Baru berjalan 2 tahun, ternyata pasangan jauh dari ekspektasi

Memasuki tahun ke-2 pernikahan, semakin banyak "ternyata" yang ditemukan pada suami/istri. Apa yang harus saya lakukan?

2,526 views   |   12 shares
  • Bulan madu telah lama usai, manisnya pernikahan pun rasanya hanya di awal. Pacar yang dulu begitu romantis, perhatian, memenuhi semua kriteria pasangan idaman menguap begitu saja ketika memasuki usia pernikahan 2 tahun. Ah, seandainya dulu lebih berhati-hati memilih mungkin pernikahanku tidak akan begini. Ternyata, dia bukanlah pasangan idaman, jauh malahan. Namun, berpisah bukanlah solusi.

  • Lantas, apa yang harus saya lakukan?

  • 1. Menerima

  • Bila dulu semasa pacaran masih ada kesempatan untuk putus dan mencari yang lain, begitu Anda memasuki gerbang pernikahan, pintu sudah tertutup. Jika Anda berpikir untuk berpisah, stop dan jernihkan pikiran Anda terlebih dahulu. Apakah Anda yakin bahwa berpisah adalah solusinya? Ambil me-time, tenangkan diri Anda dan renungkanlah pernikahan Anda. Hal apa saja yang Anda tidak bisa terima? Pernikahan 2 sahabat baik sekalipun butuh proses adaptasi apalagi jika Anda menikah dengan orang yang belum Anda kenal lama. Banyak momen "ternyata" atau "kok begini?" atau beda kebiasaan.

  • Anda yang menjunjung tinggi kerapian mendapatkan pasangan Anda berantakan, suka melempar baju kotor ke lantai kamar, padahal Anda sudah memberitahunya untuk memasukkan ke tempat pakaian kotor, atau hal-hal lain seperti itu, terima saja. Tutup mata dan terimalah. Anda bukan hanya menikah dengan kelebihannya namun juga kekurangannya. Terima dengan hati yang legawa. Ingat, Anda telah memilih dia di antara pria/wanita lain di luar sana. Terkecuali ada unsur KDRT dalam rumah tangga Anda. Anda harus mencari bantuan.

  • 2. Mulai bersyukur

  • Setelah Anda mulai dapat menerima kenyataan bahwa pasangan Anda tidaklah sempurna, mulailah mensyukuri pernikahan Anda. Ingat-ingat hal yang baik dari pasangan Anda. Bersyukurlah atas pernikahan Anda sekalipun tidaklah sempurna. Dengan mulai bersyukur, ini akan merubah suasana hati Anda sehingga akan mengubah cara Anda bersikap.

  • 3. Mulai dari diri sendiri

  • Lalu mulailah dari diri sendiri. Mungkin ekspektasi Anda yang terlalu tinggi. Ingat bahwa pasangan Anda bukanlah robot yang akan menjalankan program yang Anda inginkan. Bila Anda terganggu dengan kebiasaannya yang suka melemparkan pakaian kotor ke lantai, atau tidak menutup gelas setelah digunakan, daripada Anda stres karena hal itu, mengapa tidak Anda yang memungut dan meletakkan pakaian kotor tersebut pada tempatnya, atau Anda saja yang menutupnya. Lakukan terus dengan hati yang bersukacita dan Anda akan melihat hasilnya. Bisa jadi, pasangan Anda akhirnya melakukannya sendiri. Jika Anda menemukan ternyata suami/istri Anda tidak seromantis perkiraan Anda, sedangkan Anda menginginkan hal tersebut, mengapa tidak Anda yang memulai terlebih dahulu. Biasanya, perbuatan baik itu menular.

  • Advertisement
  • 4. Melebur menjadi satu

  • Nah, langkah terakhir adalah, Anda perlu mengingat bahwa dalam pernikahan tidak ada lagi aku atau kamu melainkan kita. Tidak ada lagi warna yang Anda bawa dari keluarga Anda dan warna suami/istri Anda, melainkan warna baru dari keluarga Anda. Meleburlah menjadi satu. Bersedialah untuk bertemu di tengah-tengah dalam memecahkan setiap solusi problem dalam rumah tangga Anda. Anda yang turunkan standar dan suami/istri yang menaikkan standar atau sebaliknya. Jadi, bila ada hal-hal yang Anda tidak bisa terima dari pasangan, komunikasikan dan tentukanlah warna rumah tangga Anda.

  • Selamat mencoba ya. Bila Anda pernah begitu jatuh cinta pada suami/istri Anda, maka cinta yang sama juga harus Anda kobarkan lagi di pernikahan Anda. perceraian bukanlah solusi. Namun, bila ada unsur KDRT dalam rumah tangga Anda, segeralah cari bantuan.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Setelah lulus dari kuliah IT, saya menjadi guru TK selama 7 tahun. Tidak jarang selain menghadapi murid saya juga memberi masukan kepada orangtua murid dari sisi seorang guru. Membaca, menulis dan musik adalah hobi saya. Setelah menikah saya langsung dikaruniai 1 putera yang lucu, saya menjadi ibu penuh waktu dan mulai mengembangkan hobi dan talenta saya yaitu membuat kue atau memasak. Saya senang mengumpulkan berbagai resep dan mencobanya di waktu senggang (yang tidak banyak) saya.

Baru berjalan 2 tahun, ternyata pasangan jauh dari ekspektasi

Memasuki tahun ke-2 pernikahan, semakin banyak "ternyata" yang ditemukan pada suami/istri. Apa yang harus saya lakukan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr