7 hal tak terduga tentang perceraian yang bisa Anda jadikan pelajaran

Pengalaman bercerai memang pahit. Tapi tidak ada salahnya untuk mengambil 7 pelajaran tak terduga ini agar tak lagi terulang di masa yang akan datang

3,019 views   |   19 shares
  • Mengikat janji suci sehidup semati, hingga maut memisahkan. Terkadang, badai datang menerpa rumah tangga Anda dan membuat janji suci ini terpaksa teringkari. Bercerai dengan pasangan, karena satu dan lain hal. Menjadikan Anda kembali lajang, atau menjadi orang tua tunggal bagi buah hati Anda.

  • Di balik kepahitan, kekecewaan, kesedihan, maupun amarah yang Anda rasakan pada perceraian Anda, ada sesuatu berharga tersimpan. Alasan yang membuat Anda tidak berkubang pada lubang hitam. Hikmah yang mendorong Anda untuk tetap maju dan menyongsong hari esok. Inilah 7 pelajaran bermakna yang Anda akan temukan dari perceraian.

  • 1. Pernikahan bukanlah pembagian persentase kontribusi

  • Saat Anda menjalani sesuatu bersama dengan seseorang, kerapkali Anda bertanya, berapa persen kontribusi yang masing-masing harus kami berikan? Ada yang mengungkapkan, pernikahan berarti suami dan istri sama-sama memiliki porsi sama rata 50-50. Ada pula yang menegaskan, suami maupun istri harus memberikan 100 persen ke dalam mahligai rumah tangga.

  • Sejujurnya, tidak pernah ada persentase yang tepat dalam menjalani pernikahan. Suami dan istri perlu saling mengisi serta mengelola ekspektasi satu sama lain. Saat Anda begitu lelah, pasangan sigap mengisi kekurangan. Namun, saat Anda berdua sama-sama tak dalam kondisi prima, berdamailah dengan keadaan. Menjalani hari-hari bersama pasangan dengan sistem kejar target bak tenaga penjual? Bersiaplah dengan konflik yang menghujani Anda karena kekecewaan tak tercapainya ekspektasi.

  • 2. Frekuensi seks tidak mencerminkan kualitas pernikahan Anda

  • Keintiman dalam pernikahan memang menjadi perekat ampuh. Sayang, salah kaprah sering terjadi kala keintiman selalu dikaitkan dengan seks. Ketika Anda merasa hubungan Anda dengan pasangan mendingin, serta merta urusan ranjang yang Anda perbaiki terlebih dahulu. Ketahuilah, frekuensi hubungan seks Anda dengan pasangan bukanlah indikator kualitas pernikahan Anda. Keintiman dapat dibangun dengan berbagai cara. Sebuah ciuman saat pergi ke kantor, bergandengan tangan saat berjalan, atau pelukan hangat di akhir hari yang berat. Bagi sebagian orang, seks dipandang sebagai penyaluran hasrat semata, tanpa koneksi di dalamnya. Evaluasi hubungan Anda tidak hanya dari sisi seks belaka dan jangan ragu untuk mengambil tindakan saat Anda merasakan ketidaknyamanan dalam pernikahan Anda.

  • Advertisement
  • 3. Anda punya waktu untuk membenahi diri

  • Akuilah, saat menikah, Anda menanggalkan "aku", melebur menjadi "kita". Banyak pengorbanan yang Anda lakukan, hingga Anda pun tidak lagi seperti lajang dulu. Sebut saja penampilan berubah, karena waktu bersolek Anda dihabiskan mengurus anak. Mengorbankan cita-cita untuk bersekolah, bekerja, atau menimba ilmu demi keluarga. Ketika Anda bercerai, Anda memiliki kesempatan untuk menjadi "aku" kembali. Tentu bukan sebuah egoisme, jika Anda ingin tampil bersinar luar dalam. Kepercayaan diri akan membuat Anda optimis melalui hari, bukan? Yakinkan diri Anda, bahwa Anda berhak untuk menjalani pilihan yang Anda suka dan terbaik untuk Anda.

  • 4. Masa kini jauh lebih penting dari masa lalu

  • Perceraian terjadi, Anda mulai mengulas segala hal yang terjadi di belakang sana. Mengingat detik pertama Anda berhubungan, awal pernikahan, hingga hari ke hari yang Anda jalani bersama. Mengapa aku tidak begini, mengapa dia begitu. Sejuta pertanyaan berkelebat dan membawa setumpuk penyesalan di hati Anda. Tahap penyesalan, berlanjut ke penyangkalan, tenggelam dalam duka akibat kehilangan. Hingga akhirnya, Anda tiba pada suatu titik, dimana Anda menyadari, sebanyak apapun Anda menangis dan menangis, hari akan tetap berjalan. Tidak ada yang dapat Anda lakukan selain menyimpan masa lalu dan melangkah maju.

  • 5. Anak-anak akan belajar menghargai kegagalan

  • Tak sedikit pasangan menikah yang memaksa untuk bertahan demi anak-anak. Bayangan akan keluarga broken home dengan anak-anak bermasa depan suram begitu kuat menghantui. Sebenarnya, sepanjang Anda dan (mantan) pasangan tetap memelihara hubungan baik di balik perpisahan yang pahit ini, anak-anak Anda kelak akan mengerti. Mendapatkan kasih sayang tulus dari kedua orang tua sepanjang hidup mereka, meskipun tidak bersama. Banyak pelajaran berharga yang dapat mereka petik. Kate Winslet, aktris populer asal Britania, yang juga mengalami beberapa kali kegagalan pernikahan, menyampaikan hal serupa. "Perceraian akan mengajarkan anak-anak untuk berjuang," ujarnya dikutip dari media Inggris, Independent. Kegagalan tak dapat dihindari dalam hidup. Upaya tak menyerah dan bangkit dari keterpurukan, adalah poin-poin penting yang akan membentuk karakter manusia tangguh, di masa mendatang.

  • Advertisement
  • 6. Bukan hanya satu pihak yang bertanggung jawab

  • Perceraian identik dengan mencari "siapa yang salah dan bertanggung jawab". Anda dan pasangan sama-sama membela diri, mencoba mencari celah, tak jarang berujung pada amarah dan kebencian. Apapun yang terjadi, siapapun yang memulai, kegagalan pernikahan adalah tanggung jawab Anda berdua. Masing-masing dari Anda sama-sama memiliki kualitas untuk mencapai apa yang Anda inginkan, dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Hanya saja, ketika Anda menjalani rumah tangga, yang terjadi adalah dukungan Anda satu sama lain tidak dapat mengoptimalkan kualitas tersebut. Atau, justru dukungan tersebut justru tidak ada sama sekali. Jikalau Anda bermaksud untuk memulai kembali mahligai dengan seseorang yang baru, ingatlah untuk menemukan pasangan yang menjadi support system yang kuat dan dapat Anda andalkan, begitu pula sebaliknya.

  • 7. Perceraian tak semudah membalikkan telapak tangan

  • Setiap pasangan tentu tidak menjadikan perpisahan sebagai bagian dari agenda petualangan hidup. Perceraian bukanlah sesuatu hal yang sederhana, baik untuk dibicarakan maupun dilaksanakan atau dijalani. Seyogyanya, perceraian terjadi setelah pertimbangan yang begitu dalam, pembicaraan dari hati ke hati, rasio hati dan logika yang coba diseimbangkan. Bercerai tidaklah bijak berawal dari ancaman. Atapun, berasal dari kejenuhan Anda dalam mengarungi kehidupan bersama, hanya karena Anda merasa lelah dengan tugas dan kewajiban Anda di dalam rumah tangga. Anda tidak mengundang perpisahan ke dalam pernikahan Anda. Ini semata terjadi sebagai keputusan setelah segala bentuk kompromi dan toleransi tak lagi mampu menyediakan solusi.

  • Dengan lembaran baru yang siap Anda tulis dengan perjalanan tanpa pasangan, hikmah-hikmah ini akan menjadi bekal yang baik bagi Anda. Berikan waktu bagi Anda menyembuhkan luka dan terimalah tulus dukungan dari mereka yang menyayangi Anda.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

7 hal tak terduga tentang perceraian yang bisa Anda jadikan pelajaran

Pengalaman bercerai memang pahit. Tapi tidak ada salahnya untuk mengambil 7 pelajaran tak terduga ini agar tak lagi terulang di masa yang akan datang
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr