Trik menghadapi anak berkarakter dominan

Mengasuh anak berkarakter dominan seringkali menjadi kesulitan orangtua. Padahal sebetulnya tidak juga 'kok.

921 views   |   15 shares
  • Karakter anak Anda berkemauan keras? Tidak mau diatur, dan lebih senang mengatur? Bahkan kelihatannya seperti tidak mau mendengarkan apa kata orang lain? Ya, ia dominan. Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri, sebab memang tipikal ini merupakan tantangan ketika mereka masih kecil, tetapi jika diasuh dengan peka, mereka menjadi remaja yang luar biasa.

  • Apakah sebenarnya anak dominan itu? Beberapa orangtua menyebut anak-anak ini sebagai "sulit" atau "keras kepala", tetapi kita juga bisa melihat anak-anak dominan sebagai individu berintegritas yang tidak mudah terpengaruh. Mereka penuh semangat dan berani. Selalu ingin belajar sendiri ketimbang menerima apa yang orang lain bilang. Mereka sangat ingin "bertanggung jawab" atas diri mereka sendiri, dan terkadang akan menempatkan keinginan mereka "di atas" segalanya. Anak-anak ini memiliki hasrat yang menggebu-gebu dan nekat.

  • Demikian seperti dibahas dalam sebuah artikel di AHA Parenting.com asuhan Psikolog, dr. Laura Markham. Menanganinya mungkin tidak mudah, namun selalu ada cara. Sebab sebetulnya, anak dominan tidaklah sengaja bersikap sulit. Mereka merasa bahwa integritas mereka terganggu jika mereka terpaksa untuk menuruti kehendak orang lain. Jika Anda merasa terganggu akan hal ini karena Anda merasa bahwa kepatuhan adalah kualitas yang penting, sebaiknya Anda berpikir ulang.

  • Tentu saja Anda ingin membesarkan anak yang bertanggung jawab, bertenggang rasa, dan kooperatif yang selalu melakukan hal yang benar. Tetapi hal ini bukanlah kepatuhan, melainkan melakukan hal yang benar karena Anda menginginkannya.

  • Mematahkan kehendak anak akan membuatnya mudah terpengaruh orang lain yang seringkali tidak menginginkan yang terbaik baginya. Terlebih lagi, mematahkan kehendak anak adalah pengkhianatan kontrak spiritual yang kita buat sebagai orangtua.

  • Jadi, bagaimanakah cara kita melindungi kualitas luar biasa tersebut dan mendukung kerja sama mereka?

  • 1. Anak belajar dari pengalaman

  • Ini berarti bahwa mereka harus menyentuh untuk memastikan bahwa kompor itu panas. Kecuali Anda khawatir akan cedera yang serius, akan lebih efektif jika Anda membiarkan anak untuk belajar dengan mengalami ketimbang mencoba mengontrol mereka.

  • 2. Anak dominan ingin menguasai

  • Biarkan si kecil memimpin kegiatan sebanyak mungkin. Jangan mengomelinya untuk menggosok gigi; tanyakan "Apa lagi yang kamu butuhkan sebelum kita pergi?" Jika dia terlihat bingung, bacakan daftar pendeknya: "Setiap pagi kita sarapan, menggosok gigi, menggunakan toilet, dan menyiapkan tas. Ibu melihat kamu sudah menyiapkan tasmu. Kerja yang bagus, nak."Anak-anak yang merasa mandiri dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri tidak merasa perlu untuk menentang. Terlebih lagi mereka sudah bertanggung jawab sejak dini.

  • Advertisement
  • 3. Berikan pilihan

  • LR. Knost, dalam bukunya; Gentle Parenting Resources mengatakan, jika Anda memberikannya pilihan, ia merasa bahwa ia adalah penguasa nasibnya sendiri. Tentu saja Anda hanya akan memberikan pilihan yang Anda setujui dan jangan biarkan diri Anda menjadi sebal dengan memberikan kekuasaan Anda. Misalnya dengan: "Apakah kamu ingin pergi sekarang atau 10 menit lagi? Oke, 10 menit tanpa lagi tanpa marah-marah ya. Ayo kita berjabat tangan. Dan karena ibu mengerti susah untuk berhenti bermain dalam 10 menit, apa yang bisa ibu lakukan untuk membantumu?"

  • 4. Berikan otoritas atas tubuhnya sendiri

  • "Ayah dengar kamu tidak mau memakai jaketmu sekarang. Ayah rasa di luar dingin dan ayah sendiri memakai jaket. Kamu tentu saja boleh tidak memakai jaket selama kamu aman dan sehat. Bagaimana kalau ayah menaruh jaketmu di dalam tas, dan kamu bisa memakainya nanti begitu kamu mau?"Saat ia tidak malu lagi untuk mengenakan jaketnya, ia akan meminta jaketnya begitu ia kedinginan. Sebab ia yakin bahwa ia benar -tubuhnya sendiri yang memberitahunya- maka ia pun secara naluriah menolak Anda.

  • 5. Gunakan rutinitas dan aturan

  • Dengan cara ini, Anda bukanlah diktator yang memerintah dengan semena-mena. Sebagai contoh:

  • "Aturannya adalah kita menggunakan toilet setelah setiap makan dan kudapan ringan,"atau"Jadwalnya adalah lampu harus dimatikan jam 8 malam. Kalau kamu bergegas, kita bisa membaca dua buku."

  • 6. Jangan mendorongnya untuk menentang Anda

  • Pemaksaan selalu menciptakan perlawanan -dengan manusia berbagai umur. Ketika Anda ragu, katakan: "Oke, kamu bisa memutuskan sendiri." Jika ia tidak bisa, sebutkan bagian apa di mana ia bisa memutuskan sendiri, atau temukan cara lain baginya untuk memenuhi kebutuhan otonominya tanpa mengorbankan kesehatan atau keselamatannya.

  • 7. Biarkan anak menjaga nama baiknya

  • Anda tidak perlu membuktikan bahwa Anda benar. Anda bisa, dan harus, menetapkan ekspektasi yang masuk akal dan menegakkannya. Tetapi Anda sama sekali tidak dibenarkan untuk mematahkan kehendaknya atau memaksanya untuk menyetujui pandangan Anda.

  • 8. Dengarkan

  • Anda hanya akan bisa mengerti apa yang membuat ia menentang Anda jika Anda mendengarkannya dengan tenang dan merefleksikan kata-katanya. Sebuah contoh yang tidak menghakimi: "Ibu dengar kamu tidak mau mandi. Coba kamu beri tahu ibu kenapa kamu tidak mau mandi."

  • 9. Lihat dari sudut pandangnya

  • Advertisement
  • Perlakukan anak Anda seperti apa Anda ingin diperlakukan.

  • 10. Disiplin melalui hubungan, bukan melalui hukuman

  • Anak-anak bertingkah karena mereka ingin menyenangkan kita. Semakin Anda memerangi dan menghukum anak Anda, semakin Anda merusak keinginannya untuk menyenangkan Anda.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Trik menghadapi anak berkarakter dominan

Mengasuh anak berkarakter dominan seringkali menjadi kesulitan orangtua. Padahal sebetulnya tidak juga 'kok.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr