Mengatasi perbedaan; bersaing atau bekerja sama?

Bersaing adalah hasrat mendasar manusia. Namun, haruskah terus dimanjakan acapkali berhadapan dengan perbedaan? Bagaimana jika dibandingkan dengan melakukan kerja sama agar saling mengisi dalam mengatasinya?

145 views   |   shares
  • Di mana pun kita berada, dan berinteraksi dengan manusia lain, di situ akan timbul perbedaan. Sebab, manusia bukan mesin yang segala-galanya dapat diseragamkan. Hal ini bisa menjadi masalah, jika kita menghadapinya dengan emosi dan terlalu penuh persaingan, sehingga sulit menerima pendapat orang lain. Namun, akan menjadi berbeda jika disikapi dengan kemampuan mengenal seseorang dengan baik sehingga dapat mencari selah bekerja sama.

  • Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono menjelaskan, bahwa kerja sama bukanlah suatu konspirasi. Kerja sama adalah upaya bersama untuk saling dukung-mendukung bergotong-royong demi mencari manfaat bersama dan bukan untuk mencari kelemahan atau mengintip kelengahan pihak lain, tidak untuk menunggangi dan merampok pihak lain yang lebih lemah dan lengah.

  • Sri Edi Swasono menyesali para akademisi dan kaum intelektual yang juga telah mengalami kesalahan dalam berpikir tentang kerja sama. Ia menyebutkan kesalahan para akademisi ini akibat dari keterjajahan akademis (academic hegemony) dan kemiskinan akademis (academic poverty).

  • Ia juga menjelaskan bahwa dalam forum kerja sama yang lebih tepat digunakan bukanlah perkataan "daya saing" (competitive advantage), tetapi adalah "daya kerja sama" (co-operative advantage). Persaingan dan kerja sama, keduanya merupakan realita. Untuk merukunkan keduanya diciptakan perkataan "co-operation", artinya mengatur persaingan melalui kerja sama yang baik.

  • Kerja sama, sebetulnya merupakan salah satu fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Semakin modern seseorang maka ia akan semakin banyak bekerja sama dengan orang lain, bahkan seakan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu tentunya dengan perangkat yang modern pula. Menekankan hal ini, harus dimulai sejak masa kanak-kanak.

  • Sebab, anak tidak lahir dengan dorongan berkompetisi, tapi belajar untuk itu. Menurut Dr. Chintya E. Johnson dari North Carolina State University, anak-anak tidak mulai membandingkan diri dan bersaing dengan anak lain sampai usianya 5 tahun. Meski demikian, mereka belum paham makna kompetisi. Mereka senang bermain dan menang, tapi mudah kehilangan minat jika kalah. Pada usia 10 - 11 tahun barulah anak dapat menerima kekalahan dengan besar hati. Masalah-masalah lebih besar bisa muncul ketika keinginan orangtua agar anaknya menjadi pemenang justru lebih mendominasi.

  • Pada dasarnya, anak-anak suka menyenangkan hati orangtua dan gurunya. Jika menang menjadi pengalaman menyenangkan, maka kalah bisa menjadi sesuatu yang serius. Usia yang masih muda membuat mereka belum siap menerima kritik, merasa tertekan, malu atau tidak berharga. Jika 'menang' terus-menerus ditekankan, maka anak akan belajar untuk menempuh segala cara.

  • Advertisement
  • Ketika banyak orang percaya bahwa kompetisi adalah jalan menuju kesuksesan, para ahli telah banyak melakukan riset sejak akhir 1800-an yang membuktikan bahwa bekerja sama justru memberikan lebih banyak manfaat bagi anak-anak. Dalam kerja sama, anak menumbuhkan keinginan untuk bekerja bersama orang lain mencapai tujuan bersama, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, berkomunikasi yang lebih baik, empati, serta menumbuhkan rasa menjadi bagian dari sebuah kelompok.

  • "Kerja sama dapat mengeluarkan hal-hal terbaik dalam diri kita, dan ini telah terbukti dalam berbagai bidang." kata Perry W. Buffington, Ph.D, seorang psikolog dari Florida. Anak-anak yang pandai bekerja sama, biasanya memiliki nilai tinggi di sekolah. Orang-orang yang memiliki kemampuan kerja sama yang baik cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi. Kerja sama juga meningkatkan kreativitas.

  • Ligwina Hananto dalam bukunya "Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin", menekankan bahwa kita harus sadar akan besarnya potensi dalam diri kita, kita juga harus sadar dengan segala ancaman ekonomi yang serba tidak kelihatan. Terutama inflasi yang terus menerus menggerogoti uang kita. Kita harus pandai mengelola itu semua. Sehingga ketika kita kuat, maka kekuatan itu tidak hanya kembali pada diri kita masing-masing tetapi juga dapat bermanfaat untuk orang lain.

  • Kita yang kuat ekonomi akan dapat membantu di bidang ekonomi. Kita yang kuat di bidang akademis, maka akan dapat membantu di bidang akademis. Begitu juga yang di medis dan lain-lain. Maka kekuatan di bidangnya masing-masing akan banyak mendorong bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Hal-hal seperti ini yang menjadi dasar pentingnya kerja sama.

  • Karena itu, baik di ranah pekerjaan maupun berhubungan dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya, akan lebih baik jika yang dilakukan adalah mempelajari kekuatan dan kelemahan masing-masing. Agar di kemudian hari dapat saling melengkapi, dan menjadi tim yang solid dalam mengatasi berbagai permasalahan.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mengatasi perbedaan; bersaing atau bekerja sama?

Bersaing adalah hasrat mendasar manusia. Namun, haruskah terus dimanjakan acapkali berhadapan dengan perbedaan? Bagaimana jika dibandingkan dengan melakukan kerja sama agar saling mengisi dalam mengatasinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr