Mutlak-kah hukumnya memberi sebagian gaji kepada ibunda setiap bulan?

Sebagai anak yang sudah memiliki pendapatan sendiri, tentu selalu ada dorongan untuk membaginya kepada ibunda tercinta setiap bulan. Namun bagaimana jika sudah berkeluarga? Tetap wajibkah mengalokasikan dana tersebut?

4,877 views   |   31 shares
  • Urusan keuangan dalam berumah tangga merupakan salah satu pemicu permasalahan yang terjadi dalam keluarga. Berapa pun besarnya pendapatan yang diterima dalam sebuah keluarga, apabila tidak dapat mengatur dan mengelola dengan baik tentu akan banyak menimbulkan masalah. Termasuk pemberian bantuan untuk ibu dan ibu mertua.

  • Namun sebetulnya, bagaimana sih hukumnya memberi pendapatan kepada ibu, tersebut? Wiwik Widiyati, Psikolog dari pusat psikologi terapan PRATAMA mengatakan "Sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orangtua. Salah satunya dengan cara menafkahkan sebagian dari pendapatan yang kita terima untuk orangtua."

  • Meskipun demikian, ia menambahkan, pemberian nafkah kepada orangtua tentunya juga menyesuaikan dengan keadaan keluarga kita. Apakah sudah tercukupi seluruh kebutuhan hidup keluarga kita? Dan ini tak hanya tentang kita, namun juga tentang pasangan kita. Ketika suami memberi nafkah kepada orang tuanya, itu hanya berupa kebaikannya dalam rangka berbakti kepada mereka dan pemberian nafkah tersebut pun dapat diberikan jika kebutuhan kepada keluarganya sudah terpenuhi.

  • Sebaliknya istri tidak punya kewajiban dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Oleh karena itu, jika istri kemudian punya penghasilan sendiri dengan bekerja, uang yang dihasilkan itu adalah hak istri sepenuhnya. Meski istri bekerja atas izin suami, tak ada kewajiban bagi istri meminta izinnya dalam membelanjakan harta yang dimiliki. Suami memiliki kewajiban nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Ia juga berkewajiban menafkahi orangtuanya jika keduanya miskin, tidak punya harta dan pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya.

  • Menurut perencana keuangan Ahmad Gozali dari Biro Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekans, sebelum pasangan suami istri memutuskan berapa besaran uang yang bisa diberikan kepada orangtua atau mertua, ada baiknya mereka melihat kondisi finansial orangtua. Siapa tahu orangtua atau mertua tidak terlalu membutuhkan bantuan finansial, sehingga besaran uang yang diberikan tidak jadi patokan mereka dan tidak perlu diberikan secara berkala.

  • "Harus lebih banyak berkomunikasi dengan orangtua atau mertua untuk mengetahui apa yang mereka harapkan dari Anda, khususnya mengenai pengelolaan penghasilan Anda sekeluarga," ujar Gozali. Apalagi melihat besarnya tanggung jawab finansial yang harus Anda pikul dan pasangan pada masa depan, akan lebih bijak jika komunikasi dan keterbukaan antara kedua belah pihak mulai dilakukan hingga masalah finansial. "Misalnya jika saat ini Anda belum punya ru­mah sendiri, sebaiknya uang ditabung untuk mem­beli rumah. Atau jika punya anak, sebaik­nya mulai persiapkan dana pendidikan. Kalau perlu persiapkan dana pensiun," Gozali menambah­kan.

  • Advertisement
  • Lalu bagaimana menyiasati pemberian nafkah agar dapat adil antara orangtua dan mertua? Widiyati mengungkap tiga hal:

    1. Bagi anak yang belum bekerja tetapi sudah menikah, tidak merepotkan orangtua sudah cukup bagus. Misalnya saja pasangan muda yang masih duduk di bangku kuliah. Tunjukkan saja prestasi Anda yang dapat membanggakan kedua orangtua.

    2. Seorang istri yang tidak bekerja karena fokus membesarkan dan mendidik anak tidaklah menjadi kecil hati karena tidak memiliki penghasilan sendiri. Memberikan nafkah untuk orangtua tidak harus setiap bulan. Sekedar datang membawa oleh-oleh sudah membuat orangtua senang.

    3. Keluarga yang suami istri bekerja tentulah memiliki pendapatan yang lebih dari cukup. Usahakan setiap bulan dapat memberikan nafkah kepada orangtua dan mertua. Sedikit tetapi ajeg mestinya membuat orangtua senang. Atur jadwal pemberian nafkah kepada orangtua dan mertua, misalnya bulan ini diberikan kepada orangtua dan bulan depan kepada mertua. Suami dan istri dapat berdiskusi tentang hal ini agar tidak ada selisih pendapat.

  • Sementara, Ahmad Gozali menambahkan, jika orangtua tidak menolak ­pem­beri­an Anda, sisihkan sebagian gaji yang sekiranya cukup untuk membayar kebutuhan konsumsi rutin, misalnya cukup untuk membayar biaya listrik atau air setiap bulan. Kuncinya, pastikan uang itu tidak mengganggu kelancaran pemenuhan kebutuhan asap dapur keluarga inti Anda.

  • Jika Anda memiliki komitmen untuk memberi mereka uang lebih secara berkala, sampaikan pesan kepada orangtua jika uang itu merupakan upaya bagi-bagi rezeki dan menjadi ganti biaya listrik, air, dan jajan anak-anak.

  • Cara lain yang lebih menarik bisa juga dengan menyisihkan uang jatah bulanan Anda, simpan dalam rekening terpisah yang tidak dilengkapi dengan kartu ATM. Nantinya tabungan itu akan digunakan untuk kebutuhan orangtua yang sifatnya mendadak, atau dikeluarkan saat orangtua membutuhkan biaya ekstra.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mutlak-kah hukumnya memberi sebagian gaji kepada ibunda setiap bulan?

Sebagai anak yang sudah memiliki pendapatan sendiri, tentu selalu ada dorongan untuk membaginya kepada ibunda tercinta setiap bulan. Namun bagaimana jika sudah berkeluarga? Tetap wajibkah mengalokasikan dana tersebut?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr