Nasi, makanan pokok yang sesungguhnya buruk untuk tubuh kita

Tubuh kita membutuhkan karbohidrat dalam keseharian. Karena itu kita mengonsumsi nasi, pati dan tepung. Namun sebetulnya semua itu justru mengakibatkan begitu banyak masalah pada kesehatan, lho.

1,660 views   |   11 shares
  • Orang Asia, termasuk Indonesia di dalamnya, mengonsumsi nasi sebagai makanan utama setiap hari. Apalagi kita terbiasa dengan istilah "Belum makan, kalau belum makan nasi" betul? Padahal sebetulnya nasi, dan bahkan berbagai sumber karbohidrat lainnya yang berasal dari pati seperti ubi, singkong atau tepung seperti roti dan mie, bukanlah makanan yang sehat dan bahkan justru berbahaya bagi tubuh manusia.

    Wah. Mengapa bisa demikian? Sebab nasi dan makanan berpati atau terigu memiliki indeks glikemik tinggi sehingga cepat diubah menjadi gula darah yang mengakibatkan lonjakan insulin mendadak. Lonjakan insulin ini memancing hormon eicosanoids pro-peradangan yang berujung pada investasi berbagai penyakit, termasuk yang belum disadari gejalanya.

    Ya, jadi berbahaya sebab proses mengubah karbohidrat menjadi gula darah terlalu cepat. Insulin tubuh kita "kaget", akibat lonjakan gula darah yang kurang dari 2 jam sehingga terpaksa menekan kelebihan gula dalam bentuk lemak, yang biasa disebut trigliserida. Dan si lemak nakal satu ini, sangat ringan sehingga ia bisa "ngambang" ke mana saja bersama darah, dan "nyelip" ke mana pun ia ingin menyusup. Paling sering adalah di sel-sel dinding pembuluh darah. Inilah cikal bakal berbagai penyakit jantung, hingga stroke.

    Bahkan menurut J. Bernstein dalam salah satu tulisannya Depression of Lymphocyte Transformation Following Oral Glucose Ingestion di American Journal of Clinical Nutrition, mengonsumsi karbohidrat buruk adalah salah satu sumber alergi yang sering dilupakan orang. Dengan meningkatnya insulin dan membentuk hormon eikosanoid, inilah cikal bakal peradangan dan alergi.

    Kabar buruknya, tubuh selalu berupaya untuk mengatasi peradangan dengan mengeluarkan hormone kortisol (hormon anti stres). Sayangnya, bila kortisol terus menerus dikeluarkan karena peradangan tak kunjung reda, akibatnya adalah menekan kepekaan hormon insulin. Semakin tidak peka si insulin, manusia semakin gemuk dan risiko diabetes di depan mata. Sel-sel syaraf menjadi rusak, kekebalan tubuh semakin melorot dan semakin cenderung sering alergi.

    Dr. Ben Balzer, Nutrisionis dari AS, hormon ekosanoid buruk selain mempersempit pembuluh darah, juga membuat darah mengental, menurunkan daya tahan tubuh, menimbulkan rasa nyeri yang aneh dan perbanyakan sel yang tak wajar sehingga memicu pertumbuhan bakteri, jamur, virus, kista, tumor bahkan kanker.

    Tambah ironis, jika membaca lagi data dari International Diabetes Federation yang menyebutkan bahwa jumlah penderita diabetes di Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari 10 negara yang angka penderita diabetesnya terbesar di dunia. Sangat ironis, menurut Dr. Tan Shot Yen, karena tanah subur kaya tapi rakyatnya menderita penyakit degenerative yang paling menyengsarakan sebelum ajal datang.

    Mengapa ironis? Sebab, dalam buku Nutrition tulisan P. Insel dan D. Ross, sudah dituliskan bahwa karbohidrat terbaik yang layak diasup manusia perlu memenuhi 5 kriteria yakni rendah indeks glikemik, tinggi serat, kaya antioksidan, bersifat alkalis dan masih potensial dengan enzim. Dan ini adalah sayur-sayuran dan buah-buahan segar, yang begitu banyak tumbuh subur di tanah kita.

    Jadi, mulailah beralih dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti sayur-sayuran hijau termasuk kol, caisim, peterseli, berbagai macam selada, ketimun, brokoli hingga tomat. Juga buah-buahan seperti berbagai jenis berry, nanas, cabe merah, pir, apel, paprika berbagai warna.

    Ganti nasi dan berbagai gorengan berlapis tepung dengan selada segar 1 ikat atau sekitar 200 gram (perhatikan variasi dan rotasi jenisnya) lalu kombinasikan dengan berbagai jenis tomat, ketimun dan tambahkan juga daun-daun lalapan khas Indonesia seperti poh-pohan, kemangi dan kacang panjang mentah dan jangan lupa buah. Namun demikian kita tetap harus hati-hati mengonsumsi buah terlebih pada kasus kegemukan karena buah mengandung 70 persen gula sederhana yang cepat menaikkan gula darah.

    Asupan protein sebagai lauk, dari berbagai jamur, ayam kampung yang dimasak tanpa minyak goreng (bisa dipepes, soto, sop, woku, bakar dll), atau ikan bila tidak alergi. Lemak bisa berasal dari extra virgin olive oil dan kemiri untuk bumbu. Atau alpukat pun sebetulnya sudah mengandung asam lemak esensial yang baik.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Nasi, makanan pokok yang sesungguhnya buruk untuk tubuh kita

Tubuh kita membutuhkan karbohidrat dalam keseharian. Karena itu kita mengonsumsi nasi, pati dan tepung. Namun sebetulnya semua itu justru mengakibatkan begitu banyak masalah pada kesehatan, lho.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr