Sejauh mana perilaku anak berpengaruh pada kemampuan akademiknya?

Kemampuan akademik yang baik, ternyata tidak hanya bergantung pada satu faktor seperti rajin belajar semata. Ada banyak sekali hal yang memengaruhinya, dan ternyata yang paling besar dampaknya adalah perilaku.

361 views   |   5 shares
  • Pencapaian akademik seseorang tidak semata-mata hasil kecerdasan kognitifnya. Sebab, ada banyak faktor yang memengaruhi hal itu; misalnya keterlibatan guru, orangtua, kualitas sekolah, motivasi anak dan juga perilakunya. Malahan, perilaku memegang peranan besar dalam pencapaian akademik seorang anak

  • Sebuah studi dari Stanford School of Education bahkan menemukan bahwa pelajar yang mampu bersosialisasi dengan baik saat taman kanak-kanak dan kelas satu Sekolah Dasar (SD) akan memiliki kemampuan membaca yang sangat baik di kelas tiga SD. "perilaku sosial seorang anak bisa jadi pendongkrak atau perusak kemampuan belajarnya," kata Sarah Miles, mahasiswa doktoral di Stanford School of Education.

  • Perilaku adalah kuncinya

  • "Jika para guru diharapkan dapat mempersiapkan anak-anak yang sukses dalam bidang akademik, maka, memberikan pendidikan perilaku sebagai dasar sebelum masuk ke pendidikan akademik merupakan hal yang amat penting. Tujuannya agar pembelajaran dapat dilakukan dengan efektif, nantinya." begitu tertulis dalam Journal of Positive Behavior Interventions, Volume 10.

  • Sebab, anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah, dianggap kesulitan menerima pelajaran di dalam kelas. Apa sih yang diisebut dengan perilaku bermasalah? Berdasarkan Parent Institute, isu terkait disiplin di tingkat sekolah dasar mencakup; gemar mengganggu teman di kelas, berbohong, tidak taat aturan, banyak mengeluh, tidak bertanggung jawab dan kelewat cuek hingga tidak mau mengantre. Ini sebetulnya adalah cikal bakal bullying, tawuran, yang awalnya dianggap kecil namun akan terus meningkat menjadi masalah besar jika tidak ditangani dengan benar.

  • Neurologis Sam Wang dan Sandra Aamodt mengungkapkan dalam buku "Welcome to Your Child's Brain", bahwa regulasi emosi merupakan faktor penting yang pengaruhnya signifikan dalam memprediksi kesuksesan akademik seseorang. Pelajar dengan kemampuan meregulasi emosi yang buruk, akan kesulitan dalam memotivasi dirinya untuk belajar dan mendengarkan guru di kelas. Meski hasil tes IQ nya amat baik.

  • Penyebab perilaku buruk

  • Biasanya karena anak merasa bosan dan tidak mau memahami aturan. Namun bisa juga karena berusaha mencari perhatian dari teman, orangtua bahkan guru. Ya, bisa jadi sebagai respons pertahanan diri dari kondisi lingkup rumahnya yang negatif. Tetapi tidak menutup kemungkinan, perilaku buruk ini juga merupakan hasil meniru saudara atau orangtuanya yang juga berperilaku demikian.

  • Efek dari masalah perilaku

  • Advertisement
  • Sebuah survei dari Scholastic, menemukan fakta 62 persen pendidik menyatakan bahwa masalah perilaku adalah gangguan terbesar dalam lingkungan pendidikan. Amat disayangkan karena perilaku buruk membuat para guru jadi membuang-buang waktu yang semestinya dapat diefektifkan untuk kegiatan belajar mengajar.

  • Mengatasi perilaku buruk

  • Kerjasama orangtua dan guru dapat menjadi langkah awal untuk mengatasinya. Berdasarkan studi yang dilakukan Institute of Education Sciences, kerja sama yang baik dapat menemukan penyebab perilaku buruk sehingga bisa segera diatasi. Aturan dan ekspektasi dari sekolah yang konsisten juga bisa jadi jalan untuk memotong permasalahan tersebut.

  • Riset yang dilakukan oleh pekerja kesehatan jiwa di direktori terapis, Good Therapy, mengungkap bahwa orangtua yang aktif terlibat dalam kehidupan edukasi seorang anak mampu menanggulangi isu perilaku buruk di sekolah. Orangtua yang menyediakan waktu untuk anaknya, menemaninya belajar, dan mampu menciptakan koneksi yang intens akan membuat anak mencontoh berbagai perilaku baiknya dan efektif dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan.

  • Emily Fergus Morrison, Sara Rimm-Kauffman, dan Robert C. Pianta, dalam artikel "A Longitudinal Study of Mother-Child Interactions at School Entry and Social and Academic Outcomes in Middle School," di Journal of School Psychology 41, menuliskan bahwa anak yang memiliki hubungan positif dengan ibunya di masa taman kanak-kanak amat berkaitan dengan rendahnya masalah perilaku dan pencapaian akademik yang baik di masa SMP.

  • Koneksi sebelum edukasi

  • Jadi, koneksi merupakan hal yang terpenting untuk dibangun sejak dini. Namun jangan khawatir jika anak Anda kini telah beranjak besar. Sebab tidak ada kata terlambat untuk membangun koneksi. Dr Laura Markham dalam artikelnya di AHAparenting.com, menuliskan, selama Anda ingin, pasti ada jalannya. Mulailah dari hal-hal sederhana seperti menyediakan waktu 10 menit untuk bercanda dan mengobrol sambil bersentuhan di sofa atau tempat tidur. Hadirkan 100 persen diri Anda dalam memberikan perhatian padanya saat itu. Bisa dilakukan sebelum tidur malam, misalnya.

  • Anda yang sudah membangun koneksi sejak saat anak masih kecil pun harus terus memperbaharuinya kok. Sebab menjalani kehidupan sudah pasti sepaket dengan distraksi dan berbagai perpisahan singkat. Karena itu koneksi orangtua dan anak harus terus diperbaiki.

  • Ya, jika anak telah mendapatkan kebutuhan utamanya; koneksi, ia tak akan lagi merasa insecure sebab segala bentuk emosi negatif telah tersalurkan dengan baik. Ini yang akan membantunya melakukan regulasi emosi untuk konsentrasi di kelas, tidak mengganggu teman-temannya, mampu mengikuti aturan bahkan membuatnya lebih mudah mencerna pelajaran.

  • Advertisement
Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Sejauh mana perilaku anak berpengaruh pada kemampuan akademiknya?

Kemampuan akademik yang baik, ternyata tidak hanya bergantung pada satu faktor seperti rajin belajar semata. Ada banyak sekali hal yang memengaruhinya, dan ternyata yang paling besar dampaknya adalah perilaku.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr