'E-mail anxiety'. Apa itu? Bisa jadi Anda tengah mengalaminya

Kecemasan tentu dapat mengganggu keseharian Anda. Apalagi jika kecemasan ini berawal dari email masuk yang bertubi-tubi. Teknologi memang dapat memudahkan, tapi ternyata tak jarang justru menimbulkan masalah baru.

125 views   |   shares
  • Apa yang pertama terlintas di kepala Anda saat mendengar kata "email"? Jika reaksi emosi Anda merasa panik dan tegang, merasa amat menderita setiap usai mengirim email, rasa berat di dada sebelum mengecek email, bahkan menumpuk email yang masuk di inbox tanpa dibaca, mungkin Anda mengalami Email Anxiety.

  • Tetapi sebetulnya Anda tidak sendiri, sebab, menurut Mark Schiffman, M.A. seorang terapis di Mahopac, New York, survei yang dilakukan oleh Future Work Centre dan melibatkan 2.000 pekerja di Inggris, menemukan bahwa email yang sebetulnya alat yang sangat bermanfaat untuk berkomunikasi, merupakan sumber stres dan frustasi.

  • Bahkan, dalam survei tersebut, partisipan yang merasa bahwa email merupakan cara paling baik dan efektif, adalah mereka yang juga mengakui bahwa emaillah yang menciptakan tekanan tertinggi dalam kehidupannya. Hasil survei ini pun mengindikasikan bahwa ada beberapa kebiasaan yang mendorong seseorang meningkatkan stres karena email, yakni; mereka yang mengatur push notifications pada email masuk di telepon genggam, mereka yang membiarkan email masuk membanjiri background telepon genggamnya, juga mereka yang sigap mengecek email saat bangun tidur dan menjadikan kebiasaan sebelum tidurnya.

  • Seorang psikolog dan penulis buku "The best place to work", Ron Friedman, menyatakan bahwa "email anxiety" memang belum dinyatakan secara resmi termasuk ke dalam gangguan anxiety pada umumnya. Namun, ya, kenyataannya stres dapat meningkat karena keberadaan email. "Tidak ada keraguan, mengecek email setiap saat secara konstan merupakan hal yang buruk bagi produktivitas dan kualitas hidup," katanya.

  • Memberikan jeda dalam mengecek email di keseharian -misalnya memberi waktu cek email di Pk 9.00, Pk 12.00 dan Pk 16.00- telah terbukti mampu membuat hidup lebih baik dan pekerjaan lebih terkontrol. Alasannya sederhana, kata Friedman, dengan tidak selalu mengecek email maka Anda dapat konsentrasi penuh dalam melakukan pekerjaan yang ada di depan mata, dan membuat progres tanpa distraksi. Ini efektif untuk membuat Anda merasa beban pekerjaan dapat teratasi dengan baik.

  • Selain itu, berikut ini adalah beberapa cara untuk menaklukkan email anxiety:

  • 1. Matikan push notifications untuk email di telepon genggam

  • Jika bidang pekerjaan Anda tak memungkinkan untuk memberikan waktu tertentu untuk mengecek email, Anda bisa mematikan notifikasi dan berikan jeda sekitar 30-50 menit untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan email masuk.

  • Advertisement
  • Notifikasi bagi email masuk sebetulnya akan menguras energi Anda karena otak dipaksa untuk membuat keputusan yang berlipat ganda (cek email atau selesaikan pekerjaan? Respons sekarang atau nanti?) bahkan sebuah riset menunjukkan, keharusan membuat keputusan yang terjadi terus-menerus secara beruntun membuat kita lelah, bahkan kita menjadi lebih sulit menentukan mana yang lebih penting -inilah penyebab stres.

  • 2. Buat template

  • Anda sering harus mengirim balasan yang mirip-mirip. Buat saja templatenya dan simpan di telepon genggam. Jawab email dengan template tersebut.

  • 3. Tentukan prioritas

  • Tentukan apa yang akan Anda lakukan pada email masuk. Delete, archive, reply, atau beri tanda untuk dibaca lain waktu. Opsi ini biasanya selalu ada di penyedia email. Membuat folder "To-do" untuk email masuk yang butuh dibalas cepat adalah hal terbaik. Sementara email-email lain bisa dibaca saat santai.

  • 4. Bersihkan inbox

  • Jika ada email sejak beberapa tahun silam yang belum sempat dibuka, hapus saja. Pertimbangkan juga untuk mencari email dengan "unsubscribe", ini akan membuat Anda melihat tumpukan email yang masuk dengan basis newsletter, dan sebenarnya tidak relevan dengan Anda.

  • 5. Minimalkan isi email yang Anda kirim

  • Dengan isi email yang singkat, Anda akan terhindar dari kemungkinan misinterpretasi. Bahkan lebih membantu penerima email untuk mengerti maksud Anda, ketimbang Anda terus membalas dengan draft panjang, lalu mengeditnya beberapa kali sebelum mengirim. Ini hanya akan mengakibatkan stres.

  • 6. Bertemu

  • Upayakan untuk melakukan rapat atau pertemuan secara langsung agar Anda bisa menyampaikan ide atau berbagai hal yang biasanya Anda ungkapkan dalam email.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

'E-mail anxiety'. Apa itu? Bisa jadi Anda tengah mengalaminya

Kecemasan tentu dapat mengganggu keseharian Anda. Apalagi jika kecemasan ini berawal dari email masuk yang bertubi-tubi. Teknologi memang dapat memudahkan, tapi ternyata tak jarang justru menimbulkan masalah baru.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr