Memutuskan persahabatan dan tidak pernah menyesalinya. Salahkah?

Hubungan persahabatan bertahun-tahun pun ternyata bisa menyebarkan ‘racun’ dalam hidup Anda.

1,098 views   |   15 shares
  • Peran seorang sahabat lebih dari orang terdekat yang kita bisa ajak gila-gilaan tanpa harus bersikap jaim di depannya. Sahabat mendefinisikan siapa kita sebenarnya. Patricia Leavy, PhD. dalam artikelnya menyebutkan bahwa sahabat menjadi blueprint diri Anda. Mereka mengungkap sisi-sisi terdalam hidup Anda.

  • Sayang, perjalanan hubungan persahabatan Anda, tak selalu berjalan mulus dan berakhir bahagia. Ada kalanya ternyata setelah bertahun-tahun menjalin hubungan best friends forever (BFF), Anda menyadari bahwa hubungan ini justru menyebarkan 'racun' dalam hidup Anda.

  • Seperti yang dialami oleh Jean H. Korelitz, penulis buku You Should Have Known, dimana ia mengalami hubungan yang rumit dengan sahabatnya sedari masa kuliah. Serangkaian peristiwa, naik-turun, berselisih-minta maaf-berselisih kembali terus menerus terjadi. Hingga pada suatu titik, Jean memutuskan untuk menyudahi persahabatannya demi hidup yang lebih damai.

  • Konflik memanglah bumbu dalam suatu hubungan karena sangat mustahil untuk berteman dengan frekuensi yang selalu sama. Akan tetapi, ada batasan-batasan yang dapat diterima seorang individu dalam berhadapan dengan konflik, terlebih jika konflik tersebut dibiarkan begitu rupa atas dasar 'tidak enak hati'. Perubahan pada diri seseorang mungkin terjadi, namun pastilah perlu waktu agar proses tersebut berjalan dan kondisi ini berbeda pada setiap orang.

  • Ketika dalam persahabatan Anda, Anda membiarkan konflik berlarut-larut dengan sahabat atau Anda telah berusaha menuntaskan, tetapi sahabat Anda menganggap Anda terlalu berlebihan, ini adalah saat yang tepat untuk memberikan ruang dan jarak pada hubungan Anda. Sekecil apapun konflik tersebut, perlulah Anda berdua mencari jalan keluar atau kompromi. Masalah kecil dapat saja berkembang menjadi isu krusial yang makin membelit Anda dan menghilangkan kebahagiaan yang seharusnya terpelihara dalam persahabatan Anda.

  • Kasus lain yang saya alami adalah ketika (mantan) sahabat saya 'menularkan' bencana demi bencana dalam hidupnya ke dalam hidup saya. Berawal dari gaya hidup yang tidak sedewasa usianya, sahabat saya ini mengambil banyak keputusan tergesa-gesa. Ia menutup telinga atas segala saran orang lain, namun ketika dirinya sudah tertimpa masalah, ia menolak untuk mempertanggung jawabkannya sendirian.

  • Advertisement
  • Berbagai tanda yang saya alami menunjukkan ia tak patut lagi menyandang predikat sahabat. Sebut saja, kata-kata menusuknya di belakang mengenai keburukan saya, meminjam uang sesuka hati untuk dihamburkan tanpa berpikir panjang, melakukan perbuatan melanggar norma yang jelas-jelas kami sudah ingatkan untuk tidak dilakukan, menuntut dukungan untuk dirinya namun enggan untuk mendukung atau ikut berbahagia atas pencapaian saya, dan banyak lagi situasi yang menyadarkan saya. Ia tidak mengeluarkan apa yang terbaik dari diri saya, saya merasa tertekan setiap bertemu dengannya, dan pada akhirnya, racun hubungan ini turut merenggangkan hubungan saya dengan keluarga serta pasangan.

  • Moving on dari putusnya persahabatan ini adalah hal yang tidak mudah, terlebih saya telah bersahabat dengannya sedari kecil dan jauh di dalam hati kecil, saya merasa iba dengan apa yang dialami oleh sahabat saya ini. Meskipun demikian, saya berhak untuk hidup bahagia dan perlu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Banyak orang baik yang tulus berteman dengan saya dan mereka akan membantu saya memperbaiki diri, serta menunjukkan sisi terbaik dalam diri saya. Merekalah yang sepatutnya menjadi sahabat sejati. Hidup akan terus berjalan dan waktu akan menjawab, keputusan ini adalah sesuatu yang tidak saya sesali.

  • Dalam beberapa kesempatan, saya melihatnya tetap eksis di media sosial dengan gaya hidup yang nyaris tak berubah. Syukurlah, kerelaan saya melepasnya berhasil menepis kecemburuan dalam hati, melihatnya bersenang-senang dengan seseorang yang lebih 'tahan' untuk mengarungi persahabatan dengan dirinya. Kini, saya hanya dapat memanjatkan harapan, semoga ia menemukan kebahagiaan hakiki tanpa mengorbankan dirinya sendiri dan orang-orang tercintanya. Seperti anugerah yang saya begitu syukuri berupa sahabat-sahabat baru yang membuat hidup saya lebih berarti.

Baca, hidupkan, bagikan!

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Memutuskan persahabatan dan tidak pernah menyesalinya. Salahkah?

Hubungan persahabatan bertahun-tahun pun ternyata bisa menyebarkan ‘racun’ dalam hidup Anda.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr