Ibu, ingatlah Anda tidak harus selalu benar

Banyak membaca, mencari semua informasi hingga mengalaminya sendiri, tidak lantas menjadikan Anda yang paling benar.

419 views   |   shares
  • Persaingan antar ibu dalam memperdebatkan satu dan lain hal mengenai pengasuhan, rasanya tidak pernah selesai. Pasalnya bukan hanya satu atau dua topik saja yang diperdebatkan, bisa dibilang sejak seorang perempuan menyandang status sebagai seorang ibu, maka di sinilah hal tersebut diperdebatkan.

  • Sebut saja tentang pilihan ibu bekerja dan ibu Rumah Tangga, seakan tidak ada habisnya ada saja yang merasa pilihannya adalah yang paling tepat dan yang lain salah. Mungkin, ada beberapa pihak yang merasa lebih baik berada di rumah saja, mempunyai waktu lebih banyak untuk fokus pada pengasuhan dan perkembangan anak-anak. Tetapi di sisi lain, ibu bekerja pun punya tanggung jawab di dalam dan luar rumah, pandai membagi waktu dua dunianya, sehingga tidak akan pernah ada yang namanya ibu bekerja tidak peduli dengan perkembangan anak.

  • Mari kita lihat topik lain yang sering juga jadi perdebatan. Pemberian asi, dan susu formula. Sekolah formal, sekolah alam maupun homeschooling. Adapula yang lebih memilih popok sekali pakai ataupun popok yang dapat dicuci. Pemberian vaksin ataupun tidak, dan banyak hal lain. Sedih sekali melihat banyak ibu yang berdebat tidak sehat, saling menghujat, menghina dan membenarkan pendapat masing-masing tanpa mengindahkan perasaan ibu lain.

  • Sebenarnya, apa tujuan hal tersebut? Menjadi yang paling benar tidak lantas membuat seseorang menjadi ibu yang paling hebat. Bagaimanapun cara yang dipilih oleh seorang ibu untuk membesarkan anaknya, saya percaya adalah yang terbaik yang dapat dilakukan -dan diberikan- oleh ibu kepada anaknya.

  • Walau ada perbedaan dalam hal pengasuhan, maka biarlah hal tersebut menjadi pilihan ibu dan urusannya dengan anak mereka masing-masing. Hargai, dan ketahuilah, ada cerita yang berbeda di balik menjadi setiap pengasuhan orang tua.

  • Tidak ada yang berwenang untuk menghakimi, tidak ada yang lebih benar dari apapun yang diperdebatkan. Dan tentu saja setiap pilihan mempunyai risiko masing-masing yang telah diperhitungkan oleh masing-masing keluarga.

  • Jadi sangat tidak relevan menempatkan orang lain harus sama persis dengan Anda, dan sebaliknya. Karena sekali lagi, setiap rumah tangga itu berbeda, setiap keluarga itu berbeda, dan pengasuhan setiap orang tua itu berbeda. Sebaliknya, jadikan keragaman sebagai sarana pembelajaran, alih-alih topik yang harus diributkan. Semua pilihan memiliki positif dan negatifnya loh, bahkan dengan pilihan yang mungkin Anda anggap terbaik. Jadikan perbedaan ini sebagai sarana instropeksi diri, agar dapat lebih bijak mengambil keputusan yang terbaik bagi keluarga.

  • Advertisement
  • Dan yang terpenting, jadilah ibu yang dapat memberi contoh terbaik pada anak dengan menjadi teladan toleransi antar perbedaan. Berbeda itu sah saja, tidak ada yang perlu diributkan selama hal tersebut tidak merugikan Anda maupun orang banyak. Menjadi benar juga bukan berarti seseorang harus menyombongkan diri dan menganggap rendah yang lain. Saat salah, jadilah seseorang yang dapat menerima kritik dengan lapang dada dan melihatnya sebagai proses pembelajaran menjadi yang lebih baik. Semoga kita semua menjadi ibu yang bijak, menciptakan anak-anak berkualitas dengan akhlak yang baik di masa depan.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Ibu, ingatlah Anda tidak harus selalu benar

Banyak membaca, mencari semua informasi hingga mengalaminya sendiri, tidak lantas menjadikan Anda yang paling benar.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr