebohongan? Tentu saja dari orangtua, atau orang dewasa yang berada di sekitar anak kecil. "Aduh hari ini kita tidak bisa main, soalnya tempatnya tutup.." padahal tidak. Atau, "Di dokter gigi nanti tak akan sakit, kok." Padahal siapa yang tak kesakitan saat gigi diberi perawatan akar?

  • Terlihat seperti hal kecil, memang. Namun tidak bagi anak-anak. Suatu saat mereka akan menyadari bahwa selama ini telah dibohongi oleh orang yang paling mereka percayai di dunia. Di situlah anak belajar bahwa bohong, bukan merupakan perbuatan yang salah. Memang, ada kebohongan yang wajar atau bahkan menunjukkan bahwa seorang anak sedang mengembangkan daya imajinasinya. Namun anak tetap harus diingatkan bahwa berbohong tetaplah cara yang tidak baik dalam berinteraksi dengan orang lain.

  • Advertisement
  • Dr. Laura Markham, psikolog, pernah memberikan beberapa tips agar anak tidak keterusan berbohong:

    1. Jangan diabaikan. Saat anak berbohong, dan tidak diberi respons apa pun ya mereka akan terus berbohong.

    2. Melabel-lah dengan hal baik. Jangan pernah sebut anak pembohong. Ini akan menjadi penilaian peribadi akan diri mereka sendiri dan melekat lama.

    3. Acknowledge. Lakukan tanpa penghakiman. Misalnya dengan mengatakan "Kamu bilang sudah cuci tangan? Oh mungkin itu harapan kamu ya, karena tangannya masih terlihat kotor. Yuk ditemani cuci tangan.."

    4. Cegah sebelum terucap. Jika tanda-tanda akan berbohong mulai terlihat, bicara saja dengan nada lembut dan tatap matanya "Ibu/Ayah akan sangat senang jika kamu jujur.."

    5. Diskusikan. Ya, manfaatkan waktu santai untuk mendiskusikan bahwa kebohongan dapat menjadi hal bahaya. Bisa juga memenfaatkan cerita dalam buku atau kisah di sekitar.

    6. Cari bantuan. Jika Anda sudah menyadari bahwa si kecil adalah "Frequent liar", sebaiknya hubungi psikolog anak agar cepat teratasi.

  • Membangun koneksi, menerapkan dengan penuh kasih sayang, sabar dan juga konsisten, tetap merupakan kunci utama dalam mencegah kebohongan berlanjut. Ya, sebab mencegah tentu akan lebih baik ketimbang mengobati, bukan?

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mendidik anak tentang bahaya tindakan korupsi lewat hal-hal sederhana

Bisa mulai dengan mengajarkan Anda tentang jangan berbohong
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr