Perceraian tak selalu jadi solusi masalah pernikahan Anda, ini 10 alasannya!

Layaknya pengambilan keputusan besar dalam hidup Anda, memutuskan untuk bercerai dari pasangan perlu pertimbangan masak-masak. 10 alasan ini dapat membuka cakrawala Anda, bahwa perceraian tak selalu jadi solusi kala pernikahan diterpa badai.

2,766 views   |   22 shares
  • Badai dalam rumah tangga sedang menggoyahkan Anda. Anda mulai mempertanyakan banyak hal tentang pasangan. Kemudian, Anda membuat daftar pertimbangan untuk melanjutkan pernikahan atau berhenti di sini saja. Ya, Anda berpikir untuk bercerai dengan pasangan dan memulai hidup yang baru.

  • Dalam beberapa kondisi, seperti adanya kasus ketergantungan yang membahayakan jiwa raga (alkohol, narkoba atau zat terlarang), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, atau penelantaran, Anda dapat saja menjustifikasi pilihan Anda untuk bercerai.

  • Akan tetapi, layaknya pengambilan keputusan yang besar dalam perjalanan hidup Anda, pertimbangkan segala dampak positif dan negatif dari pilihan Anda. Dampak yang tidak hanya dirasakan oleh Anda atau pasangan, tetapi juga orang-orang lain yang berada dalam lingkaran kehidupan Anda. Sebagai permulaan, inilah 10 alasan mengapa perceraian bukan solusi terbaik untuk masalah rumah tangga Anda.

  • 1. Perceraian akan membawa dampak psikologis kepada anak

  • Bagi Anda, pasangan akan berubah status menjadi mantan pasangan saat bercerai. Namun, bagi buah hati Anda, mereka tetap memiliki Ayah dan Ibu, sebagai darah daging Anda. Sebaik apapun Anda dan pasangan menjaga hubungan baik, segalanya takkan sama bagi anak Anda. Seiring mereka dewasa, sebuah luka membekas dalam hati. Bahwa kedua orang yang paling mereka cinta dan kagumi, tak cukup kuat bertahan untuk menjadi sebuah keluarga yang utuh.

  • Inilah salah satu pertimbangan terpenting yang sering dipikirkan oleh pasangan yang berniat untuk bercerai, seperti studi pada 2000 pasangan Inggris ini, dimana 1 dari 4 pasangan tidak memilih untuk bercerai karena alasan masa depan anak mereka.

  • 2. Pembagian hak asuh tak pernah cukup adil

  • Berkaitan dengan anak, Anda dan pasangan akan mendapatkan pembagian hak asuh. Tujuh hari dalam seminggu, kalaupun anak Anda bergantian tinggal, tetap tidak terjadi pembagian yang benar-benar adil dan setara. Terlebih, yang terjadi kebanyakan adalah, salah satu pihak memegang hak yang jauh lebih besar dari yang lainnya. Ketimpangan waktu yang dihabiskan anak bersama Anda dan pasangan, tentulah memberikan efek dalam perkembangannya. Ada sosok yang "hilang" karena tak menghabiskan waktu dalam porsi yang semestinya.

  • 3. Proses perceraian yang menguras biaya

  • Menjalani proses bercerai akan menghabiskan biaya. Biaya finansial yang Anda gunakan untuk menyewa pengacara, mengurus administrasi, pembagian harta, dan pengeluaran untuk hadir di persidangan. Jangan lupakan biaya waktu dan emosional yang tak kalah besarnya, karena persidangan perceraian bukan semacam pertemuan satu kali yang mudah dilalui.

  • Advertisement
  • 4. Kehilangan keluarga dan teman

  • Di masa pernikahan, Anda menambah jejaring dalam hubungan keluarga dan pertemanan berkat hubungan Anda dengan pasangan. Saat Anda berpisah dengan pasangan, berarti jejaring yang Anda miliki juga merasakan kehilangan tersebut. Terlebih, jika Anda menjalin hubungan baik dengan keluarga, teman, dan kenalan pasangan Anda. Rasa canggung sudah pasti akan terjadi. Anda pun juga harus siap mendapatkan stigma negatif atau terputus silaturahmi dengan mereka.

  • 5. Pemulihan dari kehilangan harga diri dan identitas

  • Tidak semua orang dapat cepat bangkit dari keterpurukan. Tak hanya dipengaruhi semangat dari dalam diri, namun adanya support system yang mumpuni dalam hidup Anda juga turut berperan besar. Jika Anda sadar, Anda tidak setangguh itu atau sulit mendapatkan dukungan dari lingkungan dekat Anda, ada baiknya tidak gegabah mengambil langkah bercerai. Cobalah menjalani beberapa solusi kompromi dan konsultasi dengan konselor atau psikolog untuk menggali akar permasalahan rumah tangga Anda.

  • 6. Kesiapan untuk berperan ganda

  • Tanyakan kepada diri Anda, apakah Anda siap melajang lagi? Menghadapi tantangan-tantangan yang biasa Anda taklukkan berdua, kini dengan usaha seorang diri? Dapatkah Anda mengambil alih perannya dalam keluarga, jika Anda nantinya hidup dengan anak-anak? Masa terberat akan dialami, saat Anda masih belum terbiasa dengan kesendirian, tiba-tiba dihadapkan dengan tuntutan untuk menjalani peran ganda. Sedangkan, luka kehilangan Anda belum kering di dalam sana.

  • 7. Pasangan baru, masalah baru

  • Ketika bercerai dan Anda memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang baru, percayalah, Anda mengundang masalah baru datang ke hidup Anda. Pernikahan kedua menyimpan potensi perpisahan lebih besar dari pernikahan pertama. Anda menikah dalam kondisi "tidak mulai dari nol", dengan adanya masa lalu, pengalaman, dan mungkin saja, anak-anak dari pasangan lama Anda. Ketiga hal ini belum tentu dapat diterima dengan baik oleh pasangan baru Anda. Atau, ketiga hal ini membuat Anda tak lepas menjalani hubungan dengan pasangan baru. Terlalu banyak variabel yang mencampuri kisah kasih Anda nantinya. Siapkah Anda dengan hubungan yang lebih dramatis?

  • Advertisement
  • 8. Kondisi finansial Anda akan berubah, seringkali lebih berat

  • Uang bukan segalanya, namun uang membuat Anda bertahan hidup. Dengan adanya perceraian, kondisi finansial Anda sudah pasti akan berubah. Adanya pembagian harta, pengaturan hak asuh yang membuat Anda harus melakukan perjalanan rutin, pemasukan yang hadir kini hanya satu pintu, adalah segelintir tantangan finansial yang siap menanti saat Anda bercerai.

  • 9. Perjuangan yang telah dilakukan patut dihargai

  • Artikel ini begitu menarik. Pria sangat mungkin untuk memilih tidak bercerai, sebagi bentuk penghargaan mereka kepada sang istri. Istri yang telah mendampingi mereka, yang berjuang hingga bertaruh nyawa mengandung dan melahirkan anak-anak, dan berbagai kontribusi lainnya. Sebuah pandangan yang cukup bijak, dimana setitik nila tak serta merta merusak susu sebelanga.

  • 10. Janji suci, bukan sembarang ucapan

  • Ingatlah detik-detik Anda meresmikan diri menjadi pasangan suami istri. Ada janji suci yang diucapkan, kepada pasangan dan Sang Pencipta, untuk selalu bersama dalam kondisi apapun. Menikah adalah bagian dari ibadah Anda di dunia. Saat masalah datang, bukan kata "cerai" yang mudah dilemparkan sekadar untuk lepas dari masalah. Mengingkari janji suci, merupakan perbuatan yang sesungguhnya tak patut dilakukan. Terlebih jika janji ini mencerminkan pula iman dan kepercayaan Anda, serta bagaimana Anda mencoba menjadi seorang hamba-Nya yang taat.

  • Memutuskan sebuah perpisahan bukanlah sebuah cara "lari" dari masalah. Ada baiknya Anda dan pasangan benar-benar menyelesaikan problem yang mengganjal mahligai rumah tangga dan mungkin saja, masalah teratasi saat Anda berdua menghadapinya sebagai satu tim, bukan individu.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Menulis dan mengajar adalah passion terbesarnya. Sambil mengasuh 2 balita lelaki super aktif dan menyimpan segudang ide di kepalanya, Winda gemar berbagi cerita untuk mendidik, menghibur, dan menginspirasi setiap pembaca karyanya.

Perceraian tak selalu jadi solusi masalah pernikahan Anda, ini 10 alasannya!

Layaknya pengambilan keputusan besar dalam hidup Anda, memutuskan untuk bercerai dari pasangan perlu pertimbangan masak-masak. 10 alasan ini dapat membuka cakrawala Anda, bahwa perceraian tak selalu jadi solusi kala pernikahan diterpa badai.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr