Saya Ingin Memberi Kesembuhan tapi Malah Saya yang Disembuhkan

Saya kira saya dapat memberi kesembuhan dengan sumber daya yang saya miliki, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, sayalah yang disembuhkan.

1,035 views   |   shares
  • Ketika ibu saya di PHK dan harus menjalani operasi tulang punggung darurat, saya kira saya membuat pengorbanan yang mulia dengan memindahkannya ke rumah saya supaya saya dapat merawatnya. Saya kira saya membayar kembali kesusahan yang saya akibatkan selama bertahun-tahun. Saya berkata paling tidak itulah yang bisa saya lakukan baginya yang sudah membesarkan anak yang bandel ini. Secara fisik saya sudah siap bekerja keras sepanjang hari, menulis di malam hari dan melewatkan setiap waktu luang yang saya miliki bersamanya. Secara keuangan saya sudah siap mengurangi jam kerja, menerima gaji lebih sedikit, dan membayar ribuan dolar untuk biaya medisnya. Saya bahkan sudah siap mental untuk memandikan, menyuapi dan memakaikan bajunya.

  • Namun saya tidak sadar betapa beratnya itu. Saya langsung tahu perbedaan antara lelah karena lama bekerja dan capai setengah mati karena tugas yang tiada habis-habisnya. Saya merasa sesak dan stres tertindih beban tagihan medis yang teramat besar. Perasaan saya naik turun seperti akibat dampak sampingan obat-obatan yang diminumnya. Saya sedih kehilangan waktu untuk bergaul dengan teman-teman sementara saya juga merasa bersalah karena melewatkan waktu untuk bekerja demi kelangsungan hidup kami.

  • Pada mulanya saya mengira saya mengorbankan waktu, tenaga dan sumber daya untuk menolong ibu saya demi membuktikan cinta saya kepadanya. Tidak lama saya menyadari bahwa yang mendapat pengorbanan adalah saya.

  • Pengorbanan saya, yang terasa mulia dan luhur, seolah-olah banyak yang bisa saya berikan, pada kenyataannya adalah untuk menemukan jati diri saya. Bukanlah waktu dan tenaga saya yang hilang, melainkan keangkuhan dan sikap mementingkan diri saya.

  • Inilah beberapa pelajaran yang mengejutkan tentang pengorbanan yang saya dapat:

  • Harga diri

  • Pengorbanan adalah sesuatu yang menunjang kehidupan orang lain dengan bayaran yang besar dari Anda. Itu tidak termasuk bila Anda membantu cukup untuk mendapat penghargaan. Juga tidak termasuk melakukan hal-hal sekedar untuk mencoretnya dari daftar yang harus dikerjakan. Pengorbanan adalah ketulusan dalam menanam jasa untuk menunjang kehidupan orang lain dengan tujuan meningkatkan kehidupannya.

  • Mutu

  • Bila Anda mengerjakan sesuatu yang sudah atau akan dilakukan orang lain bagi Anda, itu bukan pengorbanan. Bila tidak penuh tantangan, itu bukan pengorbanan. Bila Anda tidak harus kehilangan sesuatu, maka Anda tidak memberikan apa-apa. Anda hanya dapat sungguh-sungguh membantu orang lain jika Anda cukup memperhatikannya sehingga Anda tahu kebutuhannya dan dapat menanggapi serta benar-benar melakukan sesuatu.

  • Advertisement
  • Kemampuan

  • Pada mulanya saya tidak berbakat untuk menjadi orang yang baik hati. Fokus saya ada pada jadwal minum obat, mengantar ke dokter dan memberinya makanan sehat. Diperlukan waktu agak lama untuk memahami bahwa beliau suka kakinya diolesi krim, belajar yang mana sprei kesukaannya, atau makanan kecil apa yang bisa membuatnya tersenyum. Kemampuan saya melayani bertambah sejalan praktek yang saya lakukan. Yang penting adalah bentuk pelayanan apa yang saya berikan, bukan berapa banyak yang sudah saya lakukan.

  • Etika

  • Memindahkan ibu ke rumah saya adalah tekad yang besar. Saya tidak bisa begitu saja berubah pikiran. Saya tidak bisa lari dari tanggung jawab. Menempatkan diri saya dalam situasi yang menuntut pelayanan terus menerus dan perawatan yang tekun mengembangkan etika pelayanan yang mempengaruhi setiap segi dari kehidupan saya. Ini membuat saya menyediakan segala kebutuhannya tanpa bertanya apa yang saya inginkan, atau apa yang terbaik buat saya.

  • Berkat Ilahi

  • Ketika saya fokus pada pelayanan, waktu sering terasa cukup sehingga banyak yang bisa diselesaikan dan badan mampu menahan keletihan yang biasanya tidak tertahankan. Kami dilindungi dan diberkati, kami memperoleh segala kebutuhan tepat pada waktunya. Saya mengira saya dapat menggunakan sumber daya saya untuk memberi kesembuhan, ternyata sayalah yang disembuhkan.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Irma Shalimar dari artikel asli "I wanted to bring healing but it was me who was healed" karya Emily Christensen.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Emily Christensen lives with her husband in Oklahoma. Her Ph.D. is in marriage and family therapy and she is pursuing a second degree in Hebrew and Jewish studies.

Saya Ingin Memberi Kesembuhan tapi Malah Saya yang Disembuhkan

Saya kira saya dapat memberi kesembuhan dengan sumber daya yang saya miliki, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, sayalah yang disembuhkan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr