Membesarkan anak multi bahasa. Mungkinkah?

Mendengar seorang anak dapat cas cis cus dengan berbagai bahasa asing, sudah pasti membuat orangtuanya bangga. Namun benarkah hal itu baik juga untuknya? atau sebenarnya berbahaya?

290 views   |   1 shares
  • Persaingan di masa kini semakin ketat. Batas antar Negara yang semakin tipis membuka peluang bagi setiap orang untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai bangsa. Kemampuan berbahasa asing menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi jika kita tidak ingin kalah dan tertinggal dari orang lain.

  • Saat wacana untuk membesarkan anak dalam dua bahasa atau banyak bahasa (multibahasa) dilontarkan pada para orangtua, mungkin ada banyak sekali orangtua yang khawatir anaknya akan mengalami keterlambatan bicara karena kebingungan menirukan bahasa orangtuanya. Padahal, untuk anak-anak yang terlahir di luar negeri atau memiliki orangtua beda bangsa, belajar multibahasa sepertinya sesuatu yang sulit untuk dihindari. Lalu bagaimana seharusnya?

  • Dra. Mayke S. Tedjasaputra M, Si., seorang dosen perkembangan anak, mengatakan, ada pendapat yang mengatakan sejak bayi sudah dapat diajarkan bahasa bilingual, karena nanti di otak, akan terbentuk bagian masing-masing. Bahasa itu ada yang untuk memahami, ada yang untuk mengujarkan. Pusat bicara dan pusat pemahaman sama sekali tidak bisa dipisahkan karena saling berhubungan. Anak-anak itu mengerti dulu, nanti saat mencapai usia tertentu, mereka akan mulai bicara.

  • Namun ada kasus khusus untuk anak yang perkembangan bahasa dan bicaranya terlambat, mereka akan lebih sulit mengerti. Untuk kasus-kasus seperti itu, sebaiknya mereka dimantapkan 1 bahasa dulu baru bahasa lain. Jadi kembali ke anak-anak yang sudah paham banyak tetapi sulit untuk bicara, ada yang cepat, ada yang lambat. Jadi orangtua sebaiknya sensitif, memperhatikan apakah anaknya bingung atau tidak. Kalau anaknya bingung, sebaiknya tidak dipaksakan untuk belajar 2, apalagi 3 atau 4 bahasa.

  • Meskipun demikian, menurut penelitian di Kanada ternyata anak dengan multibahasa lebih jago dalam multi tasking, mengerjakan berbagai hal dalam satu waktu. Jaringan otak anak tumbuh berkembang lebih cepat pada masa itu.

  • Studi Longitudinal dari Universitas Harvard juga telah membuktikan bahwa otak anak-anak dari usia 3 tahun sampai usia 8 - 10 tahun merupakan fase yang paling peka untuk digunakan belajar bahasa. Sesudah itu perkembangan sentrum bahasa pada otak kiri akan berkurang. Dengan adanya penelitian ini tentu saja menepis pendapat banyak kalangan bahwa anak yang diajarkan bertutur multibahasa bisa membuat kebingungan dan menyebabkan keterlambatan perkembangan bahasa anak.

  • Bahkan sebaliknya, jika kita ingin memiliki anak yang memiliki kemampuan multibahasa, usia-usia di mana anak mulai belajar bicara sampai dengan usia 8-10 tahun adalah "periode emas" bagi kita untuk mengajarkan kepada mereka multibahasa. Penelitian ini juga menepis pendapat yang mengatakan bahwa kegaguan pada anak bisa disebabkan oleh tantangan multi bahasa. Penelitian menunjukkan bahwa jika diajarkan secara benar, belajar multibahasa pada usia dini memacu perkembangan anak secara keseluruhan.

  • Advertisement
  • Anak-anak di Indonesia sendiri pada umumnya menguasai dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Hal ini merupakan suatu kelebihan dan menjadi dasar untuk mempelajari bahasa asing dengan lebih mudah. Namun yang harus diingat adalah konsep dan cara belajarnya harus dilakukan dengan benar.

  • Sayangnya, beberapa orangtua kemudian memaksakan anak untuk belajar bahasa melalui kursus bahasa, sehingga menjadi beban bagi anak. Mengurangi waktu bermainnya.

  • Padahal, menurut Mayke, anak akan cepat belajar kalau learning by doing, dihadapkan pada situasi langsung. Jadi, sebaiknya mereka diajarkan bahasanya kemudian langsung diajak melakukan, itu cara yang paling mudah bagi anak untuk dapat mengerti.

  • "Saya nggak setuju kalau anak kecil udah disuruh-suruh les gitu, terutama yang di bawah 5 tahun. Kalau sudah 5 tahun dan orangtuanya tidak terlalu paham dan mereka ingin mengursuskan anaknya, boleh, tapi jangan yang metodenya formal. Contoh dari learning by doing, misalnya belajar dari lagu sambil gerak, itu anak akan lebih cepat mengerti dan nggak bosan," ujar Mayke.

  • Selain itu, kita perlu menggunakan bahasa yang kita kuasai untuk berbicara dengan anak. Jangan memakai bahasa yang bercampur-campur saat berbicara dengan anak. Proses mengajarinya sama dengan mengajari belajar bahasa ibu, yaitu tanpa mengajarkan tata bahasa, kosa kata, dan sebagainya. Yang penting, tidak boleh menggunakan dua bahasa dalam satu kalimat. Hal itu dapat membingungkan anak.

  • Dukungan orangtua pun memegang peranan sangat penting. Ada banyak cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mengasah kemampuan multibahasa anaknya antara lain dengan menyediakan buku-buku, video, atau bahan lain dalam bahasa asing.

  • Terlepas dari pentingnya berbahasa asing, bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu sebaiknya tetap diajarkan kepada anak-anak. Bahkan sejak tahun 1951 UNESCO telah merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan. Selain menambah rasa aman bagi balita, bahasa Ibu juga memelihara identitas etnis dan juga meningkatkan kepekaan linguistik.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Membesarkan anak multi bahasa. Mungkinkah?

Mendengar seorang anak dapat cas cis cus dengan berbagai bahasa asing, sudah pasti membuat orangtuanya bangga. Namun benarkah hal itu baik juga untuknya? atau sebenarnya berbahaya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr