Menunggu pasangan yang sempurna = buang-buang waktu

Tidak ada yang sempurna, begitu juga pasangan hidup. Logikanya, jika Anda menginginkan pasangan sempurna, Anda pun harus sempurna. Lalu bagaimana jika pertanyaannya dibalik: Sanggupkah Anda menjadi sempurna?

1,377 views   |   23 shares
  • Sebelum menikah, Anda pasti telah menetapkan kriteria tersendiri dalam memilih calon pasangan. Apa saja kriteria Anda?

  • Membuat daftar pasangan yang berkualitas, ideal, dan romantis adalah hal mudah. Namun, penelitian terbaru yang ditulis dalam livescience.com, mengungkapkan bahwa memilih pasangan yang 'cukup bagus' juga punya manfaat, dibanding menunggu pasangan yang 'sempurna', sebab hal tersebut hanya membuang-buang waktu saja.

  • Hal ini diungkap oleh Chris Adami, seorang microbiologis dari Michigan State University. Dalam penelitian tersebut, Adami dan koleganya juga tertarik untuk mencari tahu keadaan apa yang mungkin memengaruhi keputusan orang untuk membuat keputusan seumur hidup yang dampaknya bisa terjadi di masa depan, seperti kesempatan untuk memiliki keturunan.

  • Hasilnya menunjukkan bahwa strategi mencari pasangan terkait dengan lingkungan mereka dibesarkan. Mereka yang dibesarkan di kelompok kecil (kurang dari 150 orang) lebih berisiko karena menunggu kesempurnaan dibanding mereka yang dibesarkan di kelompok besar. "Khusus untuk kelompok yang lebih kecil, seorang individu punya kecederungan memilih pasangan yang sempurna, tetapi berisiko tak menemukannya dan tak akan punya keturunan," kata Adami.

  • Selain itu, sebuah studi yang dihelat oleh University of Texas di Austin, Amerika Serikat, menemukan bahwa kepuasaan dalam hubungan asmara dan loyalitas pasangan tergantung dari bagaimana Anda membandingkan mereka dengan mantan-mantan pada masa lalu.

  • Kecerdasan, kesehatan, sifat baik, daya tarik, mandiri, dan level finansial merupakan faktor-faktor yang paling sering dinilai dan dibanding-bandingkan. Studi ini menyimpulkan bahwa menemukan seseorang yang memenuhi standar kesempurnaan tinggi merupakan pekerjaan yang sia-sia. "Pertimbangan acap kali berdasarkan kompatibilitas ketimbang kecocokan. Hal ini telah memotivasi sebagian besar orang dalam mencari pasangan," jelas Daniel Conroy-Beam, ketua penelitian.

  • "Kami mendemonstrasikan bahwa pertimbangan dalam mencari pasangan telah membentuk perasaan dan kebiasaan dalam hubungan. Hal ini memengaruhi bagaimana kita merasa bahagia dengan pasangan berdasarkan usaha yang kita dedikasikan dalam hubungan tersebut," urainya.

  • Penelitian ini melibatkan 119 pria dan 140 wanita yang telah menjalin hubungan dengan pasangan masing-masing selama minimal tujuh tahun. Mereka mempelajari 27 sifat yang memengaruhi hubungan yang dianggap ideal. Hasilnya, responden mengaku merasa lebih bahagia ketika pasangan mereka lebih mencintai mereka ketimbang mereka mencintai pasangan, meski pasangan tersebut tidak termasuk dalam kategori pasangan ideal.

  • Advertisement
  • Hubungan yang harmonis, kata Conroy-Beam, tidak memerlukan pasangan yang sempurna. Sebab, hubungan yang harmonis hanya membutuhkan seseorang yang menghargai dan setia pada Anda.

  • Ya, tidak ada lelaki terbaik, dan tidak ada juga perempuan terbaik, bagi siapa pun. Semua orang punya kebaikan dan keburukannya masing-masing yang harus kita terima satu paket, saat memutuskan untuk menjadi pasangannya seumur hidup. Saat menikah karena merasa bahwa kriteria terpentingnya adalah memilih yang terbaik, dari semua yang ada, maka tak akan ada habisnya.

  • Kita hidup di dunia yang sangat ramai, selalu ada hal baru yang membuat kita tertarik, dan kemudian beralih. Inilah sebabnya, tak akan ada sosok yang terbaik, bagi setiap orang. Lagi pula setiap orang pasti berubah, maka bukan tidak mungkin ia yang tadinya terpilih menjadi yang terbaik, tiba-tiba berubah dan menjadi sosok yang tidak Anda idamkan sama sekali.

  • Ingatlah sesuatu bahwa pernikahan adalah institusi. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah bekerja sama.

  • Menikahlah dengan seseorang karena tekad dan niatnya bagi diri sendiri, Anda dan keluarga kecil Anda. Lalu berbahagialah dengan apa pun yang terjadi nantinya. Melakukan kompromi, negosiasi dan kemudian menerapkannya dalam tindakan kerja sama yang seimbang, akan membantu Anda dan pasangan untuk lebih fokus pada hubungan, dan komitmen di dalamnya. Hal ini amat penting untuk memertahankan hubungan.

  • Melewati setiap halang rintang pernikahan karena punya satu visi dan misi yang ingin dijalankan bersama. Anda dan dirinya akan saling menyayangi dalam porsi seimbang. Tidak ada tuntutan yang membebani perasaan, yang ada hanyalah kesadaran akan peran masing-masing, dalam institusi pernikahan ini.

  • Masing-masing akan mampu mendedikasikan diri dalam kehadiran, kesadaran dan perhatian, selama-lamanya. Bukankah ini keindahan dari pernikahan?

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menunggu pasangan yang sempurna = buang-buang waktu

Tidak ada yang sempurna, begitu juga pasangan hidup. Logikanya, jika Anda menginginkan pasangan sempurna, Anda pun harus sempurna. Lalu bagaimana jika pertanyaannya dibalik: Sanggupkah Anda menjadi sempurna?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr