Apa yang Anda lakukan untuk membatasi konsumsi anak menonton televisi?

Sekarang ini sangat sulit untuk menjauhkan anak dari kegiatan menonton. Apa yang bisa kita lakukan?

195 views   |   1 shares
  • Anak adalah tanggung jawab setiap orangtua. Sebagai orangtua, Anda berkewajiban memproteksi anak Anda. Anda tentu akan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak Anda dan sebisa mungkin menjauhkan anak dari hal-hal yang buruk, tidak pantas, merugikan dan bersifat negatif. Namun, sebagai orangtua, Anda juga mempunyai keterbatasan. Anda tidak mungkin bisa mendampingi anak-anak Anda seharian penuh. Tanggung jawab lain juga harus Anda kerjakan selain menjaga anak-anak Anda.

  • Saat Anda tidak berada bersama anak, rasa kekhawatiran itu pasti muncul manakala sesuatu hal yang tidak Anda inginkan terjadi, misalnya ketika anak-anak melihat tayangan yang kurang baik. Sekarang ini sangat sulit untuk menjauhkan anak dari kegiatan menonton. Aktivitas ini seperti sudah menjadi kebutuhan setiap orang, termasuk anak-anak. Banyaknya tayangan yang disuguhkan membuat anak-anak semakin betah berlama-lama di depan televisi. Bukan hanya tayangan di televisi, fasilitas internet yang semakin maju juga mendukung anak-anak untuk menikmati setiap tayangan yang diakses melalui smartphone, laptop atau komputer. Bermodalkan paket internet, wifi, anak-anak dapat mengakses tayangan apa saja yang mereka inginkan. Khususnya bagi anak remaja, penggunaan internet seperti menjadi keharusan.

  • Dalam kondisi seperti demikian, Anda pasti waspada bilamana anak-anak Anda melihat tayangan yang kurang baik. Apakah itu disengaja ataupun tidak. Lalu, bagaimana tindakan Anda untuk mengantisipasi anak tidak melihat tayangan-tayangan yang seperti itu? Bagaimana bila ternyata anak telah melihat tayangan-tayangan yang kurang baik tanpa sepengetahuan Anda?

  • "Memang tidak semua tayangan TV itu baik dikonsumsi oleh anak-anak. Beberapa stasiun TV juga menayangkan tayangan untuk orang dewasa. Dalam arti tayangan tersebut disuguhkan untuk orang dewasa. Bagi yang mengerti makna film atau tontonan yang ditayangkan, mungkin tidak berdampak negatif. Tetapi bagaimana bila yang menontonnya adalah anak-anak yang belum paham makna tayangan tersebut. Anak-anak sangat mudah dipengaruhi oleh tontonan yang mereka lihat dan dengar. Bukan hanya tayangan yang mendidik, tayangan yang kurang baik pun bisa memengaruhi perilaku anak. Misalnya adegan perkelahian dalam sinetron atau berita tentang kekerasan, kriminalitas. Tayangan seperti itu bisa memicu anak untuk menirukannya. Apalagi bila tayangan tersebut dilakukan oleh anak sebayanya, maka dalam kehidupan nyata anak, ia bisa berbuat sama seperti yang ditontonnya. Hal-hal demikian yang harus kita antisipasi untuk mencegah anak berbuat seperti yang ditontonnya. Oleh sebab itu untuk anak-anak di bawah umur, sebaiknya aktivitas menonton perlu didampingi orangtua." (Cornelius, 35 tahun, Kediri)

  • Advertisement
  • "Saya memiliki 2 anak laki-laki yang mulai menginjak remaja. Saya mengerti di usia mereka sekarang ini, pergaulannya semakin bebas. Mereka bukan lagi anak kecil yang harus dikontrol layaknya anak kecil. Anak remaja memiliki dunia mereka sendiri yang kadang kala mereka tidak ingin saya ikut campur di dalamnya. Berkaitan dengan tayangan yang kurang baik, saya mengarah pada tayangan yang bersifat pornografi. Apalagi anak saya adalah anak laki-laki dan mulai puber. Jiwa mereka masih menggebu soal seks. Nah, yang menjadi ketakutan saya sebagai orangtua, mereka bisa mengakses tayangan mengandung unsur pornografi di mana pun mereka berada. Apalagi gambar atau video yang kurang pantas atau tidak layak untuk mereka lihat dapat mereka akses dengan mudah melalui smartphone. Dampaknya pasti buruk, kenakalan remaja dan pergaulan bebas bisa saja terjadi. Komunikasi antara orangtua dan anaklah yang harus diperhatikan. Bagaimanapun anak harus selalu diingatkan dan dibimbing ke arah kebaikan." (Lani, Kediri, 42 tahun )

  • "Ketika anak-anak melihat tayangan yang kurang baik memang tidak bisa dihindari. Televisi hanya sebuah sarana hiburan dan informasi yang di dalamnya ada sisi positif maupun negatif. Kemampuan berpikir anak masih polos, apalagi bagi anak berumur di bawah 6 tahun. Seringkali mereka masih bimbang membedakan mana khayalan mana kehidupan yang nyata. Mana yang tidak boleh dicontoh dan mana yang harus dicontoh. Bahkan masih ada juga film kartun tetapi mengandung unsur kekerasan. Film komedi tetapi lebih banyak adegan mengejek, menghina lawan mainnya meskipun kita tahu itu hanya acting. Tetapi tanpa kita sadari, adegan per adegan tersebut tersimpan dalam memori si anak. Akibat buruknya, anak akan menirunya di kehidupan nyata. Untuk itu, kita harus selektif dalam memberikan tontonan yang pantas bagi perkembangan mental anak." (Nike, 29 tahun, Kediri)

Baca, hidupkan, bagikan!

Melisa adalah lulusan Sarjana Ekonomi UNMER. Saat ini menetap di Sulawesi Barat. Pekerjaannya adalah sebagai istri dan ibu dari kedua buah hatinya. Gemar menulis sejak masih SD, dan menurutnya menulis adalah sarana tepat untuk berbagi pengalaman.

Apa yang Anda lakukan untuk membatasi konsumsi anak menonton televisi?

Sekarang ini sangat sulit untuk menjauhkan anak dari kegiatan menonton. Apa yang bisa kita lakukan?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr