Berbagi beban cicilan dalam rumah tangga dengan pasangan. Bagaimanakah semestinya?

Kini, hampir semua orang menggunakan cicilan dalam membeli barang. Begitu juga dalam rumah tangga. Lalu siapa sih yang seharusnya menanggung? Apakah memang ada aturan mengenai hal ini?

512 views   |   2 shares
  • Manajemen keuangan suami istri dengan cara tradisional biasanya suami bertugas sebagai tulang punggung yang bertanggung jawab membawa pulang penghasilan untuk hidup keluarga. Sedangkan istri bertugas menjaga kehangatan rumah dan menyiapkan segala kebutuhan dari uang yang diberi suami.

  • Namun, sekarang banyak kita dapati baik suami maupun istri sama-sama bekerja untuk berbagai alasan yang berbeda. Dari mulai mendapatkan penghasilan keluarga yang lebih besar hingga sekadar mengisi kekosongan dalam rutinitas sehari-hari. Istri bekerja membantu suami adalah hal yang lazim, terutama untuk pasangan muda yang sedang membangun fondasi keuangan keluarga. Tetapi perlu ada aturan yang jelas mengenai pembagian keuangan, mengingat masalah keuangan adalah hal yang sensitif.

  • Menurut studi yang dilakukan oleh Forum for Family and Consumer Issues, 39 persen pasangan bertengkar karena masalah keuangan. Oleh karena itu sebaiknya masalah keuangan dibicarakan sejak awal pernikahan. Termasuk di dalamnya, mengambil cicilan barang atau rumah, yang kini lumrah saja jika ditanggung berdua. Namun bagaimana sih aturan sesungguhnya?

  • Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, seorang Financial Planner menjawab hal ini. "Menurut pengamatan saya, ada empat kemungkinan yang bisa terjadi tentang pengelolaan uang dalam sebuah hubungan, seperti yang saya tuliskan di buku "Menjadi Cantik, Gaya, & Tetap Kaya"".

  • 1. Penghasilan suami dan istri digabung, lalu digunakan untuk keperluan keluarga.

  • 2. Penghasilan suami sepenuhnya milik keluarga, penghasilan istri milik sendiri.

  • 3. Suami memberikan uang bulanan kepada istri, tetapi jumlah penghasilan sesungguhnya tidak diketahui pasangan.

  • 4. Pembagian tugas dalam menyelesaikan kebutuhan. Misal gaji suami digunakan untuk bayar cicilan rumah, bayar uang sekolah anak, dan bayar belanja bulanan. Sedangkan gaji istri digunakan untuk bayar tagihan listrik, telepon, dan urusan liburan.

  • Tidak ada yang benar dan salah dalam model pengelolaan keuangan yang dipilih. Jadi tidak ada aturan baku mengenai hal ini. Namun, yang sebetulnya paling penting diingat; sebelum menikah, Anda dan pasangan wajib terbuka mengenai berapa penghasilan yang diperoleh, siapa yang bertugas jadi manajer keuangan, dan bagaimana pembagian tugas dalam pengelolaan penghasilan setelah menikah nantinya.

  • Advertisement
  • Menurut survei USA Today di tahun 2012, 20% pasangan mulai ngobrol urusan keuangan saat baru menikah. Sedangkan, 31% pasangan sudah melakukannya sejak masih pacaran.

  • Berikut ini tips untuk mengatur penghasilan suami dan istri menurut konselor keuangan dan Keluarga MoneynLove Financial Planning & Consultant, Andreas Freddy Pieloor:

  • 1. Bagi Rata

  • Hitung semua pengeluaran keluarga, termasuk keperluan bulanan, cicilan, tabungan, investasi, dan lainnya. Total dari pengeluaran tersebut dibagi dua. Hasilnya adalah jumlah yang harus Anda dan pasangan penuhi dari penghasilan masing-masing.

  • 2. Bagi berdasarkan besarnya gaji masing-masing

  • Hitung jumlah gaji Anda dan pasangan terlebih dahulu. Kemudian hitung persentase jatah Anda dan pasangan dengan cara membagi gaji masing-masing dengan total gaji gabungan, lalu dikali 100%. Jadi, Anda bertanggung jawab membayar sekian persen dari pengeluaran keluarga dan sisanya adalah tanggung jawab pasangan Anda.

  • 3. Kesepakatan bersama

  • Kesepakatan berbagi tanggung jawab bisa Anda terapkan bersama pasangan. Misalnya, Anda yang bertanggung jawab untuk membayar cicilan rumah, listrik, air, dan belanja keperluan dapur, sementara pasangan Anda mendapatkan jatah membayar cicilan kendaraan, premi asuransi, dan investasi.

  • Lain lagi dengan Prita, Mengatur keuangan dengan Sistem Pundi-pundi adalah salah satu cara yang disarankan olehnya. Apa itu? Setiap bulan, tentukan siapa yang harus bayar untuk urusan bayar listrik & belanja bulanan, tentukan siapa yang harus menabung dan investasi untuk mimpi jalan-jalan ke Eropa, atau sekadar beli gadget terbaru.

  • Setiap rumah tangga, sebaiknya punya 5 (lima) rekening terpisah. Nah, setiap bulan, Anda berdua harus sepakat bagaimana cara mengisi pos tersebut;

  • Giving: rekening ini isinya untuk menampung uang untuk diberikan sebagai bantuan kepada orang yang tidak mampu.

  • Living: yang ini untuk membayar tagihan listrik, beli makanan, bayar uang sekolah anak, dan lainnya.

  • Emergency Fund: untuk dana darurat yang bisa diambil sewaktu-waktu saat dibutuhkan.

  • Saving: rekening ini untuk melakukan proses menabung dan investasi bulanan.

  • Playing: rekening ini bisa dipisahkan masing-masing untuk suami dan istri, supaya punya kebebasan untuk melakukan pengeluaran pribadi yang disukai. Misalnya, biaya salon & pijat, beli baju, atau lainnya.

  • Advertisement
  • "Repot? Sebetulnya tidak. Anda cukup datang untuk membuka Tabungan iB di berbagai Bank Syariah terdekat. Dari satu nomor induk, Anda bisa pecah menjadi 5 sub-rekening. Jadi, tak perlu boros membayar banyak biaya administrasi. Yang penting, setiap pos tidak tercampuraduk," ujarnya.

  • Pilhan ada di tangan Anda, cara mana yang Anda anggap paling cocok?

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Berbagi beban cicilan dalam rumah tangga dengan pasangan. Bagaimanakah semestinya?

Kini, hampir semua orang menggunakan cicilan dalam membeli barang. Begitu juga dalam rumah tangga. Lalu siapa sih yang seharusnya menanggung? Apakah memang ada aturan mengenai hal ini?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr