Waspada kelebihan berat badan pada remaja Anda

Urusan berat badan, apalagi di mata seorang remaja, menjadi persoalan yang amat penting. Karena itu, banyak dari mereka yang sibuk menghabiskan waktu dengan olahraga berlebih dan diet ketat. Haruskah demikian?

398 views   |   shares
  • Kelebihan berat badan, tentu merupakan masalah. Sebab, disadari atau tidak, alarm pertama muncul di atas timbangan. Ya, setiap penambahan berat badan di atas berat ideal, biasanya akan diikuti oleh berbagai alarm lain yang seringkali ditambah awalan "gejala" atau akhiran "ringan". Dari gejala diabetes, hingga stroke ringan. Ini yang biasanya dianggap sepele atau membingungkan, bukan?

  • Namun ternyata, pedoman terbaru dari American Academy of Pediatrics, menyarankan agar dokter anak dan orangtua tidak lagi fokus pada berat badan dan bentuk tubuh anak, untuk mencegah obesitas dan gangguan makan. Dokter dan orangtua juga tidak disarankan untuk menganjurkan remaja berdiet, karena lebih besar keburukannya dibanding manfaatnya. Rekomendasi ini, lebih menekankan pentingnya orangtua dan dokter mengajarkan anak pola makan sehat diiringi dengan aktivitas fisik.

  • Pedoman, yang dipublikasikan secara online 21 Agustus lalu dikeluarkan untuk menanggapi kekhawatiran tentang kebiasaan remaja menurunkan berat badan dengan metode yang tidak sehat. Para remaja yang berdiet tidak sehat ini, seringkali luput dari pengamatan dokter dan orangtua, karena mereka tidak memiliki bentuk tubuh yang ekstrim kurus. Tapi, metode penurunan berat badan instan yang mereka jalankan, kerap menimbulkan efek merugikan yang biasa terjadi pada pasien anoreksia nervosa, seperti detak jantung yang tidak stabil.

  • "Para remaja ini masuk kategori berbahaya, karena mereka sering terlewat oleh dokter," kata Neville Golden, MD, profesor pediatri di Stanford University School of Medicine dan penulis utama pedoman baru. Artinya, pada titik tertentu, remaja-remaja ini mungkin memang perlu untuk menurunkan berat badan, tetapi mereka melakukannya dengan serampangan dan di luar kendali.

  • Remaja kelas sembilan yang melakukan diet tiga kali lebih berisiko kelebihan berat badan di kelas 12, dibanding dengan rekan-rekannya yang tidak berdiet. "Kebiasaan menghitung kalori juga perlu dihilangkan, karena menyebabkan remaja kurang energi dalam melakukan aktivitas hariannya dan dapat menyebabkan gejala anoreksia nervosa yang mungkin mengancam jiwa," kata Golden.

  • Lagi pula sebetulnya, pada beberapa kasus, yang disebut dengan remaja kelebihan berat badan, kenyataannya tak selalu demikian. Angelina Sutin, ilmuwan psikologis di Universitas Negeri Florida mengungkap sebuah penelitian yang melibatkan peserta berumur 16 tahun. Mereka diminta untuk mengukur bagaimana mereka menilai berat badan masing-masing. Para peneliti tertarik dengan hasil yang menunjukkan banyak remaja yang menganggap dirinya kelebihan berat badan, padahal secara standar medis berat badan mereka pas.

  • Advertisement
  • Ada beberapa hal yang menjadi penyebab, ujar peneliti. Diperkirakan remaja yang memiliki kebiasaan yang tidak sehat seperti mengonsumsi pil atau memuntahkan makanan, juga kurang mengatur diri sendiri. Remaja biasanya dipengaruhi oleh pandangan yang terkait berat badan, dan berhubungan dengan obesitas. Akhirnya, faktor ini dapat memenuhi pikiran sendiri. Remaja yang salah persepsi yang menlai mereka terlalu berat mungkin tidak mengatur berat bedan yang sehat. "Ketika menambah berat badan, secara fisik mereka menjadi apa yang mereka pikirkan," ujar peneliti.

  • Dr Tan Shot Yen pun mengatakan hal senada. Menurutnya, yang menjadi masalah mendasar adalah, penderita kegemukan tidak mendapat bimbingan konsisten dari orang yang memahami masalah obesitas. Secara teori, katanya, penambahan berat badan adalah akibat pemasukan energi dalam bentuk asupan pangan berlebih dibanding dengan pengeluaran energi dan kecepatan tubuh menyimpan energi yang tak terpakai, menjadi lemak.

  • Untuk bisa "mengeluarkan" simpanan lemak, tentu kita harus kerja ekstra. Solusinya bukan diet. Pasalnya, pola makan amburadul yang super ekstrim (seperti hanya makan satu apel sebelum tidur atau hanya makan di siang hari, atau puasa sarapan) akhirnya membuat manusia malnutrisi, tetapi tetap gemuk.

  • Ketimbang sibuk mencoba segala aliran diet, sebetulnya makan bersama keluarga dapat melindungi remaja dari risiko masalah berat badan. Golden berpikir, ini mungkin sebagian karena pada kesempatan makan bersama, remaja bisa melihat contoh pola makan sehat dari orangtuanya. Ya, tentunya orangtua pun harus makan sehat, dong.

  • Tips lain dari Dr Tan adalah, lebih baik hiduplah degan kegembiraan sesuai jalur fitrah manusia, bergerak dengan wajar, bermain dengan segenap hati. Remaja tidak butuh waktu khusus untuk fitnes di pusat kebugaran mahal bila apa yang dimakan tidak memberikan kelebihan kebutuhan tubuh. Bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari-hari sebetulnnya cukup untuk membentuk otot dan menggusur lemak.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Waspada kelebihan berat badan pada remaja Anda

Urusan berat badan, apalagi di mata seorang remaja, menjadi persoalan yang amat penting. Karena itu, banyak dari mereka yang sibuk menghabiskan waktu dengan olahraga berlebih dan diet ketat. Haruskah demikian?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr