Stop menuntut kesempurnaan pada anak! Orangtua-pun patut berintrospeksi

Tak ada anak sempurna, dan tak ada juga orangtua sempurna. Namun, sebagai orangtua, kita harus terus belajar agar bisa selalu memperbaiki kekurangan. Bukan hanya demi anak, namun juga untuk kebaikan diri sendiri.

667 views   |   8 shares
  • Kita sering sekali mendengar dan membaca; orangtua yang baik adalah mereka yang memberikan cinta dan kasih sayang tanpa mengharap balasan. Namun, apakah kita paham bahwa tak semua orangtua memiliki masa lalu yang indah dan pernah merasa dicintai?

  • Ya, tidak sedikit orang dewasa yang menjadi orangtua, memiliki masa kecil penuh cinta. Karena itu, memberikan cinta menjadi hal yang tidak selalu mudah untuk dilakukan. Dan hal yang tersulit untuk dikerjakan adalah; meregulasi emosi diri sendiri agar dapat membantu anak meregulasi emosinya.

  • Orang dewasa yang mampu meregulasi emosinya sendiri adalah mereka yang bisa tetap tenang saat anak sedang tantrum, sedang rewel, atau menguji batas kesabaran. Pasti pernah mendengar pepatah; happy parents equal to happy kids, kan? Jika orangtuanya bahagia dan tenang, anak pasti akan lebih mudah diajak bekerja sama.

  • Inilah yang biasanya menjadi kelemahan para ayah dan bunda. Bagaimana caranya menahan kesal, saat anak selalu menjawab "tidak"? Bagaimana caranya tidak terlibat dengan emosi, saat anak mengamuk sampai berguling meronta dan menangis di lantai? Bagaimana caranya bersabar saat anak merengek dan memaksa orangtua untuk memenuhi keinginannya?

  • Sabar dan konsisten

  • Dan inilah yang biasanya membuka sebuah celah untuk menyatakan kekurangan terbesarku sebagai orangtua. Mendidik anak manusia, tidak seperti menyiapkan sebuah mesin. Ciptaan Tuhan selalu memiliki begitu banyak variabel, dan semuanya harus diperhatikan dengan baik. Sayangnya, variabel tersebut pun ada dalam diri kita sebagai orangtua.

  • Begitu banyak hal yang harus diperhatikan dalam diri kita, terkait emosi, untuk bisa bersabar dan tetap konsisten mendidik anak. Karena itulah, selalu lebih baik jika orang dewasa telah mempersiapkan diri untuk benar-benar tumbuh menjadi dewasa dan meninggalkan semua emosi kekanakan, sebelum memutuskan untuk memiliki seorang anak.

  • Sebab, kita tidak akan bisa mengontrol dan bahkan mengubah orang lain, termasuk anak kita. Satu-satunya yang bisa kita ubah dan kontrol adalah diri sendiri, dan nantinya akan mengubah sikap orang lain kepada kita. Saat kita melakukan perubahan, anak pun akan berubah. Saat kita telah mampu tenang dan mengendalikan segala bentuk emosi negatif yang berasal dari berbagai luka lama yang telah lama bersarang di dalam diri, sikap kita dalam mendampingi tumbuh kembang anak pun akan lebih efektif, sehingga mereka lebih mudah untuk kooperatif.

  • Caranya tidak sulit sebetulnya, berhentilah melawan dan menolak segala luka itu. Biarkan hati kita terbuka dan menerima segala bentuk kecemasan, kesedihan, kemarahan, kecemburuan dan sebagainya itu. Terima saja bahwa sebagai manusia, kita sudah pasti merasakan berbagai macam hal. Tidak perlu terus-terusan menjadi kuat. Biarkan air mata mengalir dan rasakan segala pedih itu tanpa penyangkalan.

  • Advertisement
  • "Bersihkan" diri dari segala urusan yang belum selesai di masa lalu, apa pun itu, takut, luka hati atau duka. Biarkan semuanya keluar dan menguap, kosongkan semua ruang dalam hati, hingga yang terkecil. Karena, kesumpekan emosi negatif yang tidak bisa keluar itulah, yang biasanya menyebabkan kita sulit merasakan cinta, apalagi memberikannya.

  • Mengundang cinta untuk mengisi ruang-ruang dalam hati, akan memberikan kemampuan kita untuk menerima anak apa adanya. Akan lebih mudah juga untuk menjadi orangtua yang mampu mendengarkan suara anak, dan tidak memaksakan keinginan kita. Dengan itu, tentunya mengapresiasi dan menganggap anak sebagai manusia yang juga ingin mampu berpikir sendiri dalam memecahkan masalah, menjadi jauh lebih mudah.

  • Tidak akan ada anak sempurna, karena itu kita harus mampu menerima mereka apa adanya. Namun, tak akan ada juga orangtua sempurna, karena itu kita harus mampu mengenal diri sendiri, mengetahui apa ganjalan sebenarnya, memahami segala tindakan yang pernah dilakukan dan memelajari alasannya untuk kemudian memperbaiki diri.

  • Sebab di sini kitalah yang sudah dewasa, dan memiliki kewajiban untuk menuntun anak menjalani kehidupannya. Cinta harus ada dalam diri, sebelum kita mampu memberikannya. Kita, orangtua, adalah model pertama yang ditiru seorang anak. Mereka belajar regulasi emosi dari ayah dan bundanya. Bayangkan manusia seperti apa yang tumbuh dengan teriakan, makian, bantingan pintu, setiap hari?

  • Percayalah, dengan dihargai dan dipahami, anak akan meniru langkah yang kita contohkan. Akan lebih mudah bagi kita, dan juga mereka. Kekurangan terbesar, bukan masalah yang tak bisa diatasi. Mungkin akan memakan waktu sangat lama, atau bahkan seumur hidup. Tapi tak ada salahnya dicoba. Mungkin langkah pertama hari ini, dimulai dengan mendengarkan suara hati sendiri. Kenali emosi yang kita rasakan, dan latar belakangnya. Hindari memberikan reaksi impulsif saat emosi muncul, tarik nafas, dan yuk, belajar mengenal "siapa aku?".

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Stop menuntut kesempurnaan pada anak! Orangtua-pun patut berintrospeksi

Tak ada anak sempurna, dan tak ada juga orangtua sempurna. Namun, sebagai orangtua, kita harus terus belajar agar bisa selalu memperbaiki kekurangan. Bukan hanya demi anak, namun juga untuk kebaikan diri sendiri.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr