Pentingkah kehadiran suami di ruang persalinan ketika istri melahirkan?

Kehadiran suami saat istri berjuang melahirkan anaknya kerap dianggap amat penting, sebab tindakan ini dianggap suportif dan menenangkan. Namun benarkah hal ini menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilakukan?

5,755 views   |   34 shares
  • Melahirkan seorang anak ke muka bumi, baik dengan proses kelahiran normal maupun operasi, adalah hal yang berat dan menyakitkan bagi seorang perempuan. Karena itu, banyak pihak yang menyarankan agar suami hadir di ruang persalinan untuk menemani istri melewati kesakitannya.

    Dengan memberikan semangat kepada istrinya, suami dapat membuat sedikit kekhawatiran dan rasa cemasnya berkurang. Menurut www.stuff.co.nz, 93% dari proses persalinan akan berjalan dengan lancar ketika sang suami berada di samping istri.

    Empat alasan mengapa kehadiran suami penting saat proses persalinan yakni:

  • Menghibur istri

    Penelitian dari "The Fatherhood Institute" yang berbasis di Inggris menemukan bahwa ibu dapat melahirkan dalam waktu yang singkat dan berkurang rasa sakitnya karena ada suami yang menemani sang ibu.

  • Tanpa suami istri mudah cemas

    Suami bisa bersikap lebih tenang ketika menemani ibu yang hendak melahirkan daripada ibu atau adik perempuan yang menemani proses bersalin yang malah justru ikut panik.

  • Istri butuh kata-kata positif yang memberi semangat

    Suami yang melihat istri sambil tersenyum secara tidak langsung akan membuat istri lebih tenang saat melahirkan. Membisikan kata-kata positif yang dapat membuat semangat bangkit merupakan keinginan istri yang paling besar sehingga proses persalinan lebih lancar.

  • Meningkatkan rasa bahagia istri

    Menurut penelitian, kadar oksitosin yang Ayah miliki meningkat pada saat pasca melahirkan bayi. Hormon ini adalah hormon yang dapat memicu perasaan bahagia. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah suami pada sang istri dapat membuatnya tertular rasa bahagia tersebut.

    Jadi, menurut pendapat ini, kehadiran suami amatlah penting saat persalinan. Bahkan, suami bisa merekam persalinan lewat media kamera. Rekaman pada saat melahirkan akan menjadi kenangan indah untuk dikenang bersama di masa depan. Anda bisa melihat kembali foto atau video di masa tua Anda nanti.

    Nah, tapi ternyata segala sesuatunya sangat bergantung pada temperamen dan kemampuan dari pasangan untuk mampu mengatasi rasa sakit dan stresnya. Jika sang suami bisa membantu istrinya lebih tenang dalam melahirkan, maka tak ada salahnya untuk turut masuk dalam ruang bersalin. Karena memang melihat proses melahirkan kadang membuat orang takut.

    Dr. Michael Ordent, ahli kandungan dari Prancis menuturkan, terkadang suami malah menjadi halangan istri untuk mudah melahirkan tapi justru membuat prosesnya lebih panjang atau lebih menyakitkan.

    Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh dua hal, yaitu:

    Saat melihat istrinya kesakitan, maka sang ayah akan melepaskan hormon stres yaitu adrenalin. Meskipun berusaha terlihat santai atau positif, tetap saja ia tidak bisa melepaskan rasa cemasnya. Kegelisahan ini bisa menular pada istrinya, sehingga membuat perempuan menjadi tegang atau tidak santai dan membuat proses persalinan menjadi lebih lama dan sulit.

    Saat melahirkan sang istri ingin merasa tenang tanpa harus berpikir atau berbicara. Ketika ia ingin berbagi pengalaman dengan suaminya, terkadang hal ini tidak bisa dilakukan sehingga mengganggu proses persalinan. Karena itu, ia menekankan, jika suami memang bisa membantu menenangkan istrinya dan membuat sang istri merasa nyaman, maka tak masalah ia ikut masuk ke dalam ruang bersalin. Tapi jika suami merasa panik dan takut, sebaiknya tak perlu menemani istrinya di ruang bersalin karena bisa membuat sang istri bertambah stres dan mengganggu proses persalinan. Menurut studi di Britania Raya mengklaim bahwa tidak mesti suami berada di dalam ruang persalinan. Sebab, kehadiran mereka justru membuat ibu merasa lebih buruk dan menambah rasa sakit melahirkan.

    Penelitian dari University College London, King's College London, dan University of Hertfordshire yang telah dipublikasikan dalam The Social Cognitive and Affective Neuroscience Journal, pun pernah merekrut 39 pasangan dengan istri yang sedang hamil tua. Hasil dari studi ini terkuak bahwa kehadiran suami di ruang bersalin, sama sekali tidak membantu wanita dalam mengurangi rasa sakit ataupun nyeri melahirkan. Menariknya, para peneliti mengatakan bahwa wanita yang mengaku kurang hangat dengan suami, ditemukan memiliki level sakit paling tinggi.

    Kondisi tersebut sebenarnya sangat masuk akal. Pasalnya, mayoritas pakar psikolog memang mengatakan bahwa kualitas hubungan dengan pasangan berpengaruh pada apa yang Anda rasakan saat berada dalam momen penting kehidupan, salah satunya melahirkan.

    "Hasil studi ini menyimpulkan bahwa kehadiran suami dalam ruang persalinan tidak selalu membantu. Selain itu, jika suami bersikukuh ingin berada di ruang persalinan, maka mereka perlu mempersiapkan diri, terutama secara emosional dalam melihat apa yang akan mereka saksikan," ujar Dr. Katerina Fotopoulu, Ketua Penelitian.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Pentingkah kehadiran suami di ruang persalinan ketika istri melahirkan?

Kehadiran suami saat istri berjuang melahirkan anaknya kerap dianggap amat penting, sebab tindakan ini dianggap suportif dan menenangkan. Namun benarkah hal ini menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilakukan?
Advertisement
Bergabung dengan jutaan lainnya di seluruh duniamenuju fondasi keluarga yang lebih kuat
-------------------------- atau --------------------------
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr