Digital heroin. Apakah itu dan mengapa kita harus mewaspadainya?

Narkoba adalah benda terlarang yang dapat mengakibatkan kecanduan. Gadget, adalah benda biasa yang -sebetulnya- memiliki dampak lebih berbahaya dari kecanduan narkoba. Ya, karena gadget lebih mudah didapatkan ketimbang narkoba.

204 views   |   1 shares
  • Wah, seram sekali ya istilah Digital Heroin ini? Sebetulnya apa sih artinya? Sebuah artikel di New York Post yang ditulis oleh Dr. Nicholas Kardaras, Direktur Eksekutif dari tempat rehabilitasi ternama di AS, The Dunes Hampton dan Profesor klinis di Stony Brook Medicine, menjelaskan bahwa segala bentuk tablet digital, telepon pintar dan games seperti Xbox adalah jenis narkoba yang baru.

  • Ia bahkan menjelaskan, ada penelitian yang membuktikan bahwa bagian otak yang bernama frontal cortex -yang mengontrol seluruh fungsi tubuh termasuk impuls- dari para pecandu gawai, bekerja dengan cara yang sama dengan para pecandu kokain. Teknologi bahkan mampu meningkatkan kadar dopamine -eurotransmitter dalam otak yang menciptakan rasa bahagia- hingga sampai ke tingkat yang sama tingginya dengan kenikmatan seksual.

  • Inilah alasan Dr. Peter Whybrow, Direktur Neuroscience di UCLA, menyebutnya dengan istilah "electronic cocaine" dan peneliti dari China menyebutnya "Digital Heroin".

  • Ya, dan sebetulnya banyak dari kita yang sudah menyadari bahayanya dampak dari terlalu banyak memberikan "screen time" pada anak, bukan? Apa saja sih sebetulnya efek berbahaya tersebut? Devi Sani M.Psi, Psikolog dari Rainbow Castle pernah menjabarkan sebagian dari buku Reset your child's brain yang ditulis Victoria L. Dunckley, MD mengenai hal ini. Ia mengatakan bahwa, dalam screen time, ada atau tidak ada unsur pornografi dan kekerasannya tetap memiliki efek yang buruk. Bahkan walaupun yang anak lihat di screen mengandung unsur edukasi. Mengapa? Karena screen memancarkan stimulus yang tidak natural bagi sistem syaraf kita semua, tak hanya anak.

  • Ia juga menjabarkan beberapa tanda dari screen time yang terlalu banyak atau disebut dengan Electronic Screen Symptoms (ESS) antara lain:

    1. Anak memunculkan simtom terkait mood, kecemasan, akibat sistem saraf yang terlalu banyak terstimulus. Tandanya mirip seperti orang kurang tidur atau stres yakni mudah marah, mood gampang berubah, tantrum sudah tidak sesuai usianya, gampang frustasi, kurang kontak mata, tidur cukup tapi masih terlihat lelah.

    2. Anak atau orang dewasa ini sering digambarkan oleh guru dan temannya sebagai anak yang terlalu semangat, tak ada capeknya dan terlalu sensitif.

    3. Secara intens mudah sekali tenggelam dalam screen time dan sangat sulit berpisah dari screen.

  • Advertisement
  • Ya, persis seperti orang kecanduan kokain kan? Sulit sekali memisahkan mereka dari layar, bahkan saat dipisah, kata Kardaras, banyak dari mereka yang menjadi agresif dan anxiety. Ia bahkan bercerita dalam proyek klinisnya yang bekerja sama dengan 1.000 remaja sepanjang 15 tahun belakangan, ia menemukan bahwa idiom "Satu ons pencegahan harganya sama dengan satu pon pengobatan" adalah benar adanya. Bahkan, ia mengatakan; lebih mudah mengatasi para pecandu heroin ketimbang para video gamers yang terjebak dalam matriks permainannya atau pecandu media sosial. Ya sebab, teknologi tidak illegal seperti narkoba, bukan?

  • Ya memang, tayangan anak-anak yang ada di internet atau media televisi, seperti ditulis Sahwa S Al-Harbi dalam bukunya; The Influence or Media in Children's Language Development, sebetulnya ada juga gunanya. Penelitian menunjukkan bahwa anak mengenal banyak kosakata baru melalui media televisi berdasarkan apa yang dia dengar.

  • Namun sayangnya, belajar bahasa dari mendengar saja hanya mengasah passive vocabulary. Apa itu? Yakni, kata-kata dipahami namun belum siap digunakan oleh anak untuk berkomunikasi. Interaksi dan komunikasi secara real life situation-lah yang dapat mengaktivasi kosakata yang dipelajari anak. Bagaimana melakukan komunikasi secara real life situation? Tentunya melibatkan interaksi antara anak dan orangtua. Jadi, vocabulary anak akan berganti menjadi aktif justru ketika orangtua banyak melakukan interaksi dan berkomunikasi dengan anak.

  • Jadi, cegah! Ini adalah hal terpenting yang harus dilakukan setiap orangtua. Artinya; lego menggantikan Minecraft, buku menggantikan iPad, bermain di alam dan berolahraga menggantikan televisi. Namun jangan lupa juga lakukan diskusi terbuka dengan si kecil, dan jelaskan alasan Anda membatasi aksesnya pada layar. Ceritakan bahayanya, katakan apa yang akan terjadi pada masa depan seorang pecandu layar yang antisosial. Selain itu, jadi contoh! Berhenti menghabiskan waktu dengan anak sambil sibuk dengan telepon pintar. Utamakan waktu bermain bersama anak ketimbang menonton film online.

  • Satu lagi, tidak usah khawatir dengan anak yang merasa kebosanan. Sebab hal ini sebetulnya tidak perlu langsung ditangani dengan cara memberi hiburan, terutama lewat teknologi. Psikolog anak,Dr. Laura Markham menjelaskan bahwa penting juga bagi anak merasakan kebosanan atau punya waktu yang tidak terstruktur. Sebab, hal ini memberi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi inner dan outer world mereka. Inilah cikal bakal kreativitas. Pada waktu ini mereka bisa belajar banyak tentang diri mereka sendiri dan dunianya lalu berimajinasi dan berkreasi.

  • Advertisement
Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Digital heroin. Apakah itu dan mengapa kita harus mewaspadainya?

Narkoba adalah benda terlarang yang dapat mengakibatkan kecanduan. Gadget, adalah benda biasa yang -sebetulnya- memiliki dampak lebih berbahaya dari kecanduan narkoba. Ya, karena gadget lebih mudah didapatkan ketimbang narkoba.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr