Haruskah orang lain yang mendisiplinkan anak kita?

Mendisiplinkan anak adalah tugas orangtuanya masing-masing. Bukan tugas orang lain. Jadi selalu lebih baik jika kita memulainya dari keluarga sendiri, sebelum terlambat.

216 views   |   6 shares
  • Pernah tidak, merasa gemas saat melihat perilaku anak orang lain yang berinteraksi dengan anak kita di tempat bermain umum? Misalnya anak yang kerap merebut apa pun yang dipegang anak kita, atau mereka yang suka mendorong, memukul bahkan memaki? Ingin mendisiplinkan, tapi bukan anak sendiri.

  • Bayangkan, jika hal ini dialami orangtua lain, saat menghadapi anak kita. Wah, pasti tidak rela kan, jika anak kita dimarahi orangtua lain. Lalu harus bagaimana? Masa iya berseteru dengan orang lain di tempat mainan anak, kan rasanya tidak etis ya?

  • Hal ini menjadi pesan penting yang ditinggalkan ibu saya, saat saya menjadi ibu. Ia selalu mengingatkan agar segalanya harus dimulai dari diri sendiri. Jangan sampai orang lain yang mendisiplinkan anak saya. Jika anak melakukan kesalahan di depan orang lain, jangan pernah memberikan kesempatan orang itu untuk menghukum anak kita. Mengapa? Sebab komunikasi yang diterima anak akan sangat berbeda jika itu dilakukan oleh orang lain yang bukan orangtuanya. Kemungkinan paling fatal, anak saya bisa trauma, dan mengalami kesulitan untuk terjun ke dunia sosial setelahnya.

  • Tidak percaya? Coba bayangkan saja posisi Anda sebagai si kecil yang dimarahi oleh orangtua anak lain. Bagaimana kira-kira rasanya? Kita saja sebagai orangtuanya merasa tidak terima, apalagi si anak. Jadi, ya, mulai dari diri sendiri. Tentunya, seperti yang sering diungkapkan oleh dr Laura Markham, psikolog, koneksi sebelum disiplin.

  • Bangun dulu koneksi dengan anak sedari dini. Bermain bersamanya, jadi sahabatnya. Dengarkan segala ucapannya, berikan tanggapan atas apa pun yang dirasakannya. Bangun kedekatannya pada Anda, sehingga Anda tak perlu repot-repot memberikan hukuman jika ia melakukan kesalahan. Percayalah, teriakan keras tidak akan membuat seseorang menjadi disiplin. Hal itu hanya akan membuatnya takut dan menjauh.

  • Anda ingin anak disiplin, jadilah orang yang paling dicintainya. Dengan begitu, ia akan mendengar dan mengikuti aturan apa pun yang Anda buat.

  • Nah, setelah itu, bangun juga rasa percayanya pada Anda. Jangan pernah berbohong, apa pun alasannya. Membohongi anak, kerap jadi salah satu cara ampuh yang sering dilakukan orangtua untuk membuat si kecil menuruti kemauan mereka. Namun, teknik menakut-nakuti anak ini bisa berdampak tidak baik. "Cara menakut-nakuti si buah hati bisa berbalik ke diri Anda. Lebih baik jujur untuk membuat anak patuh, "tutur Bonnie Maslin, penulis buku Picking Your Battles.

  • Advertisement
  • Ini yang menggiring kita sampai ke aturan. Pilih beberapa saja aturan terpenting yang wajib dipatuhinya, di rumah. Tidak usah semua hal dibaweli. Harus membereskan mainan, tidak boleh mencoret-coret, harus selalu berbagi, tidak boleh main ini itu, harus duduk manis. Aduh, terlalu banyak. Pilih satu, dan konsentrasi pada hal itu hingga anak terbiasa. Semakin bertambah usia, aturan boleh ditambah. Namun ingat, tidak perlu berlebihan. Tetap biarkan anak menjadi anak.

  • Dalam menerapkannya Anda dan pasangan pun harus kompak. Jangan terlalu memanjakan anak saat menerapkan aturan. "Anda dan suami boleh mempunyai cara yang berbeda ketika mendisiplinkan si kecil, tapi harus konsisten," papar Nancy Schulman, dalam bukunya Practical Wisdom for Parents: Demystifying the Preschool Years.

  • Nah, kalau ia sudah mampu, mulailah mengajak anak bekerja sama saat bermain di tempat umum atau di rumah temannya. Apa saja yang harus diingatnya, bisa ditanamkan pelan-pelan dari membacakan buku atau bercerita. Bisa dimulai dari peringatan betapa tidak baiknya menyakiti orang lain. Ada juga baiknya jika hal ini dibahas antar orangtua, jika ini tentang bermain di rumah orang lain. Sama-sama saling mengingatkan untuk selalu memulai dari keluarga sendiri, bisa jadi jalan tengah yang baik sebelum terjadi percekcokan.

  • Sebab dalam beberapa kasus, banyak orangtua yang mengabaikan perilaku anaknya sendiri. Saat berkunjung ke salah satu tempat hiburan, orangtua anak malah lebih senang mengobrol dengan temannya. Sehingga orangtua tidak tahu apa yang sedang dilakukan anaknya terhadap anak lainnya.

  • Yang perlu Anda ingat, Anda tak selalu mendapat persetujuan dari orangtua lain. Ini merupakan topik yang kontroversial, dan tidak ada yang benar atau salah. Sebagai orangtua, Anda tentu sudah berusaha membuat keputusan yang terbaik, dan mengantisipasi setiap hasilnya. Sadari bahwa Anda mungkin akan menyinggung perasaan orangtua lain karena ia tak sepakat dengan cara Anda.

  • Tidak apa, tenang saja. Karena itu bekali dulu si kecil agar tidak menjadi pemicu masalah. Dan membuktikan kepada orangtua lain, bahwa orang lain tidak perlu mendisiplinkan anak Anda. Menjadi orangtua memang wajib menjadi sosok yang paling bertanggung jawab pada apa pun perilaku anak. Karena itu, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Haruskah orang lain yang mendisiplinkan anak kita?

Mendisiplinkan anak adalah tugas orangtuanya masing-masing. Bukan tugas orang lain. Jadi selalu lebih baik jika kita memulainya dari keluarga sendiri, sebelum terlambat.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr