Milik orangtua milik anak, demikian sebaliknya. Benarkah?

Seringkali orangtua merasa sudah memberikan segalanya bagi anak, maka anak harus membalasnya saat dewasa. Sementara anak merasa sebaliknya. Konflik karena masalah kepemilikan pun terjadi.

149 views   |   1 shares
  • Akan ada banyak sekali angle untuk membahas hal ini. Baik dari sisi moral, hukum yang berlaku di suatu negara, hingga hukum setiap agama yang dianut. Akan ada banyak juga keributan dalam keluarga yang berpotensi memecah belah satu sama lain, karena perkara kepemilikan.

  • Dari orangtua yang sibuk menuntut haknya saat anak sudah dewasa. Lalu anak yang merasa dulu, saat kecil, tak pernah dipenuhi haknya sehingga orangtua tak perlu dipenuhi haknya. Hingga melakukan segala yang diminta orangtua karena terpaksa lantaran merasa hal tersebut merupakan kewajiban. Perkara harta benda dan kepemilikan apa pun, melibatkan banyak emosi dan meluapkan sisi terdalam dari seorang manusia, sehingga menjadi hal yang tidak menyenangkan bagi banyak pihak.

  • Padahal sebetulnya, mengesampingkan aturan hukum yang berlaku dan aturan agama yang dianut, sebelum sibuk membicarakan hak dan kewajiban apalagi kepemilikan, baiknya kita bicara dulu mengenai cinta.

  • Sebuah paragraf dari buku Anak juga Manusia tulisan Angga Setyawan ini menyentuh hati terdalam, dan mampu membuat pembacanya bercermin pada dirinya sendiri. "Ayah, Ibu, tolong jangan risaukan apa yang belum dapat aku lakukan. Lihatlah apa yang sudah dapat aku lakukan, lihatlah lebih banyak kelebihanku. Ayah, Ibu, jangan kau bandingkan aku dengan anak lain. Lihatlah, aku tidak pernah membandingkanmu dengan orangtua lain, aku hanya satu.

  • Ayah, Ibu, jangan bentak-bentak aku. Lihatlah, aku punya perasaan, seperti engkau juga memilikinya. Aku sedang belajar memperlakukanmu kelak... Ayah, Ibu, aku ingin mengenangmu sebagai orang yang terbaik, ajari aku dan lihatlah yang terbaik dariku, sehingga aku bangga menyebut namamu. Ayah, Ibu, semoga kita punya cukup waktu, untuk saling mengenal dan memahami, aku belajar melihatmu dari cara engkau melihatku".

  • Ya, orangtua akan menuai bibit yang ditanamnya. Apa yang kini terjadi dalam kehidupan orangtua saat anaknya sudah dewasa adalah hasil dari pengasuhannya. Anak yang tidak pernah sibuk menghitung-hitung haknya, pasti berasal dari orangtua yang menunaikan seluruh kewajibannya. Anak yang tidak mempermasalahkan soal kepemilikan sesuatu jika terkait orangtuanya, pasti berawal dari cinta kasih tak terbatas serta koneksi mendalam dari hati yang diberikan orangtuanya.

  • Ini bukan cerita tentang kepemilikan, ini justru tentang cinta, sebagai titik tolak dalam melakukan kebaikan sepanjang hidupnya, hidup kita. Anak diajarkan untuk berbuat bukan karena rasa takut, marah, sedih dan semua perasaan negatif. Tapi mulai dengan cinta. Cinta yang seharusnya ditularkan oleh kita orangtuanya.

  • Advertisement
  • Sebagai pelajaran, apabila kita bertahan terus menerapkan kedisiplinan yang bermuara dari kemarahan orangtua dan ketakutan anak, siap-siaplah suatu saat mereka akan melakukan perlawanan setelah harga dirinya berontak karena selalu mendapat tekanan dan tuntutan. Anak akan mendapatkan konsep diri secara negatif.

  • Ini juga yang selalu digaungkan oleh psikolog anak, dr Laura Markham. Sebab, menurutnya, rahasia satu-satunya untuk menjadi orangtua terbaik adalah membentuk koneksi yang baik dengan anak-anak kita.

  • Memberikan cinta, artinya memberikan perhatian penuh pada apa pun yang terjadi antara Anda dan anak-anak, melihat berbagai hal dari cara pandang anak, dan selalu mengingat, meski perilaku anak kadang melelahkan dan membangkitkan kemarahan, namun ia tetap mahluk yang sama, yang dulu lahir dari rahim kita dan kita sambut dengan penuh harapan.

  • Ya, memberikan pengasuhan dengan cara membentuk koneksi membutuhkan banyak sekali upaya dan energi. Tetapi riset mebuktikan bahwa 90 persen orang di waktu jelang kematiannya menyatakan penyesalannya karena tidak memanfaatkan waktu hidupnya untuk mendekatkan diri dengan orang-orang kesayangannya. Dan hampir seluruh orangtua, yang memiliki anak remaja hingga dewasa menyatakan penyesalannya karena dulu kurang menghabiskan waktu bersama anaknya di masa kecil. Setuju?

  • Jadi bicara soal kepemilikan di masa dewasa, berarti bicara soal ikhlas, artinya bicara soal cinta, dan tentang apa yang orangtua tanamkan sejak hari pertama anaknya lahir di muka bumi. Bagaimana ayah dan bunda membentuk kedekatan dan koneksi dengan si kecil yang bahkan belum mahir melihat, bagaimana dekapan saat ia menangis dan kata-kata lembut yang menemaninya tumbuh melewati berbagai growing pains yang dialaminya. Ini yang menjadi bekalnya hingga dewasa. Ini yang akan membuatnya tak mempermasalahkan kepemilikan. Apa yang ia capai, apa yang ia miliki, akan ia berikan seluruhnya pada kedua orang yang paling mencintainya di muka bumi ini.

  • Dua orang yang juga tak akan mempermasalahkan kepemilikan, karena anak yang tumbuh sehat, kuat, cerdas, bahagia adalah tujuan utamanya. Hubungan ini terbentuk, dan konflik penuh air mata takkan pernah terjadi pada Anda.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Milik orangtua milik anak, demikian sebaliknya. Benarkah?

Seringkali orangtua merasa sudah memberikan segalanya bagi anak, maka anak harus membalasnya saat dewasa. Sementara anak merasa sebaliknya. Konflik karena masalah kepemilikan pun terjadi.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr