Ketogenik. Seperti apa diet model baru yang satu ini?

Ada begitu banyak metode yang dillakukan dengan tujuan menurunkan berat badan, atau memiliki tubuh yang lebih sehat. Pada umumnya diet berbasis rendah lemak, namun ketogenik sebaliknya, justru memanfaatkan lemak sebagai sumber energi.

419 views   |   6 shares
  • Diet bernama ketogenik sebetulnya bukan hal baru, sebab metode diet yang dikembangkan oleh Dr. R. M. Wilders pada tahun 1920 ini pada awalnya digunakan untuk mengurangi kejang pada para pasien epilepsi. Sebab, penderita epilepsi dari kalangan anak-anak dan remaja kadang sangat sulit dikontrol, jika obat yang diberikan pada pasien ini tidak mampu mengatasi kejang yang sering terjadi, dokter biasanya akan merekomendasikan diet ketogenik.

    Namun seiring dengan perkembangan zaman, metode ini juga kerap digunakan untuk mengatasi masalah kegemukan. Lalu apa sih yang disebut dengan ketogenik? Sering juga disebut diet low carb high fatatau LCHF, _metode diet_

    ketogenicadalah mengonsumsi sedikit sekali karbohidrat; umumnya kurang dari 20 gram sehari, agar tubuh kita berada dalam keadaan ketosis.

    Keadaan ketosisadalah ketika tubuh tidak lagi menggunakan glukosa untuk menghasilkan energi, melainkan menggunakan menggunakan ketone. Ini adalah asam dalam darah yang dihasilkan tubuh, hasil pembakaran lemak ketika kita tidak lagi mengonsumsi karbohidrat atau gula. Keton inilah yang bisa digunakan sebagai sumber energi oleh berbagai jaringan dalam tubuh, terutama otak.

    Nina Teicholz di bukunya The Big Fat Surprise, menuliskan bahwa rekomendasi untuk mengonsumsi diet rendah lemak dan tinggi "serat dan karbohidrat kompleks" ternyata basisnya sangat lemah. Dan melihat keadaan kesehatan masyarakat Amerika serikat sejak piramida makanan (yang bercermin dari pola makan tersebut) dilansir USDA pada 1982, obesitas justru semakin banyak.

    Apa kelebihan dari melatih tubuh dengan menggunakan ketone sebagai "bahan bakar" tubuh, dan bukan glukosa? Sistem pencernaan manusia memecah karbohidrat yang masuk menjadi gula yang kemudian diubah menjadi glukosa atau gula darah. Glukosa ini digunakan tubuh sebagai sumber energi dan mengabaikan lemak serta senyawa lainnya.

    Karena itu, menurut buku The Ketogenic Diet: A Complete Guide for the Dieter and Practitioner, menuliskan selama kita masih mengonsumsi karbohidrat, lemak di tubuh kita tidak akan berkurang. Jangan terbuai dengan janji karbohidrat kompleks, karena hasil akhir ketika diurai di dalam tubuh kita tetap saja gula. Dengan membatasi asupan karbohidrat maka glukosa dapat ditekan sedemikian rupa sehingga jumlahnya tidak cukup untuk dijadikan sumber energi oleh tubuh, keadaan ini membuat tubuh mengambil senyawa lain seperti lemak untuk diubah menjadi energi.

    Kelebihan lain ketogenic dietdisebutkan dalam buku Keto-Adaptedoleh Maria Emmerich yang mengatakan bahwa sistem pencernaan akan membaik, energi bertambah, dan kulit akan terlihat lebih cerah.

    Berbagai penelitian terkait dengan tehnik ini telah dilakukan, hasilnya adalah metode ini lebih cepat dalam menurunkan berat badan dibanding dengan metode lain seperti diet rendah lemak. Perlu dicatat bahwa pengguna dapat melihat hasilnya hanya dalam 6 bulan pertama, sedangkan untuk diet rendah lemak baru bisa sejajar dengan hasil yang ditunjukkan oleh ketogenik dalam dua tahun kemudian.

    Meskipun metode ini baik untuk penderita epilepsi, bukan berarti tanpa efek samping. Tercatat ada beberapa efek samping yang kadang ditemukan pada para pelakunya. Berikut adalah beberapa efek samping diet ketogenik yang harus diwaspadai seperti dikutip dari beberapa jurnal kesehatan online.

  • 1. Muntah dan mual-mual

    Saat keton masuk ke otak maka intensitas kejang dapat ditekan sedemikian rupa. Sayangnya aliran darah yang dipenuhi dengan keton sering menyebabkan mual dan muntah sehingga dokter biasanya akan memberikan sedikit asupan karbohidrat untuk mengusir mual serta muntah-muntah tersebut.

  • 2. Susah BAB

    Karena metode diet ini rendah akan serat maka kemungkinan besar pelakunya akan mengalami kesulitan dalam buang air besar. Oleh sebab itu dokter pada umumnya memberikan pencahar untuk pasiennya agar pasien tidak lagi mengalami kesulitan saat buang air besar.

  • 3. Lemak darah tidak normal

    Karena diet ini menggunakan lemak sebagai sumber energinya maka secara tidak langsung meningkatkan kadar lemak dalam darah, artinya kolesterol juga meningkat.

  • 4. Batu ginjal

    Tercatat 3 sampai 7% anak yang menjalankan diet ketogenik bermasalah dengan batu ginjal, seperti yang dinyatakan oleh Dr. Eric Kossoff pada tahun 2009 dalam sebuah jurnal berjudul Epilepsia, pembentukan batu ginjal bisa disebabkan oleh kadar asam urat yang tinggi.

  • 5. Kelainan pada tulang dan pertumbuhan

    Magnesium, kalsium dan amino ditekan sedemikian rupa dalam diet ketogenik, hal ini menyebabkan tulang dan pertumbuhan seseorang akan terganggu. Selain mengganggu pertumbuhan, hal ini juga dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap patah tulang. Oleh karenanya para ahli merekomendasikan para penggunanya untuk mengonsumsi suplemen kalsium, magnesium dan amino.

    Kelima efek samping di atas sering tidak disadari oleh para pelakunya, meskipun berbahaya namun jika mengikuti semua yang dianjurkan oleh dokter kita akan terlepas dari semua hal buruk tersebut.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ketogenik. Seperti apa diet model baru yang satu ini?

Ada begitu banyak metode yang dillakukan dengan tujuan menurunkan berat badan, atau memiliki tubuh yang lebih sehat. Pada umumnya diet berbasis rendah lemak, namun ketogenik sebaliknya, justru memanfaatkan lemak sebagai sumber energi.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr