Generasi Y dan gaya hidup konsumerisme

Tumbuh di era serba praktis, digital dan tenggelam dalam berbagai kesibukan, ternyata justru membuat generasi Y atau yang biasa disebut millennials menjadi konsumtif dan mengalahkan hal-hal yang esensial dengan gaya hidup.

182 views   |   1 shares
  • Generasi Y atau biasa disebut generasi millennials menjadi sangat sering dibicarakan belakangan ini. Mengapa? Sebab begitu banyak kebiasaannya yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Siapa yang disebut generasi millennials? Menurut Time Magazine, yang tergabung dalam generasi Y adalah mereka yang lahir pada 1980-2000.

    Menurut data Bappenas, di tahun 2015 jumlah millennials di Indonesia adalah 84 juta orang. Sementara jumlah penduduk mencapai 255 juta orang, maka 33 persen dari penduduk Indonesia adalah millennials. Kalau dilihat dari perbandingan usia produktif, antara 16-64 tahun, maka sebanyak 50 persen dari penduduk usia produktif tersebut adalah millennials (16-36 tahun).

    Menurut Yoris Sebastian dalam bukunya yang berjudul Generasi Langgas, ini yang seringkali disebut sebagai bonus demografi atau proporsi penduduk produktif lebih besar dibandingkan proporsi penduduk yang tidak produktif. Sebetulnya, memberikan potensi besar bagi perekonomian Indonesia.

    Karena itulah, Generasi Y dikenal dengan ciri-ciri aktif, inovatif, multi-tasking, sadar akan teknologi, namun sayangnya, mereka ini juga dikenal sebagai Consumerist Buyer. Gaya hidup konsumerisme inilah yang menjadi bayang-bayang bagi generasi muda produktif saat ini. Menurut Yudit Yunanto dari QM Financial, seiring dengan usianya saat ini, generasi inilah yang sedang berada di usia produktif, berpendapatan baik, namun mahir juga menghambur-hamburkan uang.

    Mereka lebih memilih menghabiskan ¼ dari penghasilan untuk hiburan dan berbelanja. Bahkan, frekuensinya cukup sering, rata-rata antara 7-9 hari per bulan.

    Mengulik generasi Millennial di Indonesia, Yuswohady, pengamat karakteristik konsumen, menggolongkannya menjadi 5 karakter kuat yang sangat identik pada generasi ini, antara lain: Menjunjung tinggi gaya hidup, melek informasi, holiday effect, instagramers, social media pressure (generasi akibat terpaan media sosial).

    Mendukung hal ini, LPS pun mengeluarkan data bahwa hanya 17 persen dari generasi Y yang mampu membeli rumah seharga 300 juta. Data ini dikeluarkan berdasarkan riset terhadap 8.510 responden. Bahkan menurut data ini, diasumsikan pada 2021, tak ada lagi generasi millennials yang mampu membeli rumah diatas Rp 300 juta. Padahal, rumah di pinggiran saja harganya sudah di atas 300 juta. Menurut Yuswohady, Standar dalam gaya hidup memang bagian penting dari kehidupan milenial. Mereka tidak ingin berkompromi dengan standar dalam membeli properti yang akan menjadi bagian dari masa depannya.

    Karena itulah, kebanyakan dari generasi Y amat bergantung pada orangtua. Survey CBRE Global Research yang dirilis Oktober 2016, menjabarkan bahwa sebanyak 63 persen dari 13.000 koresponden yang ada di lima negara Asia Pasifik seperti China, Jepang, Australia, Hong Kong, dan India ternyata lebih memilih tinggal bersama orangtua mereka.

    Selain itu, generasi yang aktif dan produktif ini yang mungkin akan terkena risiko terburuk sakit, hingga dirawat di rumah sakit atau terdiagnosa penyakit kritis. Hal ini bisa saja terjadi karena pola makan yang kurang baik, kurangnya istirahat dan beban stres pekerjaan. Sebagai gambaran saja, penyakit kanker belakangan ini kerap terjadi di usia yang tidak lagi tergolong tua. Hal ini menandakan polanya sudah bergeser, siapa pun tidak bisa menghindar jika risiko sudah menghampiri.

    Jadi untuk generasi Y, apakah saat ini perlu membuat perencanaan keuangan? Investasi dulu atau proteksi dulu? Karena terlalu lama berpikir, akhirnya tak ada yang dilakukan. Menjawab hal ini, Ligwina Hananto dari QM Financial mengatakan sebelum jauh berbicara mengenai investasi, ada baiknya millennials "lulus" dari step yang paling awal, yaitu kebiasaan keuangan yang baik.

    Ligwina menerangkan, saat seseorang memiliki kebiasaan tersebut, maka ia akan lebih tahan badai dan tahan godaan keuangan apa pun. Caranya, mulailah dari mengukur dua rasio: Menabung dan cicilan. Rasio menabung artinya, rutin menabung minimal 10 persen per bulan. Ini minimalo, jadi kalau ingin menabung 30 persen dari penghasilan rutin, ya lebih baik.

    Sementara rasio cicilan perlu dibatasi maksimal 30 persen. Artinya, pastikan mampu membayar semua cicilan dan hanya mengambil maksimal sepertiga dari penghasilan bulanan. Namun, Ligwina menambahkan, jangan sekadar menabung. Sebab harus menentukan tujuan finansialnya juga. Karena banyak dari generasi Y yang ambisius dan punya tujuan terlalu wah.

    Lima tujuan finansial yang perlu disiapkan adalah: Tujuan hura-hura, asuransi kesehatan, dana darurat, dana pensiun dan properti. Mau liburan, beli tas baru, semuanya harus dipersiapkan, katanya, bukan tunggu gajian. Siapkan rekening khusus yang bisa diisi secara rutin. Kalau dananya sudah cukup untuk sesuatu yang diidamkan, silahkan habiskan. Hura-hura boleh saja, tambahnya, supaya termotivasi mengumpulkan uang lagi. Jadi bukan yang utama, ya.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Generasi Y dan gaya hidup konsumerisme

Tumbuh di era serba praktis, digital dan tenggelam dalam berbagai kesibukan, ternyata justru membuat generasi Y atau yang biasa disebut millennials menjadi konsumtif dan mengalahkan hal-hal yang esensial dengan gaya hidup.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr