Kenapa saya tidak boleh sekantor dengan pasangan?

Saya harus 'resign' jika ingin terus mempertahankan hubungan dengan pasangan. Tapi...

298 views   |   shares
  • Jatuh cinta dapat terjadi pada siapa saja, bahkan kerap tak disangka-sangka. Apalagi pada teman satu kantor yang bertemu setiap hari. Lalu bagaimana jika pada akhirnya keputusan akan menikah pun tiba? Hal ini bisa menjadi masalah, karena banyak perusahaan yang melarang pasangan bekerja dalam satu kantor. Sebetulnya apa yang menjadi masalah jika tetap berada dalam satu lingkungan pekerjaan bersama pasangan?

    Nafila Assegaf dari QM Financial mengatakan bahwa ada fakta membuktikan bahwa beberapa orang berhasil menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan yang juga bekerja satu kantor dengannya, sementara sebagian lainnya justru kacau balau hubungannya. Sementara di Indonesia sendiri, berlaku aturan yang mendasari, yaitu UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 153 ayat (1):

    Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau

  • ikatan perkawinan

    dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan,

  • kecuali

    telah diatur dalam perjanjian kerja (PK), peraturan perusahaan (PP) atau

  • perjanjian kerja bersama

    (PKB).

    Dengan demikian, tak heran bila kita menemui ada perusahaan yang membolehkan pasangan suami-istri bekerja sekantor, namun ada pula yang melarang. Atau bisa juga membolehkan, tapi dengan catatan pasangan tersebut tidak bekerja dalam divisi yang sama, atau divisi yang memiliki keterkaitan erat.

    Nah, biasanya, alasan perusahaan ketika menerapkan larangan suami-istri bekerja di perusahaan yang sama, adalah:

  • 1. Potensi terjadinya konflik kepentingan

    Dalam beberapa bidang, bisa jadi pasangan saling mendiskusikan penawaran yang masuk, padahal sesungguhnya ini adalah informasi yang bersifat confidential. Suami juga bisa, misalnya, mengarahkan istri untuk memenangkan vendor yang ia inginkan.

  • 2. Potensi subjektivitas

    Subjektivitas dalam hal ini mencakup beragam hal, mulai dari penilaian kinerja (performance review), mekanisme reward (misalnya promosi jabatan, pemberian bonus) dan punishment (apabila terjadi kesalahan) dan sebagainya.

  • 3. Potensi imbas konflik pribadi terhadap pekerjaan

    Ketika terjadi masalah dalam rumah tangga yang cukup berat, sangat mungkin berimbas di kantor sehingga mengganggu suasana kerja, bukan?

    Dari beragam alasan tersebut, jelaslah bahwa perusahaan yang memilih untuk melarang, tidak lain untuk mencegah terjadinya situasi yang potensial mengganggu kenyamanan bekerja dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.

    Meski sebetulnya, untuk memberikan kesimpulan soal baik dan tidaknya satu kantor dengan pasangan, bisa diukur dari segi kelebihan dan kekurangan kondisi tersebut. Berikut kelebihan dan kekurangan bekerja satu kantor dengan pasangan seperti dikutip dari laman US News.

  • Kelebihan

    1. Lebih hemat dan efisien, karena bisa berangkat dan pulang bersama-sama, bahkan bisa makan siang bersama

    2. Anda dan pasangan sama-sama tahu siapa saja temannya, apa yang dikerjakan, jadi dapat meminimalisir potensi konflik

    3. Selalu nyambung saat membicarakan masalah kerjaan. Hal ini juga meminimalisir konflik karena saling mengerti dan tahu apa yang dihadapi di kantor

    4. Bisa saling bantu, terutama jika bergerak di bidang atau divisi yang sama

  • Kekurangan

    1. Hubungan jadi cepat terasa membosankan dan tidak ada lagi unsur misterinya

    2. Menjadi kompetitif, khususnya pria karena merasa tertandingi oleh pasangan wanitanya

    3. Jika ada masalah rumah tangga, dapat berpotensi merusak kinerja

    4. Lebih sering berargumen karena banyaknya perbedaan yang dihadapi secara bersamaan di kantor

    5. Berpotensi memicu kecemburuan karena pasangan kerap melihat saat Anda rapat dengan lawan jenis

    6. Potensi konflik rawan terjadi jika salah satu mendapatkan gaji lebih besar

    Jalan tengahnya, jika Anda sedang merencanakan menikah dengan rekan kerja di kantor yang sama, cari sebanyak mungkin informasi mengenai peraturan perusahaan. Apabila diperbolehkan, cari informasi lebih banyak tentang peraturan yang berlaku. Diskusikan dengan atasan dan divisi HRD. Apakah salah satu dari Anda harus pindah divisi, atau pindah tugas menangani proyek atau klien yang berbeda untuk meminimalkan potensi konflik kepentingan. Selalu menjaga profesionalisme pun penting.

    Sementara, apabila memang perusahaan melarang, diskusikan bersama pasangan, siapa yang harus pindah bekerja, dengan mempertimbangkan karier saat ini, potensi pengembangan karier ke depan, penghasilan masing-masing, serta kemudahan untuk pindah ke perusahaan lain.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kenapa saya tidak boleh sekantor dengan pasangan?

Saya harus 'resign' jika ingin terus mempertahankan hubungan dengan pasangan. Tapi...
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr