Mengajak anak travelling dan melakukan petualangan menantang. Why not?

Mengajak anak melihat alam liar adalah hal yang menyenangkan untuknya. Mengapa Anda harus khawatir?

118 views   |   2 shares
  • Kedua orangtua saya adalah petualang. Artinya, mereka amat gemar berjalan-jalan, ke berbagai daerah, kota hingga pedalaman. Membuat tenda saat hiking ke pegunungan, bermain pasir, berenang di lautan, berkenalan dengan penduduk asli, memotret aktivitasnya, menikmati berbagai makanan dari banyak tempat. Hal ini, pada awalnya memang bermula dari pekerjaan yang mengharuskan mereka tidak selalu duduk di belakang meja, melainkan berkeliling.

  • Ini juga yang membuat saya membiasakan anak saya untuk berpetualang, ya, tidak selalu nyaman dan jauh dari kemewahan, namun saya yakin, pelajaran kehidupan akan didapatkannya. Anak, yang tumbuh dalam situasi dan lingkungan yang selalu nyaman, tanpa duri, tanpa halangan dan selalu ada orang yang siap membantunya, tidak akan menjadi kuat. Itu yang saya percaya.

  • Karena itu, tak ada keraguan sedikit pun saat di usianya yang 1,5 tahun saya pertama kali mengajaknya snorkeling di tengah lautan luas. Saya percaya diri, dan percaya padanya, karena itu saya berani menantang limit-nya. Namun tentu saja, hal ini tidak dilakukan dengan spontan layaknya bepergian dengan orang dewasa. Biar bagaimanapun banyak hal yang harus diingat saat mengajak anak berpetualang. Berikut yang biasanya saya lakukan:

  • 1. Membuat perencanaan sematang-matangnya

  • Sejak rencana kepergian, saya akan menyiapkan segala kebutuhannya. Saat ia masih di bawah tiga tahun, ia tidak perlu melakukan apa pun, semua sudah siap sedia. Namun saat ia mulai menginjak usia 3 tahun, saya sudah memintanya untuk menyiapkan baju dan barang pribadinya, saya hanya membantunya memilih dan memilah.

  • Perencanaan tentunya juga termasuk mencari segala informasi terkait tempat yang hendak dikunjungi. Saat tiket, dan kepentingan akomodasi serta hal-hal penting telah dipersiapkan, maka itinerary wajib dibuat. Jangan lupa juga back up plan-nya. Setelah itu tentunya saya harus mengetahui dengan detail apa saja yang akan kami hadapi nantinya.

  • Misalnya pergi ke laut, saya harus paham benar nanti kami akan dipandu oleh siapa, lalu seperti apa perkiraan cuaca di hari itu, dan apa saja yang ada di dalam air. Karenanya, menyiapkan segala bentuk preventif seperti mengetahui ada atau tidaknya tenaga kesehatan, mempersiapkan obat-obatan, hingga memastikan tindakan apa yang harus dilakukan jika ada kejadian bahaya harus dipahami sebelumnya.

  • 2. Memberitahu rencana tersebut kepada anak

  • Entah ia mengerti atau tidak (terutama untuk anak yang masih kecil), saya tetap membiasakan untuk membahas itinerary dan segala bentuk rencana yang telah dipersiapkan. Bahkan saat ia mulai besar, ia pun bisa menambahkan atau mengganti rencana dengan sesuatu yang ia minati. Akan lebih mudah, jika saat diskusi dibantu dengan menonton video tentang tempat tersebut, melihat foto hingga mempelajari peta lokasi.

  • Advertisement
  • Diskusi ini pun bisa juga menjadi ajang untuk mempertimbangkan benda kesukaan apa saja yang bisa ia bawa, dan tidak. Hal ini biasanya berkaitan dengan bagasi atau kesulitan membawa barang yang berat. Juga mendiskusikan medan yang akan dihadapinya. Agar ia siap, saya pun biasanya mengajak ia untuk menjaga kesehatan agar tidak sakit selama perjalanan.

  • 3. Pentingkan kualitas daripada kuantitas

  • Itenerary perjalanan akan sangat menentukan kualitas petualangan saya bersama si kecil. Karena itu, biasanya saya akan membuat rencana perjalanan yang disesuaikan dengan kemampuannya, atau sedikit di atasnya. Misalnya memastikan ada tempat istirahat, atau tempat untuk ngemil dan minum saat ia kelaparan. Sebaiknya juga tidak terlalu banyak tempat wisata dijejalkan dalam satu hari, Karena anak yang terlalu lelah tidak bisa menikmati perjalanannya.

  • 4. Fokuskan pada anak

  • Pergi bersama anak, wajib memahami tempat yang ramah anak. Tidak semena-mena menulis seharian pergi berbelanja sejak pagi hingga malam, karena akan membuatnya bosan dan lelah. Atau, cari tahu sedetail mungkin restoran yang makanannya bisa dikonsumsi anak, sebab tanpa makanan sehat, ia akan lebih mudah sakit. Begitupun tempat menginap yang tidak berada di lingkungan hiburan malam atau rawan tindak kejahatan. Sebab jam istirahat anak selama bepergian amat penting untuk menjaga staminanya.

  • Di sinilah pentingnya back up plan, karena anak bisa saja kelelahan di tengah perjalanan dan membutuhkan waktu tidur siang, maka jangan terlalu saklek dengan itinerary. Persiapkan saja alas tipis yang bisa digelar di taman atau lokasi yang cukup nyaman agar ia bisa tidur saat benar-benar kelelahan.

  • 5. Koordinasi dengan pasangan

  • Jangan pernah repot sendiri. Selain berdiskusi dengan anak, lakukan juga diskusi matang dengan pasangan. Ajak ia berbagi tugas sejak sebelum keberangkatan. Sebab ayah ibunya harus kompak dulu, dan saling bekerja sama dengan baik, agar anak pun dapat merasa tetap aman dan merasakan petualangan yang menyenangkan.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mengajak anak travelling dan melakukan petualangan menantang. Why not?

Mengajak anak melihat alam liar adalah hal yang menyenangkan untuknya. Mengapa Anda harus khawatir?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr