Dampak negatif jika Anda masih mengajak anak tidur bersama

Sebetulnya tidur bersama anak di masa bayinya adalah hal yang amat baik untuk tumbuh kembang. Sebab anak akan merasa aman. Namun, apakah hal yang sama masih berlaku saat diterapkan ke anak ketika mereka sudah lebih besar?

108,064 views   |   432 shares
  • Tidur bersama anak, adalah kebiasaan yang ada di tengah masyarakat Indonesia. Tak hanya saat bayi, namun juga sepanjang masa balita bahkan kadang hingga menginjak usia Sekolah Dasar. Banyak ahli yang mengatakan bahwa tidur bersama di masa bayi sangat baik untuk tumbuh kembang seorang anak.

  • Dr. Lori Feldman-Winter dari Cooper Medical School Rowan University di Camden, New Jersey mengatakan bahwa anak-anak yang senantiasa dijaga dengan baik saat siang maupun malam oleh orangtuanya dan tidur bersama, ini akan mengurangi risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) pada anak hingga 50 %. Sementara itu, dengan tidur bersama bayi, sangat memungkinkan bayi mendapat asupan ASI yang cukup.

  • Namun, apakah hal yang sama terjadi saat anak yang beranjak besar masih tidur bersama orangtua? Ternyata tidak. Menurut survei yang dilakukan oleh Parenting's MomConnection, sebanyak 45% ibu membiarkan anaknya yang sudah berusia 8-12 tahun untuk tetap tidur satu ranjang bersama orangtua. Dampaknya?

  • Tidak Mandiri

  • Anak yang terbiasa tidur bersama orangtua cenderung tumbuh menjadi pribadi yang manja, tulis sebuah jurnal Canadian Pediatric Society. Mereka tidak dapat mengatasi rasa takut dan cemasnya seorang diri, sehingga ia menjadi sangat bergantung pada Anda orangtuanya. Anak menjadi kurang mandiri, karena selalu butuh 'bantuan' orangtua untuk bisa tidur. Anak yang sudah besar juga bisa mengalami kesulitan bergaul, cenderung tak berani menginap di rumah orang lain, serta kesulitan mengikuti acara sekolah yang mengharuskan menginap.

  • Privasi

  • Jika orangtua tidak melatih anak untuk tidur sendiri secara terpisah, maka secara tidak langsung mereka akan kehilangan privasinya. Alhasil, anak akan menjadi tertekan dan depresi, karena memilih diam serta menyembunyikan masalahnya di hadapan orangtua.

  • Begitupun orangtua, Anda tidak akan memiliki waktu berdua dengan pasangan untuk berdiskusi ataupun melakukan hubungan intim. Bahkan, dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa alasan perceraian bisa terjadi karena faktor ini.

  • Advertisement
  • Gangguan kesehatan

  • Tidur bersama anak akan memudahkan mereka cepat terkena virus menular saat Anda atau pasangan sedang menderita sakit, seperti flu dan batuk. Demikian menurut studi yang dituliskan dalam The American Academy of Pediatrics.

  • Bahkan, dalam sebuah studi yang diluncurkan oleh Journal of Affective Disorders mengungkapkan sebuah penelitian terhadap 3.583 anak di Brazil jika ternyata kebiasaan berbagi tempat tidur dengan ibu dapat membuat mereka memiliki masalah kesehatan mental yang lebih tinggi daripada anak yang tidur sendiri.

  • Jadi kapan anak sudah bisa dipisah tidurnya? "Umur 2 tahun sudah bisa dipisah tidurnya dari orang tua, maksimal umur 5 tahun," ujar psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqi. Selain itu, The American Academy of Pediatrics menyarankan agar orangtua yang ingin psikologis anaknya baik, maka berusaha untuk membiasakan anak tidur sendiri di kamarnya dengan usia minimal 3- 4 tahun ke atas. Mungkin awalnya tidak mudah, namun solusi selalu ada.

  • 1. Sekamar namun pisah tempat tidur

  • Jika anak memiliki rasa takut berlebihan, Anda tetap bisa satu kamar dengannya. Hanya saja, pisahkan tempat tidurnya dari Anda dan suami.

  • 2. Ikutkan diri Anda

  • Di minggu pertama, Anda bisa menemani sang anak tidur di kamarnya sendiri. Cobalah selama 3 hari berturut-turut tidur di sampingnya hingga esok pagi harinya. Selang dari tiga hari, mulailah perlahan-lahan meninggalkan anak tidur sendirian setelah menidurkannya selama lebih kurang 30 menit. Hal ini bisa mengurangi rasa takutnya secara bertahap.

  • 3. Pindahkan TV

  • Aktivitas atau benda-benda seperti televisi atau gadget juga bisa membuat anak sulit tidur. "Lampu tidur yang remang-remang bisa membantu anak agar lebih mudah tidur," kata Judith Owens, MD, co-author buku Take Charge of Your Child's Sleep.

  • 4. Kamar yang ramah anak

  • Sebelum mengajak anak tidur sendiri, perhatikan dulu kondisi dan kesediaan kamarnya. Pastikan kamar anak bersih dan sehat agar ia merasa nyaman di dalamnya. Jika memungkinkan, dekorasi kamar Anda agar lebih menarik dan tak terkesan menakutkan. Orangtua harus kreatif dan mendorong anak mendekor kamar tidurnya dengan hiasan yang ia suka dan menarik.

  • 5. Ciptakan rutinitas

  • Menggosok gigi, mengenakan baju tidur, atau mandi dengan air hangat, bisa dijadikan aktivitas rutin sebelum berangkat tidur. Ritual ini akan membuat anak lebih aman dan nyaman saat berada di kamarnya.

  • 6. Sabar dan konsisten

  • Advertisement
  • Karakter setiap anak berbeda-beda. Jika masih sulit mengajaknya tidur sendiri, berikanlah waktu. Bersabarlah dengan terus mencoba langkah di atas. Jangan memarahinya, karena hal ini hanya akan membuatnya stres setiap malam. Namun jangan mudah terpengaruh oleh rengekan atau tangsian anak. Jadi, jika anak pindah ke kamar tidur Anda di tengah malam, temani dia kembali ke kamarnya tanpa terlalu banyak interaksi.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Dampak negatif jika Anda masih mengajak anak tidur bersama

Sebetulnya tidur bersama anak di masa bayinya adalah hal yang amat baik untuk tumbuh kembang. Sebab anak akan merasa aman. Namun, apakah hal yang sama masih berlaku saat diterapkan ke anak ketika mereka sudah lebih besar?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr