Yuk, tuntun anak kita dan jangan menggiring mereka. Apa maksudnya?

Anak adalah sepenuh-penuhnya tanggung jawab orangtua. Karena itu, peran orangtua bukan hanya menyediakan kebutuhan primer, namun juga menjadi pendidik. Menjadi seorang pendidik, bukanlah mendikte apa yang harus dilakukan anak.

165 views   |   shares
  • Di zaman kita kecil dulu, bermain bersama anak-anak lain saat sore usai pulang sekolah di lapangan, merupakan hal yang biasa saja. Memang setiap anak bisa bebas menikmati waktu bermainnya setelah lelah belajar seharian. Tidak perlu tambahan les ini atau itu, dan sebagainya demi mengejar prestasi, dan bisa menikmati sore yang sejuk sambil berkeringat dan tertawa.

  • Kini, anak yang bermain bebas seperti itu jadi pemandangan langka. Memang di zaman sekarang, ada kekhawatiran yang terkait kemanan dan keselamatan, sebagai isu utama beratnya orangtua melepas anak sendirian. Namun tak banyak juga orangtua yang memang terlalu semangat mengarahkan anak untuk sedari dini mengejar tujuannya. Ya dengan kegiatan yang bejibun di berbagai institusi pendidikan anak yang kini menjamur.

  • Belum lagi sikap orangtua yang kini menjadi over parenting, karena kekhawatiran yang berlebih. Hingga menjadikan ayah bunda mendidik anak dengan amat permisif. Tujuan awal menuntun anak, kini bergeser jadi menggiring. Padahal perbedaannya cukup jelas.

  • Ya memang, mungkin kadang orangtua merasa apa yang anak lakukan lambat dan tidak benar. Hal ini membuat orangtua pun ingin segera membantu mereka. Misalnya, makan. Daripada makannya jadi berantakan dan lama, lebih baik disuapi. Padahal, menurut Devi Sani M.Psi, psikolog anak di Klinik Rainbow Castle, jika saja orangtua membiarkan anak melakukannya sendiri dan membantu hanya ketika anak benar-benar membutuhkan, orangtua sudah menuntun anak. Ingat, otak anak sedang berkembang dengan pesat. Dengan anak mengalami berbagai pengalaman yang ia butuhkan, itu akan membantu otaknya berkembang secara optimal.

  • Contohnya bisa diungkap sedari dini, misalnya saat anak berusia 8-12 bulan. Saat itu, menurut Piaget, anak sedang berada pada tahap koordinasi. Misalnya saat anak merangkak, terkadang orangtua menggendongnya dan melarang merangkak, karena anak bisa merangkak ke saklar. Padahal akan lebih menyenangkan jika orangtua ada di situ untuk mengawasi agar tidak berbahaya, sambil menyemangati dan memujinya. Bukankah sikap itu justru akan menumbuhkan rasa penasaran dan kreativitas dalam diri anak?

  • Iya, menuntun, bukan menggiring. Anak kan bukan hewan ternak. Ia bisa berpikir sendiri, dan memiliki kebutuhan sendiri, yang tidak selalu sama dengan orangtuanya. Jika di masa kecil ia sudah dilarang ini itu, ia akan berhenti melakukan eksplorasi. Lalu nanti besar sedikit sudah dijejali dengan kegiatan ini itu, tanpa pernah ditanya, apa sebenarnya yang ia paling suka, maka bukankah ia layaknya robot yang diprogram orangtuanya lalu menurut begitu saja? Begitu yang diungkap Nina Garcia dalam salah satu artikel di blog sleepingshouldbeeasy.com

  • Advertisement
  • Anak diberi kegiatan seperti olahraga, les musik, les membaca dan sebagainya tanpa bisa memilih, sebetulnya tidak akan menjadikan kegiatan yang dilakukannya menjadi hal yang positif. Jay Atkinson, penulis dari artikel "How Parents are ruining youth sports" menuliskan, di usia 15 tahun, sebanyak 80 persen anak muda berhenti dari kegiatan olahraga yang telah dilakukannya sejak dini. Hal ini merupakan penelitian dari Open Access Journal of Sport Magazine. Ya, sebab, kegiatan olahraga itu bukan sesuatu yang sebenarnya mereka inginkan.

  • Dalam buku Parenting with Love and Logic, pernah diungkap bahwa tugas orangtua adalah sebagai konsultan, bukan polisi. Artinya memberi anak ruang untuk membuat keputusan bagi diri mereka sendiri lalu membimbing mereka dalam merasakan konsekuensi dari keputusannya sendiri. Caranya adalah dengan lebih banyak memberikan pilihan dibandingkan menyuruh anak apa yang seharusnya dilakukan.

  • Orangtua ini menaruh beban keputusan di pundak anak dengan pilihan keputusan yang masih tetap sesuai dengan pakem orangtua, tentunya. Hal ini akan sangat berguna hingga masa remaja dan dewasa si anak, sebab mereka akan terbiasa membuat keputusan baik dalam hidupnya. Jika anak pernah merasakan konsekuensi negatif yang natural dari apa yang ia lakukan, ia akan tumbuh menjadi anak yang memiliki pertimbangan. Bahkan, saat kita menahan rasa ingin selalu menyelamatkan anak dari konsekuensi perilakunya sendiri, saat itulah momen penting yang disebut Significant Learning Opportunities terjadi dalam benak dan jiwa anak.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yuk, tuntun anak kita dan jangan menggiring mereka. Apa maksudnya?

Anak adalah sepenuh-penuhnya tanggung jawab orangtua. Karena itu, peran orangtua bukan hanya menyediakan kebutuhan primer, namun juga menjadi pendidik. Menjadi seorang pendidik, bukanlah mendikte apa yang harus dilakukan anak.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr