Kembali ke Sekolah Sebagai Seorang Ibu Tunggal

Pada usia 38 tahun, saya mengalami perceraian pertama saya. Saya menemukan diri saya sebagai “ibu rumah tangga yang telah meninggalkan perannya” sebagaimana yang telah didefinisikan di kota tempat saya tinggal.

577 views   |   1 shares
  • Menemukan sumber potensi Anda dalam area pendidikan di luar rumah.

  • Pada usia 38 tahun, saya mengalami perceraian pertama saya. Saya menemukan diri saya sebagai “ibu rumah tangga yang telah meninggalkan perannya” sebagaimana yang telah didefinisikan di kota tempat saya tinggal. Saya telah keluar dari rumah dengan 4 orang anak yang mengikuti langkah saya, dan tidak tahu harus pergi ke mana. Keadaannya menjadi rumit, namun di situlah hal-hal lain dibangun. Tiba-tiba saya berada di tengah-tengah petualangan baru yang hebat. Setidaknya, itulah hal yang saya coba perlihatkan kepada anak-anak. "Oh, ya kita harus dapat menemukan rumah baru dan ibu harus memiliki semacam pelatihan bagaimana untuk mendapatkannya karena beginilah yang harus dilakukan seorang ibu rumah tangga.”

  • Terkadang, demi kepentingan anak-anak Anda, Anda harus menerima dengan rasa syukur hal-hal yang tidak dapat Anda ubah keadaannya. Buatlah itu menjadi berharga

  • Dengan nasihat baik dari seorang pemimpin rohani saya, saya belajar bahkan diberikan satu tahun “bantuan amal.” Kami mendapatkan tempat tinggal yang layak, kupon belanja bahan-bahan makanan, dan kesempatan untuk dilatih dalam sesuatu hal yang baru.

  • Memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendidik diri Anda sendiri dan berpikir di luar jangkauan

  • Kontak pertama saya mengatakan kepada saya untuk mengejar dan melanjutkan pendidikan sebagai penata rambut atau koki masak. Keduanya adalah profesi yang hebat, namun Anda tidak perlu terlalu terkekang hanya karena masalah gender (jenis kelamin). Ketika mereka menanyakan kepada saya pelatihan seperti apa yang saya inginkan, saya langsung merespon dengan cepat. Tanpa berpikir panjang saya mengatakan, :”Saya ingin menjadi tukang kayu”. Alasannya adalah karena saya memiliki 2 paman yang tinggal di sebuah kota besar di sebelah utara di mana mereka adalah orang-orang yang ahli dalam membuat lemari dan furniture rumah lainnya dari kayu. Saya sangat menyukai duduk dan terkesima pada karya-karya furniture yang mereka buat dan saya sangat kagum akan hasil karya tersebut sehingga membuat saya ingin membuatnya. Jadi, sebelum saya melakukannya saya mendaftarkan diri pada sekolah lokal yang mengajarkan bagaimana cara penggunaan alat-alat mesin untuk kerajinan dari kayu, saya menghadiri kelas ini dengan celana jins, sepatu bot, dan kemeja kaos. Kami belajar mata pelajaran dan saya membaca dari buku-buku yang berkaitan lalu kami membuat sesuatu. Saya ingin memberitahu Anda, sesuatu yang nyata untuk orang-orang yang sejati. Kami membangun sebuah garasi mobil untuk satu keluarga. Kami membuat pondasi dari kayu untuk yang lain. Kami mengganti jendela, menempatkannya di atap dan memasang pembuka pintu garasi otomatis. Hal yang terbaik dari ini semua adalah bahwa saya berada di dalam satu kelas bersama anak laki-laki berusia 15-16 tahun dan seorang anak perempuan posesif berusia 16 tahun.

  • Advertisement
  • Belajar di dalam dan di luar sekolah

  • Saya belajar bahwa saya dapat belajar

  • Ini dapat menjadi waktu bagi perkembangan pribadi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saya belajar mengenai banyak hal selain belajar mengenai kayu pada tahun itu. Saya belajar mengenai hubungan antar pribadi. Saya belajar untuk mandiri. Saya belajar untuk melihat mata orang lain yang menjadi lawan bicara saya. Saya belajar bahwa saya dapat mengukur dan memotong kayu sampai sekecil 1/64 inci. Dan yang lebih penting. Saya belajar bahwa saya dapat belajar. Menghargai diri saya sendiri, di mana sepertinya banyak yang terlewatkan begitu saja selama 17 tahun dalam pernikahan yang tidak bahagia, meningkat bagaikan barometer yang mendekati badai. Bagian terbaiknya? Saya diajak pergi ke pesta kelulusan sekolah.

  • Ini dapat menjadi batu loncatan untuk hal-hal yang lebih besar dalam hidup

  • Beberapa tahun kemudian, apa yang saya pelajari mengenai diri saya di sebuah toko kecil membuat saya memasuki perguruan tinggi sebagai orang dewasa yang lebih tua. Di sana, saya mengambil beberapa jenis mata kuliah dan belajar bahwa saya dapat mempertahankannya lebih daripada air. Saya senang menghadiri kelas dengan orang-orang yang dewasa dengan etnis yang beragam, orang-orang dengan perbedaan umur yang beragam, kita semua berada di dalam satu kelas untuk sama-sama belajar.

  • Menemukan sukacita dalam belajar dan perjalanan hidup

  • Saya melanjutkan pendidikan saya baik di dalam maupun di luar kelas. Saya belajar mengenai ketangguhan pribadi dan bagaimana saya dapat bertahan dalam rasa sakit dan menemukan sukacita. Meskipun hal tersebut adalah pekerjaan yang sangat sulit untuk saya lakukan saya belajar bagaimana dapat menjalani hidup dengan baik pasca perceraian sebagai seorang ibu tunggal.

  • Apa yang dimulai sebagai tahun keputusasaan berubah menjadi tahun terbaik di dalam kehidupan saya. Saya masih menggunakan keahlian saya untuk membuat hasil karya dari kayu, baik untuk diri saya sendiri dan teman-teman saya. Saya memperoleh rasa dahaga akan kebutuhan untuk belajar dan mengambil setiap peluang untuk belajar sesuatu hal yang baru setiap harinya.

  • Karena apa yang telah saya pelajari, saya bisa bekerja dan menafkahi keluarga saya. Karena apa yang telah saya alami tahun itu, membuat saya menjadi lebih kuat. Saya dapat bertahan dan selamat.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Syane Nathalia dari artikel asli "Back to school as a single mom" karya Rebecca Rickman.

  • Advertisement
Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Becky Lyn adalah orangtua tunggal, ia menghabiskan waktunya sebagai penulis profesional.

Situs: http://www.beckytheauthor.weebly.com

Kembali ke Sekolah Sebagai Seorang Ibu Tunggal

Pada usia 38 tahun, saya mengalami perceraian pertama saya. Saya menemukan diri saya sebagai “ibu rumah tangga yang telah meninggalkan perannya” sebagaimana yang telah didefinisikan di kota tempat saya tinggal.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr