Permainan tradisional ini efektif mengasah kecerdasan anak

Era modern membuat anak-anak mulai menjauh dari permainan tradisional yang dulu biasa dimainkan orangtuanya saat kecil. Sayang sekali, sebab sebetulnya berbagai permainan itu amat baik dalam mengasah kecerdasan anak.

500 views   |   4 shares
  • Di era modern, saat anak-anak lebih akrab dengan layar bergerak yang dilengkapi suara menarik, dan berbagai simulasi-simulasi petualangan dengan format 3D yang menarik, fisik memang jadi jarang bergerak. Kebanyakan memilih berbagai playground di dalam mal agar tetap dapat melatih motorik kasar. Jelas berbeda dengan cara bermain orangtuanya di masa kecil, bukan?

  • Padahal, berbagai permainan tradisional sebetulnya memiliki banyak manfaat yang baik untuk perkembangan anak karena fisik dan emosi anak terlibat langsung sehingga dapat memengaruhi pertumbuhannya.

  • Apa saja sih sebetulnya manfaat dari permainan tradisonal yang dapat memengaruhi perkembangan anak?

  • Mengembangkan kecerdasan intelektual

  • Riva, pendiri Ayo Main mengatakan; contohnya dalam permainan dakon, pada permainan dakon ini melatih otak kiri anak dan melatih anak menggunakan strategi agar dapat mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.

  • Mengembangkan kecerdasan emosi

  • Contohnya dalam permainan layang layang. Pada permainan layang layang ini anak dilatih mulai dari proses pembuatan layang-layang, hingga saat menerbangkannya anak dituntut untuk sabar mencari arah angin yang tepat untuk menerbangkan layang-layang, dan menggerakkan tali layang-layang dengan gerakan yang tepat agar tali tidak putus.

  • Mengembangkan daya kreativitas

  • Contohnya pada permainan pesawat-pesawatan yang terbuat dari kertas, kardus dan lain-lain.

  • Meningkatkan kemampun bersosialisasi

  • Contohnya pada permainan gobak sodor, permainan yang bersifat kelompok ini memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi. Selain kebersamaan, anak diajarkan untuk mentaati peraturan, bergiliran, dan juga solidaritas dalam bemain.

  • Melatih kemampuan motorik

  • Contohnya pada permainan engklek, ketika anak meloncat dengan satu kaki dan anak berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya dan loncatan yang dilakukan itu baik untuk metabolisme tubuh anak.

  • Meskipun demikian, kemajuan teknologi sebetulnya juga banyak memberi manfaat dalam hal mengembangkan kemampuan kreativitas anak. Namun, teknologi seperti gadgetmemiliki kelemahan.

  • Menurut psikolog anak Efnie Indriyani, rata-rata alat atau perangkat teknologi cukup dimainkan soliter atau sendirian. Kalaupun ada lawan bermain, sosoknya hanya fiktif.

  • Karena itulah Efnie menilai permainan tradisional yang paling efektif dalam membentuk kecerdasan emosi anak karena melibatkan banyak orang atau berkelompok. Kecerdasan inilah yang paling penting dimiliki anak sebagai bekal mereka dibandingkan dengan intelektualitas. "Masalah intelektualitas saya optimis anak Indonesia cerdas. Dengan pelajaran banyak dibandingkan negara lain anak Indonesia bisa survive. Nilainya bagus, mereka bahkan bisa juara olimpiade matematika atau science. Tapi yang jadi PR adalah kecerdasan emosi artinya self control, kemampuan mengendalikan diri," ujar Efnie.

  • Advertisement
  • Seorang anak yang punya kecerdasan yang baik bisa terlihat ketika dia tumbuh menjadi remaja, dia akan jadi remaja yang santun, bisa memahami orang lain. Kemampuan inilah yang dapat meminimalisir adanya tawuran dan tidak melakukan gertakan (bullying), atau misalnya mungkin melakukan pelecehan terhadap teman-teman yang dianggap lemah. "Dia akan peduli dengan lingkungan dan ketika dewasa juga minimal dia punya karakter yang sabar," kata Efnie.

  • Selain itu, kecerdasan emosi biasanya akan seiring juga dengan perkembangan spiritualitas. Ini juga terkait dengan agama. Anak yang sudah punya spiritualitas sejak kecil, biasanya dia akan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan. "Dia tidak mudah menyakiti orang lain, dia bersabar, dan mampu mengontrol dirinya," ujar Efnie.

  • Pakar psikologi anak, Dewi Retno Suminar mendefinisikan permainan sebagai suatu aktivitas yang memberikan kesenangan kepada anak. Ada banyak keuntungan yang diperoleh anak ketika bermain semisal perkembangan fisik, kognisi, bahasa, kreativitas, negosiasi, kompetensi sosial dan masih banyak lagi lainnya. Kesemua manfaat tersebut, imbuh dia, bisa didapat sekaligus ketika anak-anak memainkan permainan tradisional.

  • Sebagai contoh adalah permainan dakon. Permainan dakon menurut Dewi membuat anak secara otomatis melatih kemampuan motorik dengan cara memegang biji-bijian. Manfaat interaksi juga bisa diperoleh karena permainan tersebut harus dilakukan bersama-sama dengan seorang kawan. Negosiasi untuk menentukan siapa dulu yang akan bermain serta kemampuan berhitung untuk bisa menjadi pemenang.

  • Selanjutnya Dewi membandingkan dengan permainan modern semisal play staston (PS). "Permainan PS memang dimainkan bersamaan dengan banyak anak. Namun bersamaan dalam permainan PS bukan berarti bersama-sama. Lihat saja dalam sebuah tempat sewa PS, antara satu anak dan anak lainnya tidak ada saling interaksi. Komunikasi dan negosiasi juga tidak ada melainkan hanya perubahan ekspresi karena keasyikan main sendiri," ujarnya.

  • Yang membuat makin parah, sambung Dewi, substansi permainan PS sebagai sebuah game membuat anak harus selalu melawan agar bisa menjadi pemenang. "Terus pukul, lawan agar jangan sampai kalah. Sebab kekalahan hanya akan membuat anak marah. Selanjutnya ketika terus-menerus dikerjakan lama-kelamaan akan menjadi karakter yaitu anak menjadi anak pemarah, suka melawan dan tak terbiasa dengan adanya negosiasi serta interaksi," ujarnya.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Permainan tradisional ini efektif mengasah kecerdasan anak

Era modern membuat anak-anak mulai menjauh dari permainan tradisional yang dulu biasa dimainkan orangtuanya saat kecil. Sayang sekali, sebab sebetulnya berbagai permainan itu amat baik dalam mengasah kecerdasan anak.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr