Ibu, adalah orang yang paling mengenal kita. Sudahkah kita benar-benar mengenalnya?

Sudahkah Anda benar-benar mengenal wanita yang melahirkan dan membesarkan Anda?

359 views   |   5 shares
  • Setiap kita pasti memiliki seorang ibu yang dengan sepenuh jiwa dan raganya tulus membesarkan, mendidik dan mencintai semua anak-anaknya. Para ibu, adalah orang pertama yang paling mengenal siapa anaknya, dari semua aspek. Ya, sebab, koneksi yang terjadi sudah terbangun sejak kita masih berada di dalam rahimnya hingga dilahirkan dan tumbuh dewasa.

  • Ia lah yang paling mengenal perubahan mimik, hal-hal yang paling kita suka dan benci. Ia yang tahu benar, makanan kesukaan kita, warna favorit, hingga karakter yang kita bawa sejak lahir serta berbagai perubahan yang terjadi dalam proses tumbuh kembang kita. Hal ini tak akan dapat dipungkiri, apalagi jika Anda adalah orang yang selalu mencari ibu saat menghadapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan sejak kecil hingga dewasa.

  • Ibu, adalah manusia yang paling mengenal kita. Namun, apakah kita sudah benar-benar mengenalnya? Apakah Anda tahu, apa hal yang paling disuka dan dibencinya? Apakah Anda sudah memahami makna perubahan wajahnya, dan apa yang terjadi dengannya? Apakah Anda tahu warna kesukaannya, makanan favoritnya, hingga apa hal yang paling sering membuatnya terbahak?

  • Sebab tak jarang, anak justru menempatkan dirinya berada dalam posisi yang dianggap tidak adil, saat harus berhadapan dengan ibu. Ada saja hal yang membuat anak merasa tidak nyaman dengan segala aturan, atau keinginan ibu. Yang terjadi kemudian, kita mulai merasa tertekan dengan hal-hal yang selalu dianggap sebagai tuntutan itu.

  • Ini yang menimbulkan rasa ingin menang terhadap ibu sendiri. Dan pada akhirnya bukannya menyelesaikan masalah tapi menambahnya dengan segala macam efek samping seperti penolakan, pemberontakan, pelampiasan, dendam, dan sebagainya. Terlebih lagi, semakin tua usia, semakin sifat "kekanakan" itu mendominasi. Dengan kata lain, lanjut usia/usia lanjut, ibu semakin terlihat seperti anak kecil. Ini yang membuat jarak, dan kita jadi tak ingin mengenalnya lebih dalam.

  • Padahal, kita tak kan pernah memahami posisi ibu, jika kita sendiri belum pernah berdiri di tempat yang sama. Coba kini, setelah dewasa, kita renungi mengapa ibu bisa memarahi kita karena lupa mematikan lampu atau bersikap terlalu cuek pada kebersihan dan kerapian rumah? Iya, kini sudah paham kan bahwa memelihara selalu lebih baik ketimbang membetulkan. Dan membayar listrik itu tidak murah.

  • Ibu, adalah tiang keuangan rumah tangga. Ia harus pintar mengatur pemasukan dan pengeluaran, agar masih ada yang bisa disimpan untuk kemudian hari. Demi siapa? Tentunya demi masa depan anak-anaknya. Ibu, adalah manusia yang sangat kuat dan tidak pernah bisa mementingkan dirinya sendiri. Ya, tenggelam dalam profesi sebagai ibu selalu menempatkan anak di atas segala keinginannya.

  • Advertisement
  • Ia mungkin terlihat hobi membaweli anak-anaknya, bahkan hingga hal terkecil. Namun pernahkah Anda menanyakan, apa kabar ibu hari ini, saat ia sedang mengomel? Ya, karena ia selalu terlihat tegar, Anda tidak berpikir bahwa ada begitu banyak kelelahan dan kebingungan dalam hatinya yang tak terselesaikan.

  • Lalu ketimbang mendengarkan sarannya yang untuk Anda terasa membosankan, Anda malah meninggalkannya atau bahkan melawan. Padahal saran itu muncul dari orang yang sudah melewati begitu banyak hal, sehingga bisa membantu Anda melewati sesuatu yang sudah pernah dihadapinya.

  • Bagaimana mungkin kita tak mau mendengarkan sarannya, padahal menurut sebuah studi di Rumah Sakit Brigham and Women's di Boston mengatakan bahwa suara detak jantung dan suara yang keluar dari mulut seorang ibu adalah kunci pertumbuhan otak bayi? Sebuah studi lanjutan yang ditulis dalam Proceedings of the National Academy of Science menyatakan bahwa bayi yang tumbuh dengan mendengarkan suara ibu, memiliki auditory cortex, bagian otak untuk mendengar, yang lebih besar.

  • Sebuah penelitian yang ditulis dalam American Sociological Review mengungkap bahwa ayah lebih menikmati pengasuhan anak, karena merekalah yang banyak melakukan kegiatan bersenang-senang. Sementara ibu, lebih banyak melakukan tugas beratnya. Profesoor Ann Meier dari Universitas Minnesota, salah seorang penelitinya, menjelaskan bahwa ibulah yang dicari anak jika terbangun dalam tidur, atau kesulitan melakukan sesuatu. Ini yang membuat ayah tidak selelah ibu saat mengasuh anak.

  • Ya, Ibu kurang tidur, kelelahan dan ini membuatnya sering mengomel. Dan pada akhirnya hanya membuat anak marah, dan tidak berusaha untuk memberikan empati.

  • Pernahkah kita sama-sama menyadari bahwa sebetulnya Ibu hanya butuh ditanya, ia hanya butuh dibiarkan melakukan hal-hal yang disenanginya dengan tenang, seperti mengurus tanaman, membaca buku atau bahkan menonton acara musik lawas di televisi? Lalu jika kita tidak pernah berusaha mengenalnya, bagaimana mungkin kita bisa menyayanginya?

  • Semua orang pernah melakukan kesalahan, begitu juga dengan ibu kita. Kita tak pernah bisa mencari solusi agar kesalahan tak berulang, jika kita tak pernah berusaha untuk mengenal lebih jauh. Jadi, sudahkah kita mengenal Ibu, seperti ia mengenal kita?

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ibu, adalah orang yang paling mengenal kita. Sudahkah kita benar-benar mengenalnya?

Sudahkah Anda benar-benar mengenal wanita yang melahirkan dan membesarkan Anda?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr