Seburuk apakah depresi pascamelahirkan? Bisakah dicegah?

Memiliki anak adalah kebahagiaan. Benarkah? Ternyata tak semua Ibu merasakannya. Sebab ada sebagian yang mengalami depresi usai melahirkan. Apa penyebabnya dan bagaimana mencegahnya?

638 views   |   9 shares
  • Hal terakhir yang ingin Anda pikirkan mengenai kehamilan adalah kemungkinan Anda tidak bahagia saat mengurus bayi, setelah 9 bulan mengandung. Namun faktanya, 80 persen dari ibu baru mengalami berbagai perubahan mood, yang biasa disebut baby blues. Sementara 10 persen menderita Post Partum Depression (PPD) di tahun pertama.

    Menurut tim psikolog Rumah Dandelion; yang disebut baby blues, ditandai dengan ketidakstabilan emosi, mudah marah, mudah menangis, cepat marah, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Kondisi ini hanya terjadi dalam jangka waktu yang singkat dan dapat diatasi dengan sendirinya. Namun, bila kondisi ini tidak tertangani secara baik dapat berlanjut dengan post partum depression.

    Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini terjadi "Dokter dapat mendeteksi wanita yang rentan terkena PPD sebelum terjadi, dan mencegahnya," kata Peneliti utama Zachary Stowe, M.D., direktur the Pregnancy and Post Partum Mood Disorders Program pada Emory University di Atlanta. Ia kemudian menambahkan, cara terbaik untuk mencegah PPD adalah dengan memiliki ekspektasi yang realistis.

    Mungkin mendengar istilah post partum depression bukanlah sesuatu yang umum di telinga orangtua. Namun sebenarnya, post partum depression merujuk pada suatu kondisi yang dialami oleh orangtua yang baru saja melahirkan dan dikarakteristikan dengan perubahan kondisi fisik, psikologis, biologis dan emosi seseorang. Menurut buku Post partum psychiatric disorders: Early diagnosis and management, hal ini juga mengakibatkan adanya adaptasi secara personal maupun interpersonal pada diri orangtua. Gejala dari kondisi ini yaitu, perasaan bersalah yang berlebihan, tidak bisa merasakan senang dan kelelahan yang berlebihan.

    Sebenarnya, apa yang membuat adanya perbedaan dari tiap-tiap individu dalam hal adaptasi setelah melahirkan? Menurut buku Risk factors for antenatal depression, postnatal depression and parenting stress, tulisan dari Leigh dan Milgrom, terdapat tiga hal besar yang dapat memengaruhi kondisi ini. Pertama, prenatal stressor yaitu kecemasan yang terjadi saat atau sebelum kehamilan. Kedua, personal resources yaitu keadaan personal yang ada dalam diri seorang individu seperti rendahnya self esteem,pola pikir yang negatif dan minimnya social support.Terakhir predisposing factors seperti penghasilan rendah, pendidikan rendah, adanya sejarah depresi dan usia menikah yang terlalu muda.

    Post partum depressionpun merupakan suatu kondisi yang penting untuk ditangani segera. Hal ini dikarenakan dampak yang dapat terjadi dari kondisi ini baik pada ibu maupun anak. Leigh dan Milgrom (2008), menyebutkan dampak dari kondisi ini di antaranya kedekatan emosional antara ibu dan anak yang berkurang, ketidakmampuan ibu dalam merawat diri sendiri dan terganggunya well-being ibu sehingga memengaruhi keadaan bayi.

    Oleh karena itu, penting bagi orangtua, calon orangtua atau lingkungan sosial untuk memberikan perhatian pada kondisi ini bagi ibu yang baru melahirkan. Bagaimana sih caranya mencegah PPD?

  • Beri dukungan sosial bagi ibu

    Menurut Rumah Dandelion, hal ini sangat penting untuk dapat menjaga kondisi fisik dan emosional ibu.

  • Menjaga asupan nutrisi

    Berikan semua nutrisi yang dibutuhkan ibu dapat juga menjadi rekomendasi bagi ibu yang mengalami gejala baby bluesataupun post partum depression. Sebab bagaimanapun, asupan sehat bergizi akan membuat tubuh lebih sehat dan kuat.

  • Menenangkan diri

    Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa bayi baru lahir, memiliki ikatan yang lebih kuat dengan ibu yang tenang. Ibu yang menghabiskan setidaknya 15 menit untuk santai, setiap harinya; bisa dengan mengambil napas panjang, meditasi, atau berendam, kata Diane Sanford, Ph.D., penulis buku Post Partum Survival Guide.

  • Ikut tidur bersama anak

    Kebanyakan ibu memilih untuk memanfaatkan waktu saat si kecil tidur untuk membereskan rumah atau melakukan hal-hal yang sulit dilakukan saat anak bangun. Padahal, menurut Michael O'Hara, Ph.D., dari The University of Iowa, ibu yang kurang tidur lebih mudah mengalami depresi. Maka, mencari bantuan dari teman, keluarga atau asisten rumah tangga untuk mengerjakan tugas lain akan lebih baik.

  • Berolahragalah

    Sebuah penelitian yang melibatkan 1.000 ibu menemukan bahwa mereka yang rajin berolahraga sebelum dan sesudah menikah, cenderung memiliki emosi yang stabil dan lebih mudah bersosialisasi. "Bergerak saja, cari udara segar, nikmati keindahan alam sekitar," ujar Karen Rosenthal, Ph.D., seorang psikolog di Westport, Connecticut. Tidak perlu ngotot dengan aerobik dan olahraga berat. Yang dibuthkan hanya bergerak agar aliran darah lancar, bukan membentuk otot.

  • Anggap saja motherhood sebagai karier baru

    Dr. Rosenthal juga mengatakan, bahwa ia seringkali menasihati pasangan baru untuk menganggap dunia pengasuhan sebagai karier. Bedanya hanya jam kerja yang tak ada akhirnya.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Seburuk apakah depresi pascamelahirkan? Bisakah dicegah?

Memiliki anak adalah kebahagiaan. Benarkah? Ternyata tak semua Ibu merasakannya. Sebab ada sebagian yang mengalami depresi usai melahirkan. Apa penyebabnya dan bagaimana mencegahnya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr