Hal yang harus Anda tahu sebelum mendisiplin anak ketika mereka melanggar peraturan

Mendidik anak agar taat pada aturan masyarakat maupun agama, adalah hal yang baik untuk dilakukan. Namun, caranya tidak mudah, sebab urusan aturan bukan hanya perihal perilaku dan tindakan disiplin. Membangun koneksi dengannya jauh lebih penting.

243 views   |   4 shares
  • Begitu banyak pertanyaan di kepala orangtua dalam keterkaitannya dengan cara pengasuhan anak. Dan yang kerap diajukan kepada psikolog anak, Devi Sani M.Psi dari klinik rainbow castle adalah teknik disiplin, teknik menghadapi tantrum, teknik membuat anak menurut dan sebagainya. Namun, ia mengatakan bahwa, dirinya tidak ingin memberikan teknik yang diinginkan orangtua sebelum memastikan bahwa orangtua tersebut telaH membangun koneksi yang dalam dan bermakna dengan anaknya di rumah.

  • Koneksi. Mengapa koneksi begitu penting? Karena, tambahnya, semua manusia, termasuk anak kita, secara naluriah memiliki insting untuk mengikuti arahan atau nurut kepada sosok yang disayangi oleh hatinya tanpa perlu diajari. Dan semua manusia, secara manusiawi, akan melawan jika dikontrol. Koneksi adalah fondasi dari seluruh teknik parenting. Ya, sebelum sibuk mencari tahu cara mendisiplinkan anak, kenali dulu sejauh mana kita telah membangun koneksi dengan si kecil.

  • Dalam buku Power Assertion by the Parent and Its Impact on the Child, tulisan Martin Hoffman, seorang profesor psikologi perkembangan dari New York University, mengatakan bahwa orangtua yang mendidik anak dengan keras akan menghasilkan anak-anak yang kehilangan ketertarikan untuk menyenangkan hati orangtuanya. Sementara mereka yang mendidik anak dengan permisif, akan membesarkan anak yang tidak bahagia dan selalu menguji limit orangtuanya. Kedua cara itu, tidak menginternalisasi self discipline.

  • Membangun koneksi, justru menggunakan rasa sayang dalam menjaga anak tetap berada di jalurnya. Anak yang memiliki koneksi mendalam dengan orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang terbuka dan bertanggung jawab. Memukul anak, tidak akan mengajarkannya untuk menjadi disiplin. Sebab hal itu hanya membuatnya merasa bahwa ia boleh memukul orang lain yang lebih kecil atau lebih lemah. Selain itu, ia juga belajar bahwa orang yang seharusnya menyayanginya, boleh menyakitinya.

  • Kata "disiplin" tidak ada kaitannya dengan "hukuman". Lalu bagaimana caranya agar anak berhenti berperilaku buruk dan melanggar aturan? Untuk menjawab hal ini, tertera di dalam buku Teaching Children Self-Discipline... At Home and at School, tulisan Thomas Gordon, psikolog klinis yang mendirikan Gordon Training International. Menurutnya, saat seorang anak melanggar aturan, ada tiga kemungkinan yang terjadi; ia tidak tahu apa yang seharusnnya dilakukan, ia tidak bisa mengontrol dirinya, ia tahu namun tidak peduli.

  • Advertisement
  • Jika ia memang tidak tahu, ajarilah dalam setiap kejadian. Misalnya mengingatkan bahwa kompor itu panas. Atau jangan lupa melihat kiri kanan saat menyeberang. Intinya, anak belajar mengenai perilaku dari contoh yang dilihatnya. Jika ia tidak bisa mengontrol dirinya, cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan membangun motivasi dan mengajari konsekuensi.

  • Misalnya ia harus tidur cepat, agar esok bisa bangun pagi dan tidak terlambat sampai ke sekolah. Mengapa harus sekolah? karena ia ingin mengejar cita-citanya. Berikan motivasi dengan alasan sebaik dan selogis mungkin, agar ia bisa mengenal konsekuensi dari perbuatannya. Begitu juga dengan anak yang sudah tahu namun tidak peduli. Ajak dia untuk lebih peduli, karena sebetulnya aturan dibuat untuk dirinya dan bukan untuk orang lain.

  • Namun hal mendasar yang paling penting untuk diingat adalah; anak yang "bertingkah" sebetulnya bukan masalah perilaku, justru masalah paling besar ada di hubungan orangtua dengannya. Sebab membantu anak untuk mengatasi emosi dan self discipline tidak akan efektif jika dilakukan dengan kemarahan. Ingatlah selalu untuk membangun koneksi sebelum memberi koreksi.

  • Bagaimana sih cara membangun koneksi yang lebih dalam? Saat kita lebih memilih mendengar imajinasinya dibanding mengecek sosial media. Saat Anda menemaninya tantrum tanpa memarahi dan menyuruhnya untuk diam. Atau sesederhana menatap matanya dan mendengarkan tanpa buru-buru ingin memberi nasihat ketika ia sedang menceritakan harinya.

  • Anak, tidak akan pernah menerima arahan dari kita tanpa didahului oleh koneksi yang dekat dan dalam. Kehangatan dari koneksi inilah yang membuat "pekerjaan" sebagai orangtua terasa lebih ringan dan anak mengikuti aturan kita, saat kita ada atau bahkan tidak ada di sampingnya. Saat ia tenang, kita akan lebih mudah bekerja sama dengan mereka untuk menguatkann motivasi dan membantu mereka untuk mengontrol dirinya sendiri.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Hal yang harus Anda tahu sebelum mendisiplin anak ketika mereka melanggar peraturan

Mendidik anak agar taat pada aturan masyarakat maupun agama, adalah hal yang baik untuk dilakukan. Namun, caranya tidak mudah, sebab urusan aturan bukan hanya perihal perilaku dan tindakan disiplin. Membangun koneksi dengannya jauh lebih penting.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr