Ternyata, ada lho caranya mengendalikan mood anak!

Mood, adalah perkara menyebalkan bila terkait dengan anak, apalagi yang mulai menginjak masa remaja. Segala hal dapat menjadi pemicu mood berubah jadi jelek dan membuat sikapnya menyebalkan. Bagaimana ya cara mengendalikannya?

223 views   |   3 shares
  • Emosi adalah sesuatu yang harus dimiliki seorang manusia. Namun, menghadapi berbagai emosi yang terjadi, tak hanya dalam diri sendiri, juga saat menghadapi anak, adalah ujian tersendiri bagi orangtua. Sebab, meminta anak menahan emosinya sama dengan menumpuk sesuatu dalam hati yang siap meledak kapan pun.

  • Namun meladeni fluktuasi perubahan mood yang naik turunnya seperti roller coaster, kerap membuat orangtua tidak sabar. Apalagi di usia remaja. Sebab, di usia tanggung seperti itu, mereka sudah tidak lagi bisa didiamkan dengan bujukan gelitikan, cium atau mainan.

  • Banyak perubahan terjadi, dan biasanya dipengaruhi munculnya hormon pertumbuhan yang bertugas menyiapkan fisik remaja untuk berubah saat dia memasuki masa pubertas. Hormon ini tidak membawa perubahan fisik saja tapi juga berpengaruh secara emosi. Remaja jadi mudah berubah-ubah perasaannya. Sebentar kesal, lalu tak lama kembali senyum-senyum sendiri. Mudah tersinggung oleh hal kecil yang bermakna baginya tapi belum tentu hal besar bagi orang di sekitarnya.

  • Selain faktor hormonal, perkembangan otak remaja juga turut andil dalam menempatkan remaja sebagai makhluk emosi. Sampai usia 20 nanti, ada bagian otak remaja yang belum sempurna terbentuk. Bagian ini (prefrontal cortex) membantu seseorang melakukan proses berpikir yang lebih kompleks seperti proses pengambilan keputusan.

  • Apa sih dampaknya? Ya selain membuat orangtua gemas dan kesal, jadi mengerikan jika mereka menjadi sangat terbuka di depan orang lain apalagi di media sosial mengenai moodnya, isi hatinya, segala hal yang terjadi sehari-hari. Wah. Ini bisa memancing tindak kriminal loh.

  • Mood swings, wajar, memang. Namun ada baiknya dikendalikan, sebelum terjadi hal buruk. Bisakah? Menurut penulis Dominique F. Maciejewski, secara umum anak-anak sering kali terlihat murung pada awal-awal masa remaja. Berdasarkan penelitian, kondisi emosional mereka yang naik turun berdasarkan suasana hati. Maka untuk mengendalikan, orangtua terlebih dulu harus mengetahui penyebabnya.

  • Caranya, kata dia, para orangtua harus lebih memantau lagi, lebih dekat lagi untuk mengetahui perubahan ektrim terkait masalah emosional, perilaku, dan interpersonal mereka. Jadi, seperti ditulis Dr. Laura Markham, psikolog, mendisiplinkan anak tidak selalu berarti harus membatasi hal-hal yang mereka rasakan.

  • Advertisement
  • Kenyataannya, kata Dr. Markham, Anda tidak bisa menjauhkan rasa kesal dari diri anak. Mengatakan "Jangan khawatir" pada anak, tak akan membuatnya berhenti marah. Hal ini justru meninggalkan kesan bahwa ada sesuatu yang mengerikan dan memalukan mengenai emosi yang sedang dirasakannya, jadi akan lebih baik jika ia tidak mengekspresikannya. Kira-kira apa yang akan terjadi, jika seseorang menekan dan menutupi emosinya? Ya, emosi yang dihindari tersebut justru tak terkendali. Bisa muncul kapan saja dan lebih mengerikan.

  • Ini hal penting yang harus diingat orangtua; regulasi emosi. Mood yang terus berubah dan emosi yang meledak-ledak ini muncul bukan karena kita memperbolehkan mereka mengekspresikan emosinya. Justru disebabkan, saat mereka perlu mengekspresikan diri, namun mereka merasa tidak bisa. Jadi, akan lebih baik jika "mengakuinya" dengan berkata "Iya, Ibu/Ayah bisa lihat kamu marah.." ketimbang memarahinya saat marah.

  • Terima anak apa adanya, lengkap dengan semua emosinya. Tidak perlu jadi ribut karena memaksa mereka curhat dan menceritakan segala gundahnya pada Anda, seketika. Lebih baik fokus pada rasa menerima segala emosi dan mood yang terjadi, lalu tawarkan kasih sayang. Biarkan ia memahami bahwa Anda tidak pernah merasa bahwa emosi itu buruk.

  • Ia juga akan belajar bahwa; kita tidak selalu punya pilihan atas apa yang kita rasakan, namun kita selalu bisa memilih, bagaimana reaksi yang akan kita keluarkan atas segala rasa yang campur aduk tersebut.

  • Dengan begini juga ia akan mengetahui bahwa dirinya tak sendirian melalui berbagai perubahan yang membingungkan dan sebenarnya sangat melelahkan itu. Dengan menerima emosinya, Anda sudah pasti jadi lebih sering mendengarkan ceritanya ketimbang menasihatinya. Anda akan meluangkan banyak waktu untuk menemani dia.

  • Oh iya, waktu tidur pun sebetulnya amat penting dalam membantu anak mengatasi masalah mood, apalagi biasanya remaja mulai senang begadang. Kekurangan tidur membuat tubuh lelah, dan memicu mood berantakan. Begitu juga tubuh yang kurang olahraga, kurang mengonsumsi makanan bergizi, dan tidak sarapan. Karena itu, nutrisi juga bisa membantunya mengendalikan mood.

  • Memberikan kegiatan positif seperti berkreasi seni, melakukan hobi dan sebagainya, juga bisa membuatnya beraktivitas dan menghabiskan hari dengan sesuatu yang bisa menambah ilmu. Tidak membosankan, dan bisa membuat mood-nya lebih stabil, tentu saja.

  • Advertisement
  • Apalagi hal yang bisa dilakukan untuk membantu anak mengendalikan mood-nya? Tentu saja adalah menjadi contoh. Sebab, Anda adalah model utama anak dalam bersikap. Jadi, Andalah yang pertama harus mengntrol mood dan emosi.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ternyata, ada lho caranya mengendalikan mood anak!

Mood, adalah perkara menyebalkan bila terkait dengan anak, apalagi yang mulai menginjak masa remaja. Segala hal dapat menjadi pemicu mood berubah jadi jelek dan membuat sikapnya menyebalkan. Bagaimana ya cara mengendalikannya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr