Suami takut istri. Burukkah?

Dalam budaya apa pun dapat ditemukan suami yang takut istri, istilah orang tempoe doeloe adalah "pahlawan bakiak."

383 views   |   3 shares
  • Dalam budaya apa pun dapat ditemukan suami yang takut istri, istilah orang tempo doeloe adalah "pahlawan bakiak." Sampai-sampai ada lelucon tentang hal ini. Di gerbang mutiara di mana roh-roh mengantri untuk masuk surga, Rasul Petrus memberi aba-aba, "Suami yang takut istri mengantri di sebelah kiri, yang tidak takut istri di sebelah kanan." Hanya satu pria yang berdiri di antrian sebelah kanan. Melihat itu sang rasul menepuk pundaknya, "Wah, hebat Anda satu-satunya yang tidak takut istri." Jawab pria itu sembari menunduk agak takut-takut, "Saya disuruh istri saya berdiri di sini."

  • Jadi benarkah semua pria takut kepada istrinya? Tentu saja tidak. Kita banyak membaca berita tentang pria yang merundung pada istrinya. Itu tidak berarti mereka pria yang hebat, namun bukan hal ini yang akan kita bahas sekarang. Yang akan kita bahas ialah pria macam Pak Wongso, para tetangganya merasa kasihan karena dia tampak takut kepada istrinya. Apa pun kata istrinya selalu diikuti, dia tampak (ibaratnya) seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tetapi baginya semua ocehan tetangganya itu tidak dipedulikannya. Yang penting rumah tangganya damai, rukun dan dia bahagia selama istrinya bahagia. Biar saja dia dijuluki "Bakiakman" alias pahlawan bakiak. Dia hanya mengikuti ajaran orangtuanya untuk menghormati wanita dan mencintainya seperti yang dilakukannya kepada ibunya dulu.

  • Mungkin rumah tangga seperti Pak Wongso bagi sementara orang dianggap tidak seimbang. Terlebih lagi di dunia Timur di mana wanita diharapkan tunduk kepada pria, maka pria yang tunduk kepada istri dianggap patut dikasihani. Banyak tetangga Pak Wongso yang di belakangnya berkata diam-diam "Indonesia sudah merdeka sejak tahun 45, kok dia masih dijajah." Tetapi bagi yang berkepentingan sendiri dia merasa tidak terjajah, dia menganggap itu hanya cetusan rasa iri mereka bila melihat rumah tangganya yang jarang ribut, karena dia selalu mengalah dan rendah hati. Mengapa dia harus menaruh perhatian kepada celoteh tetangga, yang penting dia hidup rukun sampai kaken ninen, itu bukti bahwa pandangan yang dianutnya manjur. Bila kaum pria tetangganya menganggap Pak Wongso patut dikasihani, kaum istri sebaliknya iri kepada Bu Wongso yang begitu disanjung suaminya.

  • Memang dalam rumah tangga yang afdol seharusnya tidak ada rasa takut terhadap suami atau istri. Masing-masing menjadi kepala rumah tangga yang memiliki kekuasaan setara. Atau di rumah tangga orang Timur, suami adalah kepala keluarga dan istri adalah wakilnya yang memiliki hak veto yang sama. Anak-anak tidak boleh dibingungkan dengan pertanyaan siapa yang lebih berkuasa, mereka juga tidak bisa memanfaatkan keadaan dalam hal ini. Sekali ayah berkata tidak, itu juga yang akan dikatakan ibu, begitu pula sebaliknya. Suami istri berurun rembuk dalam segala hal, tidak ada keputusan penting yang diambil satu pihak saja. Bukankah pemerintahan yang adil juga begitu? Raja atau presiden tidak akan begitu saja mengambil keputusan penting tanpa berunding lebih dulu dengan para penasihatnya.

  • Advertisement
  • Sebaiknya rumah tangga didasari pada rasa hormat dan bukan pada rasa takut. Dengan rasa hormat, anak-anak juga akan menghormati orangtua mereka.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Suami takut istri. Burukkah?

Dalam budaya apa pun dapat ditemukan suami yang takut istri, istilah orang tempoe doeloe adalah "pahlawan bakiak."
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr