3 hal penting yang harus dilakukan saat balita mulai keras kepala

Merupakan hal wajar jika di dalam salah satu fase tumbuh kembangnya, balita mengalami saat-saat dirinya menjadi begitu keras kepala. Hal ini tidak perlu diambil hati, orangtua hanya perlu melakukan 3 langkah ini untuk mengatasinya.

512 views   |   3 shares
  • Seringkali kita menghadapi anak yang keras kepala dan sulit diatur. Ada masa ketika anak-anak berusia 2-5 tahun menjadi suka melawan dan keras kepala. Ini adalah fase perkembangan jiwa anak, saat anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dari orang-orang dewasa terutama orangtuanya.

    Akan tetapi sebagai orangtua, tentu saja Anda tidak boleh menyerah dan membiarkan begitu saja. Sangat dibutuhkan kesabaran untuk mendidik anak yang mulai keras kepala. Pertumbuhan pribadi yang akan Anda alami begitu berharga saat Anda mengasuh dengan empati, kearifan, dan kasih sayang, meskipun tenaga Anda akan terkuras dan menarik Anda keluar jauh dari zona nyaman Anda.

    Karena itu, L.R Knost, seorang peneliti perkembangan anak dan direktur dari the advocacy dan consulting group, Little Hearts/Gentle Parenting Resources mengatakan bahwa, ini adalah awal yang baik untuk kembali ke Tiga K disiplin yang lembut -Koneksi, Komunikasi, Kerja sama.

  • Koneksi

    Sangat penting untuk memelihara hubungan yang aman dengan anak. Hubungan ini merupakan sumber bagi semua interaksi Anda dengan sang anak, dan tempat Anda dan anak akan terus-menerus kembali ketika hubungan Anda menjadi tegang dan memanas.

    • Bermain kata-kata, board game, bermain kejar-kejaran di luar, membuat aneka ekspresi wajah di cermin. Bermain adalah bahasa anak-anak, maka pastikan bahwa Anda berbicara dengan bahasa anak Anda setiap hari.

    • Tertawa bersama. Rasa humor adalah alat parenting yang diremehkan. Tetapi humor menurunkan pertahanan diri, membuat tersenyum, mendekatkan orang, dan menghubungkan hati.

    • Baca buku cerita, buku tebal, brosur, ensiklopedia, apa pun yang akan menginspirasi Anda dan anak untuk bermimpi bersama, berbicara, merencanakan, bersemangat, dan berbagi ketertarikan.

    • Fokuslah kepada siapa anak Anda ketimbang apa yang anak Anda lakukan. Ingatlah bahwa Anda sedang membesarkan seseorang, bukan memperbaiki masalah.

  • Komunikasi

    Anak-anak memiliki 'dunia internal' mereka sendiri yang terdiri dari pikiran, rencana, masalah, kekhawatiran, harapan, dan impian yang menyita waktu serta perhatian mereka, maka kurangnya kerja sama dari mereka hanyalah hasil dari agenda mereka yang berbeda dengan agenda kita. Memahami 'dunia internal' tersebut adalah kuci dalam membimbing dan membesarkan mereka dengan hormat.

    • Dengarkan dengan hati Anda. Dengarkan apa yang tersirat dari apa yang sang anak komunikasikan melalui perilaku mereka. Dengarkan dan dengarkan lagi. Ini adalah langkah pertama dalam berkomunikasi dengan sang buah hati.

    • Reflect, connect, and redirect. Hal ini tidak hanya memvalidasi emosinya dan memberitahunya bahwa Anda mendengarkan dan mengertinya, tetapi juga membantunya untuk mengerti emosinya sendiri. Sebagai contoh, jika anak Anda marah karena tidak bisa makan kue setelah menggosok gigi, cobalah katakan, "Ibu mengerti kok. Kamu marah karena kamu ingin makan kue," Lalu bangun kembali hubungan Anda, "Ibu juga suka kue!" dan berikan solusi, "Bagaimana kalau besok pagi kita taruh dua kue di wadah spesial yang bisa kita bawa ke taman?"

    • Jangan anggap ketidakpatuhan sebagai penghinaan. Fokuslah untuk mengajaknya bekerja sama ketimbang menuntutnya untuk patuh.

    • Berkomitmen dengan teguh untuk tidak menghukum untuk mengontrol perilaku. Kebencian yang datang dari dihukum, di benak sang anak, membebaskannya dari tanggung jawab. Hukuman tidak mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab, dan kebencian dapat menimbulkan perilaku yang Anda coba hindari.

    • Berkomunikasi setiap hari tentang aspek positif dari kepribadian anak kepada anak Anda serta diri Anda sendiri. Ketika Anda terfokus kepada 'memperbaiki' anak, ia akan mengerti bahwa ia rusak, dan ini bukanlah pandangan diri sehat yang akan tumbuh bersamanya.

    • Ingatlah bahwa anak-anak, terutama ketika mereka marah, 'bercakap-cakap' melalui perilaku mereka, dan terserah kitalah sebagai satu-satunya orang dewasa di dalam hubungan ini untuk secara lembut membimbing mereka.

    • Juga patut diingat adalah bahwa kebiasaan sosial yang kasar bukanlah bawaan lahir dan tidak terjadi pada tahap awal interaksi kita dengan anak. Kebiasaan ini mereka pelajari dengan mengimitasi bagaimana kita sebagai orangtua berperilaku.

  • Kerja sama

    Selalu taruh di depan bahwa dalam pola pengasuhan Anda, yang Anda cari adalah kerja sama bermakna, bukan kepatuhan tanpa arti. Maka Anda akan selalu ingat untuk memperlakukan anak Anda sebagai individu dengan gagasan dan kebutuhan dan perasaannya sendiri ketimbang drone tanpa otak yang selalu melakukan apa pun yang Anda perintahkan.

    • Buatlah aturan yang jelas dan terangkan kepada anak dalam kata-kata yang sesuai dengan usianya. Ingatlah bahwa jika Anda ingin anak bekerja sama, Anda harus mengajaknya untuk bekerja sama!

    • Batasi jumlah aturan. Anak-anak seringkali merasa tertekan akibat emosi dan reaksi mereka yang intens, maka dukung mereka dengan membuat hanya beberapa peraturan, yang harus jelas, dan pelihara peraturan-peraturan tersebut secara konsisten.

    • Pastikan anak Anda memiliki suara dalam menentukan batasan agar ia merasa memiliki kendali atas hidupnya dan agar merasa bertanggung jawab atas batasan yang ada.

    • Pikirkan bersama cara untuk membentuk kerja sama. Beberapa gagasan perlu disampaikan dengan isyarat tangan atau kata-kata sebagai kode rahasia untuk mengindikasikan bahwa sudah waktunya untuk pulang atau mengerjakan PR atau menurunkan volume televisi.

    • Ajak anak untuk bekerja sama dengan membuat rutinitas harian bersama. Jangan terkejut jika anak Anda menjadi satu-satunya yang ngotot untuk menjalani rutinitas, dan bahkan menuntut Anda untuk menjalaninya.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

3 hal penting yang harus dilakukan saat balita mulai keras kepala

Merupakan hal wajar jika di dalam salah satu fase tumbuh kembangnya, balita mengalami saat-saat dirinya menjadi begitu keras kepala. Hal ini tidak perlu diambil hati, orangtua hanya perlu melakukan 3 langkah ini untuk mengatasinya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr