Ketika anak 'tertular' berbicara kasar

Setiap orangtua pasti tidak ingin mendengar anaknya berbicara kasar. Tetapi sejak bersosialisasi di sekolah, anak justru mendapatkan 'kosa kata' baru yang tidak sepatutnya mereka ucapkan. Tindakan pencegahan apa yang harus dilakukan agar tak terulang kemb

702 views   |   9 shares
  • Bagaimana perasaan Anda jika tiba-tiba mendengar anak sedang mengobrol dengan temannya, tiba-tiba saling bersahutan kata-kata kasar. Meski keduanya saling tertawa, tidak sedang bertengkar, dalam hati Anda biasanya terbersit perasaan-perasaan menyalahkan temannya, atau lingkungan di sekitar mereka. Bahkan performa guru-guru di sekolah dan berbagai hal eksternal lainnya.

  • Padahal, menurut Maesera Idul Adha, Psi., psikolog dari RS Fatmawati Jakarta, kebiasaan anak berbicara kasar umumnya dimulai saat mereka masih balita. Nah, jika pada usia balita kebiasaan berbicara kasar tak diatasi, maka kata-kata kotor tersebut akan terus melekat di diri anak hingga mereka berusia sekolah.

  • Dan, ia menambahkan, beberapa anak senang berkata kasar bukan karena faktor lingkungan tempat mereka bermain, tapi justru datang dari keluarganya sendiri. Tidak jarang lho, seorang anak memiliki orangtua yang juga hobi bicara kasar, bahkan saat di depan anaknya. Jadi, menurutnya, orangtua lah pihak pertama yang harus melakukan introspeksi diri sebelum menyalahkan pihak lain.

  • Meski tak bisa ditepis juga bahwa ada faktor lain yang bisa memengaruhi anak berbicara kasar. Misalnya, tayangan yang mereka lihat di televisi. Atau temannya yang menonton tayangan tak berkualitas dengan kata-kata kasar dan contoh perbuatan buruk yang berhamburan, kemudian menirunya di sekolah saat sedang bermain dengan anak Anda.

  • Di sinilah pentingnya Anda membentengi putra putri dengan landasan agama juga etika. Anak kalau sudah Anda biasakan, dengan sendirinya akan memilih teman mana yang dia rasa punya perilaku yang baik. Namun demikian, membatasi tayangan yang boleh ditonton pun penting untuk dilakukan sejak dini, ya kan?

  • Psikolog anak, Nadya Pramudita, mengatakan bahwa dalam kehidupan anak, melalui pendidikan orangtua menanamkan nilai-nilai yang diharapkan juga menjadi nilai-nilai si anak pada saat anaknya dewasa nanti. Terkadang nilai yang diajarkan berbeda dengan nilai yang ada di lingkungan pergaulan anak.

  • Wajar orangtua menginginkan anaknya memiliki pergaulan yang baik dan benar, menurut kacamata si orangtua (yang sesuai dengan nilai yang hendak ditanamkan). Dan untuk itu terkadang juga perlu menjauhkan anak dari lingkungan pergaulan tertentu yang dinilai membawa pengaruh tidak atau kurang baik, ujarnya menjelaskan. Bagaimana cara terbaik membatasi pergaulan anak?

  • Advertisement
  • Ia menyarankan, agar memengaruhi anak untuk menilai sendiri bahwa teman tersebut perilakunya kurang baik, melalui diskusi atau contoh-contoh. Berikan kesempatan pada anak untuk mencerna dan mengambil sikapnya sendiri. Nadya mengingatkan, sebisa mungkin pengaruhi anak melalui diskusi, jadi bukan melarang secara frontal. Anak cenderung memiliki resistansi jika dilarang secara frontal dan mungkin akan membangkang atau bahkan bisa terjadi 'bermusuhan' dengan orangtua. Pada awalnya, kata dia, tentu saja anak perlu paham apa yang sebenarnya tidak disukai oleh orangtua.

  • Sementara, menurut psikolog Anna Surti Ariani, MPsi, yang biasa dipanggil Nina, masalah lingkungan yang berbicara kasar memang menjadi salah satu hal yang membingungkan orangtua. Hal ini karena masalah tersebut dianggap sulit diawasi oleh orangtua secara langsung."Kata kasar itu sebenarnya sangat bergantung pada konteks budaya dan pada siapa kita bicara. Di budaya Betawi misalnya, banyak bahasa yang terdengar kasar, padahal budayanya memang demikian," ungkap Nina.

  • Untuk masalah ini, Nina menganjurkan orangtua untuk menjelaskan pada anak bahwa memang ada kata-kata pada konteks tertentu, yang sebaiknya tidak diucapkan. "Yang bisa membedakan dan menilai adalah anak-anak dengan usia besar, tapi untuk anak yang usianya lebih kecil, cukup kenalkan dan arahkan anak pada kata-kata sopan," terangnya.

  • Jika anak sudah terlanjur mengenal dan mengucapkan kata kasar, Nina menyebutkan orangtua bisa menggunakan 'trik pengabaian'. Trik ini dilakukan dengan orangtua berpura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan anak, ketika ia mengucapkan kata-kata kasar.

  • Bila orangtua justru memarahi anak dan memberikan perhatian negatif pada kata kasar tersebut, anak justru akan terus mengingat kata tersebut dan penasaran untuk mengatakannya lagi. "Ini bagian dari pendidikan sopan santun, bagaimana cara berbicara sesuai konteks," lanjutnya.

  • Ingatkan juga seluruh anggota keluarga untuk melakukan hal serupa. Sering terjadi, saat anak berbicara kata-kata kasar, keluarga malah tertawa dan menganggap hal tersebut lucu karena diucapkan oleh anak kecil. Respons dari keluarga ini akan membuat anak salah paham dan menganggap yang dikatakannya adalah hal baik yang menyenangkan keluarganya. Iya, cuekin saja.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ketika anak 'tertular' berbicara kasar

Setiap orangtua pasti tidak ingin mendengar anaknya berbicara kasar. Tetapi sejak bersosialisasi di sekolah, anak justru mendapatkan 'kosa kata' baru yang tidak sepatutnya mereka ucapkan. Tindakan pencegahan apa yang harus dilakukan agar tak terulang kemb
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr